Ekonomi Jepang. Foto: Unsplash.
Ekonomi Jepang. Foto: Unsplash.

AS Ikut Dorong Jepang Naikkan Bunga, Yen Mulai Bangkit dari Titik Terendah

Arif Wicaksono • 10 September 2026 14:31
Ringkasnya gini..
  • Jajak pendapat Reuters menunjukkan 66 dari 68 ekonom atau sekitar 97 persen responden memperkirakan BOJ menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen pada 18 September
  • Situasi ini membuat posisi Jepang menjadi cukup menarik. Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang relatif longgar.
  • Di sisi lain, yen yang melemah dan tekanan harga membuat kebijakan moneter yang terlalu longgar semakin sulit dipertahankan.

Tokyo: Bank of Japan (BOJ) diperkirakan semakin agresif menaikkan suku bunga. Bukan cuma karena tekanan inflasi dan pelemahan yen, kebijakan bank sentral Jepang kini juga mendapat sorotan dari Amerika Serikat.

Jajak pendapat Reuters menunjukkan 66 dari 68 ekonom atau sekitar 97 persen responden memperkirakan BOJ menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen pada 18 September. Angka tersebut melonjak dari 57 persen pada jajak pendapat sebelumnya.

Lebih menarik lagi, kenaikan suku bunga berikutnya juga diperkirakan datang lebih cepat. Sekitar 62 persen ekonom memperkirakan suku bunga BOJ sudah mencapai setidaknya 1,75 persen pada kuartal II 2027. Prediksi ini maju sekitar tiga bulan dibandingkan jajak pendapat Agustus.

Baca juga:   Anggota Dewan Bank Sentral Jepang Dorong Kenaikan Suku Bunga Lebih Cepat

Dorongan untuk memperketat kebijakan moneter Jepang tidak hanya datang dari dalam negeri. Lebih dari 80 persen responden survei menilai intervensi pembelian yen oleh AS dan Jepang serta pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menurunkan hambatan politik bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga.

Bessent bahkan menyuarakan dukungan terhadap langkah moneter yang lebih tegas untuk mengatasi pelemahan yen ketika bertemu dengan Gubernur BOJ Kazuo Ueda.

Situasi ini membuat posisi Jepang menjadi cukup menarik. Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang relatif longgar. Di sisi lain, yen yang melemah dan tekanan harga membuat kebijakan moneter yang terlalu longgar semakin sulit dipertahankan.

"Selama ini, sulit bagi BOJ untuk menjelaskan penyesuaian apa pun terhadap tingkat pelonggaran moneter selama pemerintah (Jepang) mempertahankan sikap fiskal yang akomodatif," ujar Yusuke Koshiyama, ekonom senior Jepang di Mizuho Research Institute dikutip dari Channel News Asia

Menurut dia, setelah Jepang mendapatkan kerja sama AS dalam intervensi terkoordinasi terbaru, pemerintah Jepang akan semakin sulit mengambil posisi yang bertentangan dengan keinginan Washington.

"Perlahan, tekanan untuk mendukung kenaikan suku bunga BOJ semakin besar," ujarnya.

Yen Mulai Mendapat Angin Segar

Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat mulai memberikan sentimen positif bagi yen. Indikasi awal repatriasi modal dan perkiraan pengetatan moneter BOJ, ditambah tekanan dari Amerika Serikat, ikut mendorong penguatan mata uang Jepang.

Pada Rabu, yen diperdagangkan di kisaran 153,37 per dolar AS. Level tersebut mendekati posisi terkuat yen sejak Februari. Dengan kata lain, pasar mulai bertaruh bahwa era suku bunga superlonggar Jepang bakal semakin mendekati akhir.

Kelvin Lam, ekonom senior Pantheon Macroeconomics, menilai ekspektasi inflasi yang meningkat lebih cepat dapat membuat BOJ perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi. "Mengingat keraguan Jepang dalam memperketat kebijakan di masa lalu, peningkatan ekspektasi inflasi yang lebih cepat mengisyaratkan bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi untuk mencapai hasil yang sama," kata Lam.

Sebanyak 89 persen analis atau 57 dari 64 responden memperkirakan suku bunga kebijakan BOJ mencapai setidaknya 1,50 persen pada akhir Maret 2027. Angka tersebut naik dari 65 persen dalam survei bulan sebelumnya. Bahkan, peluang suku bunga naik hingga 2 persen atau lebih mulai semakin diperhitungkan. Sebanyak 40 persen responden memilih level tersebut sebagai kemungkinan suku bunga puncak, naik dari 36 persen pada Agustus dan 23 persen pada Juli.

Masalah Jepang ternyata bukan hanya soal suku bunga dan yen. Permintaan anggaran pemerintah untuk tahun fiskal mendatang mencapai 143,1 triliun yen atau sekitar USD931,2 miliar. Nilainya membengkak hingga mendekati level saat pandemi Covid-19.

Besarnya anggaran tersebut membuat pasar kembali mempertanyakan seberapa kuat disiplin fiskal Jepang. Sebanyak 28 dari 38 ekonom atau hampir tiga perempat responden mengatakan besarnya permintaan anggaran meningkatkan kekhawatiran terhadap disiplin fiskal Jepang.

Kekhawatiran tersebut berpotensi meningkat ketika pemerintah mulai menetapkan besaran final anggaran dan kebutuhan penerbitan obligasi baru.

Kei Fujimoto, ekonom senior Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, mengatakan besarnya permintaan anggaran tersebut tergolong sangat tinggi untuk kondisi normal. Menurutnya, angka tersebut bahkan setara dengan anggaran tahun fiskal 2021 ketika Jepang masih menghadapi pandemi Covid-19.

Apalagi, pemerintah juga berencana memangkas pajak konsumsi untuk sejumlah bahan pangan. Kondisi ini membuat pasar keuangan semakin memperhatikan bagaimana pemerintah Jepang akan mengamankan sumber pendanaannya.

Dengan kombinasi inflasi, yen yang masih tertekan, suku bunga yang berpotensi naik lebih cepat, serta kebutuhan anggaran yang jumbo, Jepang kini menghadapi dilema besar: menjaga ekonomi tetap tumbuh atau mulai mengetatkan kebijakan untuk mengembalikan stabilitas mata uang dan harga.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan