Astra International. Foto: Istimewa.
Astra International. Foto: Istimewa.

Laba Bersih Astra International Turun 19 Persen pada Semester I 2026, Bisnis Pertambangan Jadi Penekan Utama

Arif Wicaksono • 31 Juli 2026 08:09
Ringkasnya gini..
  • PT Astra International Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp12,53 triliun pada semester I 2026, turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp15,51 triliun.
  • Segmen otomotif tetap menjadi penyumbang laba terbesar dengan kontribusi Rp5,91 triliun atau meningkat 9 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp5,40 triliun.
Jakarta: PT Astra International Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp12,53 triliun pada semester I 2026, turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp15,51 triliun. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya kinerja segmen solusi pertambangan dan alat berat serta meningkatnya beban dari pos tidak berulang (non-recurring items).
 
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah lini usaha utama Astra masih mencatatkan pertumbuhan positif. Segmen otomotif tetap menjadi penyumbang laba terbesar dengan kontribusi Rp5,91 triliun atau meningkat 9 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp5,40 triliun.
 
Baca juga: Astra Property Perluas Portofolio, Sasar Bisnis Logistik Lewat Mega Manunggal Property

Sementara itu, segmen jasa keuangan membukukan laba bersih Rp4,64 triliun, naik 6 persen secara tahunan dari Rp4,37 triliun. Adapun segmen lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi secara persentase dengan laba Rp1,63 triliun, meningkat 31 persen dibandingkan Rp1,24 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
 
Sebaliknya, segmen solusi pertambangan dan alat berat mengalami penurunan laba paling dalam. Laba bersih segmen ini merosot 46 persen menjadi Rp2,70 triliun dari Rp5,02 triliun pada semester I 2025. Pelemahan tersebut menjadi faktor utama yang menekan kinerja keuangan Astra pada enam bulan pertama tahun ini.

Sebelum memperhitungkan pos tidak berulang, laba bersih Astra tercatat sebesar Rp14,89 triliun atau turun 7 persen dibandingkan Rp16,04 triliun pada semester I tahun lalu.
 
Adapun beban non-recurring items meningkat signifikan menjadi Rp2,35 triliun, jauh lebih besar dibandingkan Rp526 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut perseroan, pos tersebut terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar (fair value adjustment) atas investasi ekuitas serta penurunan nilai (impairment).
 
Secara keseluruhan, pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan masih menjadi penopang kinerja Astra. Namun, pelemahan bisnis pertambangan dan alat berat serta meningkatnya beban penyesuaian investasi membuat laba bersih perseroan terkoreksi pada semester I 2026. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan