Dalam wawancara dengan Al Arabiya sebagaimana dikutip dari Antara saat melakukan kunjungan ke Kairo pada Minggu, Dar menyatakan optimisme Washington dan Teheran pada akhirnya mampu mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif.
| Baca juga: Ini 14 Poin Draf MoU Perdamaian AS-Iran yang Bocor ke Publik |
Meski demikian, ia mengakui bahwa tahapan negosiasi berikutnya kemungkinan akan menjadi lebih kompleks dibandingkan proses yang telah dilalui sejauh ini.
Dar menjelaskan kedua pihak telah menemukan titik temu terkait isu program nuklir Iran. Salah satu kesepakatan yang telah dicapai adalah pengurangan tingkat pengayaan uranium dalam persediaan nuklir Iran. Ia menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bahwa jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama untuk menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada.
"Semua pihak telah sampai pada pemahaman bahwa diplomasi merupakan jalan terbaik untuk mencapai penyelesaian," ujar Dar.
Selain membahas isu nuklir, Dar juga mengungkapkan adanya kesepakatan mengenai aktivitas
pelayaran di Selat Hormuz.
Menurutnya, selama periode 60 hari ke depan tidak akan dikenakan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas di jalur strategis tersebut. Kebijakan itu diharapkan dapat membantu menjaga kelancaran arus perdagangan dan distribusi energi global.
Ia menambahkan tidak akan ada pungutan tambahan yang dikenakan baik untuk transit maupun layanan terkait selama masa kesepakatan berlangsung.
Di sisi lain, proses negosiasi teknis terus berlanjut. Dar menyebut saat ini terdapat tiga tim teknis yang bekerja di Swiss untuk membahas sejumlah isu penting, termasuk program nuklir Iran, aset-aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri, serta perkembangan situasi politik dan keamanan di Lebanon.
Delegasi dari Amerika Serikat dan Iran diketahui tengah menggelar perundingan lanjutan di Swiss. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni lalu, yang bertujuan mengakhiri ketegangan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah sekaligus membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz.
Pembicaraan yang berlangsung di Burgenstock itu melibatkan sejumlah pejabat tinggi dari kedua negara. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara pihak Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Pakistan berperan sebagai mediator dalam proses dialog tersebut.
Perundingan ini dipandang sebagai salah satu upaya diplomatik paling penting dalam beberapa bulan terakhir. Jika berhasil menghasilkan kesepakatan yang lebih luas, langkah tersebut berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatkan stabilitas kawasan yang selama ini menjadi perhatian komunitas internasional.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda