Kinerja positif juga tercermin dari laba bersih yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan pendapatan. Hingga September 2026, Lautan Luas membukukan laba bersih sebesar Rp196 miliar, naik 63,1 persen dari Rp120 miliar pada kuartal III 2025.
Peningkatan profitabilitas tersebut sejalan dengan perbaikan margin laba kotor perseroan. Hingga kuartal III 2026, margin laba kotor mencapai 18,5 persen, naik 2,8 poin persentase dibandingkan 15,7 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi operasional, laba usaha Lautan Luas meningkat 81,6 persen menjadi Rp559 miliar, dibandingkan Rp308 miliar pada kuartal III 2025. Sementara itu, EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi tercatat sebesar Rp665 miliar, meningkat dari Rp421 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Investor Relations, Corporate Communications and ESG PT Lautan Luas Tbk Eurike Hadijaya mengatakan, pertumbuhan kinerja perseroan didukung oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual yang menguntungkan.
“Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih hingga kuartal III 2026 didukung oleh peningkatan volume penjualan serta harga jual yang menguntungkan. Kami juga mencatat perkembangan positif pada sejumlah indikator kinerja operasional dan keuangan,” ujar Eurike.
Dari sisi kontribusi bisnis, segmen distribusi menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan porsi 49 persen hingga kuartal III 2026. Segmen manufaktur menyusul dengan kontribusi 45 persen, sedangkan segmen pendukung dan jasa menyumbang 6 persen dari total pendapatan.
Pengelolaan Keuangan Makin Solid
Selain pertumbuhan bisnis, Lautan Luas mencatatkan perbaikan pada sejumlah indikator keuangan. Rasio net debt terhadap EBITDA turun menjadi 1,32 kali pada kuartal III 2026, dari 2,36 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan rasio tersebut menunjukkan posisi utang bersih yang lebih rendah relatif terhadap kemampuan menghasilkan EBITDA.
Kemampuan perseroan dalam menutup beban bunga juga meningkat. Rasio EBITDA terhadap beban bunga bersih mencapai 7,54 kali, dibandingkan 4,84 kali pada kuartal III 2025.
Sementara itu, rasio lancar atau current ratio tercatat sebesar 1,15 kali. Perseroan juga berhasil memperpendek siklus modal kerja atau working capital cycle (WCC) menjadi 52 hari, dibandingkan 56 hari pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan siklus modal kerja tersebut mencerminkan upaya perseroan mengelola kebutuhan pendanaan operasional secara lebih efisien. Pengelolaan modal kerja menjadi penting untuk menjaga kelancaran aktivitas usaha di tengah peningkatan penjualan dan kebutuhan persediaan.
Pada akhir September 2026, total aset Lautan Luas mencapai Rp7,8 triliun, meningkat dibandingkan Rp6,7 triliun pada akhir 2025. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh bertambahnya piutang usaha dan persediaan seiring dengan ekspansi pendapatan.
Peningkatan persediaan dan utang usaha juga berkaitan dengan strategi penyediaan stok untuk menjaga kelangsungan operasional serta memenuhi permintaan pelanggan. Di sisi lain, perseroan telah menjadwalkan pembayaran obligasi yang akan jatuh tempo pada November 2026.
Ke depan, Lautan Luas melanjutkan pengelolaan usaha melalui segmen distribusi, manufaktur, serta pendukung dan jasa untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri. Perseroan juga menempatkan pengelolaan keuangan dan modal kerja sebagai bagian penting dalam menjaga efisiensi operasional. Strategi tersebut diharapkan dapat mendukung kesinambungan bisnis sekaligus menjaga kemampuan perusahaan dalam merespons perubahan permintaan pasar.
“Ke depan, pengelolaan bisnis dan keuangan akan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasional Perseroan,” kata Eurike.