Berdasarkan proyeksi IMF dalam laporan Fiscal Monitor edisi April 2026, utang pemerintah Indonesia diperkirakan mencapai USD639 miliar atau sekitar Rp11.527 triliun. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang sama dengan Belanda berdasarkan nominal utang pemerintah.
AS Pimpin Daftar Utang Pemerintah Dunia
AS berada jauh di atas negara lain dengan total utang pemerintah yang diproyeksikan mencapai USD40.739 miliar pada 2026. IMF menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi di dunia, dengan China berada di posisi kedua sebesar USD22.290 miliar dan Jepang di peringkat ketiga dengan USD8.951 miliar."Total utang pemerintah AS diperkirakan mencapai USD40.739 miliar pada 2026, tertinggi di dunia," demikian proyeksi IMF dalam laporan Fiscal Monitor edisi April 2026 yang dikutip pada Rabu 12 Agustus 2026.
Setelah tiga negara teratas, Inggris menempati peringkat keempat dengan utang USD4.418 miliar, disusul Prancis USD4.258 miliar, Italia USD3.790 miliar, Jerman USD3.523 miliar, India USD3.464 miliar, Kanada USD2.776 miliar, dan Brasil USD2.544 miliar.
| Baca Juga: Rupiah Tertekan pada Awal Perdagangan Balik Lagi ke Rp18.003 Lawan Dolar AS |
Indonesia Masuk Peringkat 19 Dunia
Indonesia berada di peringkat ke-19 dengan nominal utang pemerintah sekitar USD639 miliar, atau setara Rp11.527 triliun berdasarkan angka yang digunakan dalam proyeksi tersebut. Posisi ini menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah seiring dengan ukuran perekonomian Indonesia yang juga terus berkembang.Namun, peringkat berdasarkan nominal utang tidak otomatis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki risiko fiskal paling tinggi. Besarnya utang perlu dilihat bersama indikator lain, termasuk kemampuan negara membayar kewajiban, struktur utang, penerimaan pemerintah, serta pertumbuhan ekonomi.
Dengan kata lain, angka Rp11.527 triliun memang terlihat sangat besar, tetapi nominal utang saja belum cukup untuk menggambarkan kesehatan fiskal sebuah negara. Ada indikator lain yang justru lebih penting untuk mengetahui apakah utang tersebut masih berada dalam kondisi yang aman dan berkelanjutan.
Utang Besar Tak Selalu Berarti Risiko Tinggi
Salah satu indikator yang banyak digunakan untuk melihat beban utang adalah rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Rasio ini membandingkan jumlah utang dengan ukuran perekonomian suatu negara, sehingga memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan sekadar melihat nominal utang.IMF memproyeksikan Jepang memiliki rasio utang terhadap PDB sekitar 204 persen pada 2026, jauh di atas AS yang diperkirakan berada di kisaran 126 persen. Singapura, Sudan, dan Bahrain juga memiliki rasio utang terhadap PDB yang tinggi, menunjukkan bahwa negara dengan nominal utang lebih kecil belum tentu memiliki beban utang yang lebih ringan.
Karena itu, penilaian keberlanjutan utang juga mempertimbangkan kemampuan pemerintah memenuhi kewajibannya, struktur dan jatuh tempo utang, kondisi fiskal, serta prospek pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor tersebut menentukan seberapa besar ruang yang dimiliki pemerintah untuk mengelola kewajiban tanpa mengganggu stabilitas perekonomian. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda