Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

IHSG Melemah, Dana Asing hingga USD11 Miliar Terancam Keluar dari RI

Annisa ayu artanti • 04 November 2026 14:35
Ringkasnya gini..
  • Mirae Asset memperkirakan dana asing USD8-USD11 miliar berisiko keluar jika Indonesia turun kelas menjadi Standalone Market.
  • IHSG terkoreksi 3,78% ke level 4.904 pada perdagangan 3 November 2026, disertai net sell asing Rp760 miliar.
  • Tekanan pasar saham RI berpotensi berlanjut hingga Juni 2027 dengan risiko penurunan sekitar 20% dalam denominasi dolar AS.
Jakarta: Pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian statusnya dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Jika Indonesia benar-benar turun kelas menjadi Standalone Market, dana asing senilai USD8 miliar hingga USD11 miliar berpotensi keluar dari pasar domestik.

Hal itu disampaikan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Risiko reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market dinilai dapat memengaruhi arus modal asing, pergerakan harga saham, serta valuasi pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Pada perdagangan Selasa, 3 November 2026 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 3,78 persen ke level 4.904. Tekanan jual terjadi secara luas, dengan 624 saham melemah dan hanya 57 saham menguat. 

Investor asing juga mencatatkan net sell sebesar Rp760 miliar, terutama pada saham BBRI, ANTM, dan BUMI. Tekanan tersebut menunjukkan masih rapuhnya kepercayaan investor, meskipun sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan, termasuk surplus perdagangan September sebesar USD3,36 miliar dan PMI manufaktur Oktober yang
meningkat menjadi 54,0.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menempatkan reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market sebagai skenario dasar (base case).  Penilaian ini mempertimbangkan posisi default yang secara eksplisit dinyatakan MSCI, perkembangan
penegakan hukum terhadap praktik perdagangan terkoordinasi yang dinilai masih tertinggal dibandingkan Turki, serta preseden historis ketika 10 dari 12 konsultasi terkait penurunan
klasifikasi pasar yang dilakukan MSCI dalam sekitar 20 tahun terakhir berakhir dengan reklasifikasi.
 

Menurut Wilbert, penegakan hukum terhadap praktik coordinated trading menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam perkembangan status Indonesia di MSCI. 

“Penegakan hukum perlu dilakukan secara masif dan menyeluruh. Perkembangan penanganan praktik tersebut serta dampaknya terhadap kondisi pasar akan menjadi hal penting yang perlu dicermati dalam melihat kemungkinan perubahan keputusan MSCI,” jelasnya dikutip dari siaran pers, Rabu, 4 Noveber 2026.

Mengapa Status Indonesia di MSCI Jadi Ancaman bagi IHSG?


Potensi reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market dapat menempatkan sekitar USD8-USD11 miliar dana asing dalam risiko, termasuk sekitar USD3 miliar dari potensi arus keluar pasif (forced passive outflow). Risiko ini terutama terkonsentrasi pada sembilan saham kategori
MSCI Standard.

Berdasarkan preseden historis pasar yang mengalami penurunan klasifikasi, Mirae Asset memperkirakan masih terdapat potensi tekanan lanjutan sekitar 20 persen dalam denominasi dolar AS hingga keputusan MSCI pada Juni 2027. 

Namun, proyeksi tersebut merupakan skenario berbasis pengalaman historis, dengan besaran penurunan yang bervariasi antarnegara. Dari sisi valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan pada rasio forward price-to-earnings (P/E) sekitar 7,3 kali dan price-to-book value (P/BV) 1,36 kali. 

Wilbert menilai penurunan valuasi tersebut lebih mencerminkan proses de-rating akibat tekanan arus dana. Meski demikian, potensi revisi estimasi laba perusahaan tetap perlu dicermati, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang memiliki ekspektasi pertumbuhan laba relatif tinggi.

"Investor bisa menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas, mempersiapkan kas untuk sementara waktu, dan mulai mencermati saham dengan eksposur investor asing yang relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi," jelas Wilbert.

Mirae Asset menilai investor perlu mencermati perkembangan kebijakan MSCI, stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah arus modal asing dalam menentukan strategi investasi. 

Di tengah ketidakpastian tersebut, pendekatan selektif dengan memperhatikan fundamental, likuiditas, dan valuasi masing-masing emiten tetap menjadi pertimbangan penting.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan