Penguatan juga terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 naik 1,09 poin atau 0,17 persen ke posisi 624,35.
Meski dibuka menguat, pergerakan IHSG masih dibayangi tekanan dari pasar global. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup melemah 1,19 persen ke level 6.299.
Tekanan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global, sentimen eksternal, serta pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar.
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk ketiga kalinya secara beruntun.
IHSG Dibayangi Sentimen Global
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan, sentimen global masih cenderung hawkish, tercermin dari kenaikan US Treasury 10Y ke 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007, seiring kuatnya aktivitas ekonomi AS dan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed.Di sisi lain, Brent menembus USD105 per barel akibat meningkatnya ketegangan AS–Iran dan ketidakpastian pasokan energi.
Pasar juga mencermati pertemuan Trump–Xi serta perkembangan diplomasi AS–Iran di sela UNGA, yang berpotensi memengaruhi sentimen risiko global.
Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji support 6.200–6.220 setelah kembali ditutup dibwah level 6.300 dengan indikator MACD yang memberikan signal bearish momentum dengan resistance terdekat pada 6.400-6.450.
"Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan indeks bertahan di area support tersebut serta perkembangan geopolitik dan pertemuan para pemimpin negara," kata tim riset.
Tiga Saham Masuk Radar Perdagangan
Di tengah kondisi pasar yang masih penuh tekanan, tiga saham masuk dalam stock pick yakni- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
- PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE)