Ilustrasi Bank Dunia. Foto: AFP/Andrew
Ilustrasi Bank Dunia. Foto: AFP/Andrew

Lembaga Bank Dunia Diimbau Dukung Akselerasi Transisi Energi di 3 Negara Asia

Ekonomi pengelolaan gas bumi Bank Dunia Gas bangladesh pakistan Energi Terbarukan Transisi Energi
Medcom • 11 Mei 2022 12:23
Amsterdam: Bank Dunia dan cabang sektor privatnya (Korporasi Keuangan Internasional) mempertahankan dukungannya terhadap infrastruktur gas fosil dan gas alam cair. Hal ini dilakukannya melalui pendanaan untuk pembangkit listrik berbahan bakar gas, saluran pipa, dan pabrik regasifikasi gas alam cair di Indonesia, Bangladesh, dan Pakistan.
 
Kedua lembaga tersebut bertanggung jawab atas model energi berbasis gas yang tidak berkelanjutan dan mudah menguap di negara-negara ini. Penelitian terbaru dari kelompok masyarakat sipil di Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh mengungkapkan, praktik Lembaga Bank Dunia -yang mendorong ketergantungan negara-negara terhadap gas fosil- memberikan dukungan untuk transisi menuju energi yang berkelanjutan dan terbarukan.
 
Melansir keterangan resminya, Rabu, 11 Mei 2022, bangsa-bangsa di dunia mulai beralih dari bahan bakar fosil untuk memenuhi target Perjanjian Paris. Namun demikian, terdapat dana sebesar USD379 miliar untuk infrastruktur gas baru yang direncanakan di Asia, yang terancam menjadi aset terdampar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun investasi gas yang terencana di Asia terdiri dari USD189 miliar pembangkit listrik berbahan bakar gas, USD54 miliar saluran pipa gas, dan USD136 miliar terminal ekspor-impor gas alam cair. Apabila direalisasikan dan dioperasikan dalam kapasitas penuh, seluruh infrastruktur tersebut akan memberikan dampak besar hingga 1,5°C pemanasan global.
 
Studi kasus yang dirilis oleh kelompok sipil di Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh ini menunjukkan bagaimana Lembaga Bank Dunia justru mendorong ketergantungan negara terhadap gas fosil, daripada menyediakan dukungan untuk proses transisi kepada energi yang berkelanjutan dan terbarukan.

Masalah Gas di Indonesia: Strategi Bank Dunia untuk Indonesia (Kerangka Kerja Sama Negara 2021-2024) mendukung "Akselerasi Pemanfaatan Gas Alam dan Biogas".

Andri Prasetiyo dari Trend Asia di Indonesia menyebutkan, perencanaan infrastruktur gas yang baru melingkupi pembangkit listrik tenaga gas, saluran pipa, pelabuhan, terminal impor gas alam cair, dan pabrik regasifikasi. Hal ini akan menghambat upaya nyata transisi ke energi bersih dan terbarukan oleh Indonesia.
 
Selain berdampak besar terhadap lingkungan dan kesehatan, emisi metana dari proyek tersebut akan berkontribusi secara signifikan terhadap emisi gas rumah kaca Indonesia di tengah krisis iklim dunia.

Masalah Gas di Pakistan: Bank Dunia dan Korporasi Keuangan Internasional telah mendukung energi gas dan gas alam cair di Pakistan yang mengakibatkan ketergantungan Pakistan terhadap gas fosil yang mahal pada 2022.

"Bank Dunia harus mengakui kebijakan mereka untuk mendukung infrastruktur gas fosil dan gas alam cair adalah sebuah kesalahan yang sangat merugikan. Hal itu juga berkontribusi besar
pada ketergantungan Pakistan terhadap impor gas alam cair di masa kini dan juga harga tunai yang sangat mahal oleh pihak penyedia," tambah Anggota Alternative Law Collective di Pakistan, Zain Moulvi.

Masalah Gas di Bangladesh: Di Bangladesh, Bank Dunia harus membuat penghapusan referensi apapun terkait eksplorasi sumber daya gas lokal dan impor gas alam cair sebagai prioritas dalam Kerangka Kerja Sama Negara Bangladesh 2022-2026.

Bank Dunia harus segera melakukan reorientasi terhadap prioritas dan pendanaannya untuk
mengakselerasi transisi energi bersih berdasarkan prinsip pencemar membayar.
 
"Penelitian-penelitian ini juga menemukan Lembaga Bank Dunia tidak berkonsultasi secara sistematis dengan masyarakat sipil di negara di mana mereka beroperasi. Kami mendesak Bank Dunia untuk mengadakan dialog transparan dan terbuka untuk merespons kebutuhan energi lokal dan isu-isu lingkungan terkait. Keterbukaan dan transparansi juga harus selalu ditanamkan dalam persiapan pendanaan dan bantuan teknis kebijakan pembangunan Bank Dunia yang baru, serta dalam investasi dan pinjaman modal oleh Korporasi Keuangan Internasional yang justru mendukung pengembangan gas fosil di dunia," jelas Fran Witt dari Recourse, Belanda.
 
Lembaga Bank Dunia harus menggunakan sumber dayanya yang terbatas untuk mendukung pemerintah negara dalam upaya akselerasi transisi dari gas fosil dan gas alam cair impor dengan memfokuskan arah kebijakannya dan memastikan ketahanan energi secara jangka panjang. Ini akan mencakup penekanan pada energi terbarukan dan penyimpanannya, termasuk fleksibilitas dan peningkatan jaringan di masa mendatang.
 
Tidak boleh ada kemunduran dalam komitmen mengatasi krisis iklim, menghapuskan bahan bakar fosil dan juga gas fosil. Target ini harus menjadi prioritas utama apabila Lembaga Bank Dunia benar-benar serius ingin menyelaraskan tujuan dengan target dari Perjanjian Paris.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif