Paris: Belanja fast fashion di Eropa berpotensi makin mahal. Federasi asosiasi tekstil Eropa, Euratex, mengusulkan biaya impor sebesar 10 euro atau sekitar USD11,60 per potong untuk produk fesyen yang masuk ke Uni Eropa (UE).
Usulan ini menjadi langkah terbaru industri tekstil Eropa untuk menghadapi serbuan produk fesyen murah, terutama dari Tiongkok.
Presiden Euratex Mario Jorge Machado mengatakan kebijakan tersebut diperlukan karena industri tekstil Eropa tidak bisa hanya mengandalkan aturan yang sudah berlaku.
"Kita tidak bisa berhenti sampai di situ saja," kata Machado dikutip dari Channel News Asia.
Sebelumnya, UE telah memberlakukan bea sebesar 3 euro untuk paket-paket murah yang masuk ke wilayah blok tersebut. Kebijakan itu diterapkan antara lain karena meningkatnya beban kerja dan biaya yang harus ditanggung otoritas kepabeanan.
Nah, Euratex ingin ada tambahan biaya penanganan 10 euro. Menurut mereka, dana tersebut bisa membantu otoritas kepabeanan mengecek produk yang masuk, termasuk mengidentifikasi barang yang tidak aman atau tidak memenuhi standar UE.
Fast Fashion Tiongkok Jadi Sorotan
Usulan ini muncul ketika pemain ultrafast-fashion asal Tiongkok seperti Shein menghadapi tekanan yang makin besar di pasar global.
Kinerja Shein ikut terdampak oleh kebijakan biaya baru di UE serta pengetatan aturan serupa di Amerika Serikat, yang menjadi dua pasar utama perusahaan tersebut.
Di Prancis, pemerintah bahkan mulai menerapkan pungutan khusus untuk produk ultrafast-fashion pada Selasa (2 September). Pungutan tersebut nantinya dapat mencapai hampir 20 euro per potong pakaian.
Euratex juga meminta agar aturan baru tidak gampang dicari celahnya. Misalnya, perusahaan tidak boleh menghindari pungutan dengan cara mengimpor barang dalam jumlah besar atau memanfaatkan gudang yang berada di Eropa.
Menurut Euratex, aturan yang ketat diperlukan agar tercipta persaingan yang lebih fair bagi industri tekstil Eropa. Industri tersebut mencakup sekitar 200.000 perusahaan dan mempekerjakan sekitar 1,3 juta orang.
Namun, kebijakan biaya impor ini bukan tanpa risiko. Tiongkok sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan adanya tindakan balasan jika pungutan terhadap produk asal negaranya terus diperketat.
Di sisi lain, pasar Shein di Eropa memang sudah sangat besar. Basis pelanggannya mencapai rata-rata 156 juta pengguna per bulan pada akhir 2025.
Angka tersebut membuat Shein menjadi salah satu platform e-commerce terbesar di Eropa, meski masih berada di bawah AliExpress yang memiliki sekitar 193 juta pengguna bulanan dan Amazon dengan sekitar 180 juta pengguna.
Jika usulan Euratex diterapkan, era belanja baju murah dari platform fast fashion di Eropa bisa saja masuk babak baru. Harga murah tetap ada, tetapi biaya untuk membawanya masuk ke Eropa bakal makin mahal.