Ilustrasi investasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi investasi. Foto: Medcom.id

Deposito, Emas, hingga Reksadana Sudah Punya, Tapi Apakah Kekayaan Sudah Benar-Benar Terencana?

Annisa ayu artanti • 07 Oktober 2026 18:23
Ringkasnya gini..
  • Punya deposito, emas, reksa dana, dan obligasi belum tentu membuat kekayaan terkelola optimal tanpa perencanaan dan tujuan finansial yang jelas.
  • Wealth management kini tidak hanya berfokus pada produk investasi, tetapi bagaimana setiap aset bekerja sesuai tujuan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas
  • OCBC menilai strategi pengelolaan kekayaan perlu ditinjau secara berkala agar tetap sesuai dengan perubahan kebutuhan dan tahap kehidupan nasabah.
Jakarta: Punya deposito, emas, reksadana, hingga obligasi sering dianggap sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kondisi keuangan seseorang dikelola dengan baik. Padahal, semakin banyak aset yang dimiliki tidak otomatis membuat pengelolaan kekayaan menjadi lebih optimal jika setiap investasi tidak memiliki tujuan dan fungsi yang jelas.

Berdasarkan keterangan resmi OCBC yang dilansir pada Sabtu, 5 September 2026, Premier Banking Segment Head OCBC, Stephanie Kristanto, mengatakan bahwa fokus mengelola kekayaan terletak pada bagaimana setiap aset memiliki peran untuk mencapai tujuan finansial.

“Dalam mengelola kekayaan, fokusnya bukan hanya pada produk apa yang dimiliki, tetapi bagaimana setiap aset dapat memainkan perannya dalam mencapai tujuan finansial nasabah” jelas Stephanie.

Menurut OCBC, pengelolaan kekayaan sebaiknya dimulai dengan menentukan tujuan finansial yang ingin dicapai, kemudian menyesuaikannya dengan profil risiko dan kebutuhan masing-masing. Dana yang akan digunakan dalam waktu dekat tentu membutuhkan strategi berbeda dibandingkan dana untuk pendidikan anak, persiapan pensiun, atau kebutuhan jangka panjang lainnya.  

Banyak Aset Belum Tentu Berarti Diversifikasi


Memiliki berbagai instrumen seperti deposito, obligasi, reksadana, emas, dan produk investasi lainnya juga tidak otomatis membuat portofolio terdiversifikasi. Hal yang lebih penting adalah memahami karakteristik, risiko, likuiditas, serta fungsi masing-masing aset dan memastikan semuanya saling melengkapi dalam satu portofolio.

OCBC menilai alokasi investasi merupakan keputusan strategis yang perlu disesuaikan dengan risk appetite dan aspirasi finansial setiap nasabah. Untuk membantu proses tersebut, OCBC menyediakan Wealth Report yang dapat digunakan bersama Relationship Manager (RM) untuk melakukan investment review, melihat celah atau gap dalam portofolio, serta mencari peluang optimalisasi aset.

Perencanaan kekayaan juga bukan keputusan yang cukup dibuat sekali lalu dibiarkan berjalan tanpa evaluasi. Perubahan kebutuhan, kondisi pasar, maupun tahap kehidupan seseorang dapat membuat strategi yang sebelumnya sesuai menjadi kurang relevan, sehingga portofolio perlu ditinjau secara berkala.

Pendekatan ini menjadi bagian dari pengembangan layanan Premier Banking OCBC menuju comprehensive wealth management. Dalam periode 2022 hingga Desember 2025, bisnis wealth management OCBC mencatat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sebesar 29 persen hingga melampaui Rp120 triliun, dengan solusi yang mencakup obligasi, reksa dana, bancassurance, serta berbagai instrumen investasi lainnya.

“Pada akhirnya, wealth management bukanlah tentang memiliki produk yang paling banyak atau mengejar return semata. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh kekayaan dapat dikelola dengan arah yang jelas dan memberikan value bagi nasabah, keluarga, serta rencana masa depannya,” ujar Stephanie. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan