Jakarta: Platform pendanaan digital (Pindar) Samir mencatat pertumbuhan bisnis yang signifikan sepanjang semester pertama 2026.Hingga akhir Juni, total pembiayaan yang disalurkan perusahaan mencapai Rp2,3 triliun, meningkat 84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Samir, Handy Juniandri, mengatakan peningkatan penyaluran pembiayaan tersebut diikuti oleh bertambahnya jumlah peminjam atau borrower sebesar 13% secara tahunan. Menurutnya, capaian ini mencerminkan strategi perusahaan dalam memperluas akses pembiayaan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
| Baca juga: Transisi Fintech Bergeser dari Ekspansi Menuju Penguatan Fundamental Berkelanjutan |
"Pertumbuhan pembiayaan harus diimbangi dengan tata kelola perusahaan yang baik, kualitas pembiayaan yang terjaga, serta penerapan manajemen risiko yang disiplin. Dengan fondasi tersebut, kami optimistis pertumbuhan dapat terus berlanjut secara sehat dan berkelanjutan," ujar Handy dalam keterangannya.
Handy menjelaskan, salah satu faktor yang menopang ekspansi bisnis Samir adalah semakin kuatnya kolaborasi dengan lembaga keuangan. Saat ini perusahaan telah menggandeng 11 institutional lender, termasuk tiga bank, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.
Menurutnya, bergabungnya sejumlah bank sebagai penyedia pendanaan menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap sistem pengelolaan risiko serta infrastruktur pembiayaan yang dimiliki Samir.
Perusahaan juga membuka peluang kerja sama baru dengan lembaga perbankan maupun institusi keuangan lainnya melalui skema channeling. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat sumber pendanaan sekaligus menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih stabil dan efisien.
"Kami terus menjajaki kerja sama strategis dengan sejumlah bank lain. Namun, setiap kolaborasi tetap mengedepankan penguatan manajemen risiko, tata kelola perusahaan yang baik, dan perlindungan konsumen," katanya.
Dari sisi sebaran pembiayaan, Samir mulai mencatat pertumbuhan yang lebih merata di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun Pulau Jawa masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 69%, dominasi tersebut mulai berkurang seiring meningkatnya penyaluran pembiayaan di luar Jawa.
Pulau Sumatra kini menyumbang sekitar 17% dari total portofolio pembiayaan. Sementara itu, penyaluran dana di Sulawesi dan Kalimantan juga terus bertumbuh, disusul Bali dan Nusa Tenggara, Papua, hingga Maluku yang kini telah mencapai sekitar 1% dari total pembiayaan.
Handy menegaskan, perluasan jangkauan pembiayaan ke berbagai daerah merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membutuhkan akses modal.
"Kami ingin menjadi penghubung bagi masyarakat dan pelaku UMKM yang membutuhkan pembiayaan untuk mengembangkan usahanya. Di saat yang sama, kami akan terus bekerja sama dengan OJK maupun asosiasi industri guna memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan pendanaan digital yang sehat dan bertanggung jawab," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda