Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp65,53 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp1 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan, sementara sisanya sebesar Rp64,53 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan.
Perseroan menyatakan laba ditahan tersebut akan digunakan sebagai modal kerja untuk memperkuat likuiditas operasional, mendukung pengembangan bisnis strategis, serta membiayai rencana ekspansi pada tahun-tahun mendatang.
Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk, Heru Firdausi Syarif, mengatakan keputusan memperkuat fundamental perusahaan dilakukan seiring dengan prospek industri alat kesehatan yang masih menunjukkan pertumbuhan positif.
"Kondisi industri saat ini menuntut kami untuk bergerak lebih cepat. Melalui strategi ini, manajemen ingin memastikan Perseroan tidak hanya responsif terhadap peluang baru, tetapi juga memiliki pondasi operasional yang siap menghadapi kebutuhan di lapangan," ujar Heru.
Sepanjang 2025, IRRA membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,1 triliun atau tumbuh 12,55 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Di sisi profitabilitas, laba bersih Perseroan meningkat 23,03 persen menjadi Rp65,53 miliar dibandingkan Rp53,3 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh efisiensi operasional dan optimalisasi rantai pasok yang dilakukan perusahaan.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, net profit margin IRRA meningkat menjadi 5,96 persen. Sementara itu, total aset Perseroan tercatat mencapai Rp2,43 triliun hingga akhir 2025.
Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari segmen Diagnostik In Vitro yang mencatatkan penjualan Rp693,48 miliar. Segmen Alat Kesehatan Elektromedik Steril menyusul dengan kontribusi Rp347,94 miliar, diikuti Alat Kesehatan Non-Elektromedik sebesar Rp52,88 miliar dan produk kesehatan penunjang lainnya Rp5,91 miliar.
Untuk tahun 2026, IRRA menyiapkan tiga strategi utama guna menjaga pertumbuhan. Pertama, meningkatkan kapasitas penjualan dan memperluas jaringan distribusi. Kedua, memperkuat kerja sama strategis dengan sektor swasta, pemerintah, dan principal baru. Ketiga, mendorong penjualan produk Alat Kesehatan Dalam Negeri (AKD), pengembangan teknologi medis seperti minimally invasive surgery, serta berpartisipasi dalam berbagai program kesehatan nasional.
Menurut Heru, pertumbuhan industri alat kesehatan menjadi sinyal positif bagi upaya mewujudkan kemandirian sektor kesehatan nasional.
Melalui tema "Advancing Care, Transforming Lives", Perseroan berkomitmen menjaga kelancaran distribusi alat kesehatan guna meningkatkan efektivitas perawatan dan akurasi diagnosis di seluruh Indonesia.
Memasuki semester pertama 2026, manajemen menilai permintaan terhadap alat kesehatan steril dan perangkat deteksi penyakit masih menunjukkan tren yang positif. Berbekal kinerja 2025 dan posisi keuangan yang kuat, Perseroan optimistis target operasional dan bisnis tahun ini dapat tercapai sesuai rencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News