Angka tersebut disampaikan badan penanggulangan bencana Nepal, hampir dua minggu setelah bencana terjadi pada 26 Agustus 2026. Tak hanya Nepal, bencana juga berdampak ke wilayah Tiongkok. Sebanyak 43 orang dilaporkan meninggal dunia dan 519 orang masih hilang berdasarkan laporan media pemerintah setempat.
| Baca juga: Pemerintah Nepal Tetapkan Hari Berkabung untuk Kenang Korban Banjir dan Longsor |
Jika digabungkan, jumlah korban tewas di Nepal dan Tiongkok mencapai sekitar 1.400 orang, sedangkan lebih dari 5.800 orang masih dalam pencarian.
Namun, angka tersebut masih bisa berubah. Otoritas Nepal kini terus mengumpulkan dan mencocokkan data orang hilang dari berbagai wilayah untuk mendapatkan jumlah korban yang lebih akurat.
"Kami terus mengumpulkan dan memverifikasi laporan. Hal itulah yang menyebabkan peningkatan jumlah tersebut," ujar Prakash Pokhrel, asisten juru bicara badan penanggulangan bencana Nepal, kepada AFP. dikutip dari Channel News Asia.
Menurutnya, pemerintah masih berupaya mendapatkan data yang paling mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.
Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan memasuki hari ke-14. Tim penyelamat masih menyisir sejumlah lokasi yang terdampak setelah runtuhnya gletser dan lereng gunung di dekat perbatasan Nepal-Tiongkok.
Bencana tersebut membuat jalan, jembatan, hingga rumah warga tersapu material dan aliran air. Sejumlah wilayah pun menjadi sulit dijangkau karena akses yang rusak dan kondisi medan yang berbahaya.
Salah satu fokus utama tim penyelamat kini berada di tiga proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Ratusan pekerja proyek tersebut dilaporkan hilang dan dikhawatirkan masih terjebak di dalam terowongan.
Harapan untuk menemukan korban selamat kembali muncul setelah tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga orang dari dalam terowongan. Dua warga Nepal ditemukan selamat pada Jumat, sedangkan seorang warga negara Tiongkok berhasil diselamatkan pada Sabtu.
"Operasi pencarian dan penyelamatan kami masih terus berlangsung," kata Dharam Raj Uprety, kepala badan penanggulangan bencana Nepal, kepada AFP.
"Kami berharap masih ada korban selamat di setidaknya tiga lokasi proyek tersebut, dan kami mengintensifkan operasi kami di sana," lanjutnya.
Upaya pencarian juga mendapat bantuan dari sejumlah negara. Tim ahli dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan ikut membantu operasi penyelamatan di Nepal.
Kementerian Luar Negeri Nepal juga menyatakan belum menyerah mencari kemungkinan korban yang masih hidup. Pemerintah menegaskan bahwa data orang hilang, khususnya mereka yang diduga berada di dalam terowongan, masih dalam proses verifikasi.
"Harapan untuk menemukan korban selamat masih ada, dan jumlah orang yang dilaporkan hilang di dalam terowongan belum terverifikasi," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Nepal.
Kapasitas Kamar Jenazah
Di tengah proses pencarian, Nepal juga menghadapi masalah kapasitas kamar jenazah yang sudah penuh. Polisi menyebut ratusan jenazah akhirnya dimakamkan di kuburan massal setelah sampel DNA diambil untuk membantu proses identifikasi di kemudian hari.Bencana ini juga kembali memunculkan perhatian terhadap dampak perubahan iklim. Para ahli menyebut pemanasan global mempercepat pencairan gletser di berbagai wilayah dunia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko bencana terkait gletser.
Nepal sendiri merupakan negara dengan sekitar 30 juta penduduk dan sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan pedesaan. Ironisnya, kontribusi Nepal terhadap emisi gas rumah kaca global tergolong kecil. Namun, negara tersebut justru harus menghadapi dampak besar dari perubahan iklim.
Pemerintah Nepal memperkirakan biaya untuk membangun kembali wilayah yang terdampak bencana bisa mencapai miliaran dolar.
Tantangan lainnya adalah bagaimana mengirim bantuan ke masyarakat yang kini terisolasi akibat rusaknya akses. David Fisher dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut medan menuju sejumlah wilayah terdampak sangat sulit.
Menurutnya, jalur menuju masyarakat terdampak relatif sempit dan berbahaya. Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan menjadi semakin sulit.
"Setiap penundaan berarti keluarga-keluarga tersebut harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan bantuan yang sangat mereka butuhkan," ujar Fisher.
Di tengah pencarian yang masih berlangsung, perhatian kini tertuju pada wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya bisa dijangkau. Bagi keluarga korban, proses verifikasi data dan pencarian bukan sekadar soal angka, tetapi juga harapan untuk mendapatkan kepastian tentang nasib orang-orang yang mereka cintai.