| Baca juga: Lonjakan Harga Energi Gerus Margin Usaha di Singapura |
Sebelum memperhitungkan inflasi global, imbal hasil nominal tahunan GIC tercatat sebesar 5,6 persen. Kinerja tersebut dihitung menggunakan metode rata-rata bergulir selama 20 tahun, yang menjadi tolok ukur utama dalam mengevaluasi keberhasilan investasi jangka panjang lembaga tersebut.
Chief Executive Officer GIC Lim Chow Kiat mengatakan penurunan imbal hasil merupakan konsekuensi dari strategi investasi yang lebih konservatif. Menurutnya, GIC sengaja mengurangi tingkat risiko dan memperkuat diversifikasi portofolio guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin kompleks.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memang berpotensi menekan tingkat keuntungan dalam jangka pendek. Namun, strategi itu dinilai mampu memberikan perlindungan yang lebih baik saat pasar bergejolak sekaligus menjaga fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang investasi baru ketika kondisi membaik.
Sebagai pengelola cadangan devisa Singapura, GIC memiliki mandat menjaga sekaligus meningkatkan daya beli aset negara dalam jangka panjang. Dana yang dikelolanya juga menjadi salah satu kontributor terhadap anggaran nasional Singapura.
Menurut Lim, lanskap investasi global kini berubah secara mendasar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, risiko fiskal yang semakin besar, serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan terus memengaruhi arah investasi dan prospek pengembalian portofolio dalam beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, GIC tetap melihat AI sebagai salah satu peluang investasi paling menjanjikan. Dana investasi tersebut bahkan berencana menambah alokasi sekitar US$30 miliar ke hedge fund dalam tiga tahun mendatang, melanjutkan tren peningkatan investasi yang telah berlangsung selama satu dekade terakhir.
Group Chief Investment Officer GIC Bryan Yeo mengatakan perkembangan AI membuat proses pemilihan perusahaan tujuan investasi menjadi semakin rumit. Menurutnya, keberhasilan teknologi dalam jangka pendek belum tentu menjamin perusahaan tersebut akan menjadi pemenang dalam jangka panjang.
Karena itu, GIC membagi strategi investasinya ke dalam tiga kelompok, yakni perusahaan pendukung ekosistem AI, perusahaan yang telah menghasilkan pendapatan dari AI, serta perusahaan yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan bisnisnya. Pada tahap awal, investasi lebih banyak diarahkan kepada perusahaan penyedia infrastruktur AI sebelum secara bertahap bergeser ke perusahaan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi dari teknologi tersebut.
Meski optimistis terhadap prospek AI, GIC menegaskan tidak ingin seluruh portofolionya terpusat pada sektor tersebut. Menurut Yeo, peluang investasi menarik juga masih tersedia di sektor-sektor non-AI yang saat ini memiliki valuasi lebih rendah.
Dalam menentukan investasi, GIC mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari keunggulan kompetitif perusahaan, kualitas manajemen, hingga potensi pertumbuhan bisnis. Di sisi lain, lembaga tersebut juga mewaspadai berbagai risiko seperti regulasi, valuasi yang terlalu tinggi, perlambatan pertumbuhan, hingga perubahan teknologi yang dapat mengganggu model bisnis perusahaan.
Sejalan dengan perubahan kondisi global, GIC juga mulai menerapkan kerangka investasi baru sejak 1 April 2026. Melalui pendekatan tersebut, alokasi investasi tidak lagi semata-mata didasarkan pada kelas aset tradisional, melainkan pada faktor-faktor utama yang mendorong pengembalian investasi.
Portofolio strategis GIC tetap dibangun di atas tiga pilar utama, yakni ekuitas sebagai sumber pertumbuhan, pendapatan tetap untuk menghasilkan arus kas, serta aset riil sebagai pelindung terhadap inflasi. Namun, pengelolaan setiap kelompok aset kini dibuat lebih fleksibel sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan suku bunga maupun dinamika ekonomi global.
Dengan kerangka baru tersebut, GIC berharap portofolionya menjadi lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan sekaligus tetap mampu menciptakan nilai bagi cadangan negara Singapura dalam jangka panjang.
Didirikan pada 1981, GIC merupakan sovereign wealth fund milik Pemerintah Singapura yang bertugas mengelola cadangan devisa negara melalui investasi jangka panjang. Portofolionya mencakup saham, obligasi, properti, infrastruktur, private equity, hingga modal ventura di berbagai negara.
Sebagai salah satu sovereign wealth fund terbesar di dunia, GIC memiliki jaringan kantor di sejumlah pusat keuangan internasional seperti Singapura, New York, London, Beijing, Mumbai, Seoul, Tokyo, dan São Paulo. Lembaga ini juga aktif menanamkan modal di sektor teknologi, kesehatan, jasa keuangan, energi, logistik, hingga berbagai proyek infrastruktur strategis di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda