Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melalui akun X miliknya mengungkapkan bahwa suhu ekstrem telah memicu lonjakan angka kematian di berbagai negara Eropa. Menurutnya, sekitar satu juta orang kini berada di wilayah yang terdampak gelombang panas.
| Baca juga: Ancaman Gelombang Panas di Eropa, WHO: 1.300 Orang Tewas |
Selain menelan korban jiwa, cuaca ekstrem tersebut juga mengganggu aktivitas masyarakat. Sejumlah sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar, sementara sistem kelistrikan di beberapa negara mengalami tekanan akibat meningkatnya kebutuhan listrik, terutama untuk pendingin ruangan.
Beberapa negara bahkan mencatatkan suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan. Denmark, misalnya, mencatat suhu mencapai 37 derajat Celsius, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1874. Di Republik Ceko, suhu menembus 40,6 derajat Celsius untuk pertama kalinya, sedangkan Jerman mencatat suhu hingga 41,5 derajat Celsius dengan temperatur malam yang masih berada di kisaran 39,5 derajat Celsius.
Gelombang panas diperkirakan terus bergerak ke wilayah timur laut Eropa. Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah Prancis, Swiss, Jerman, Austria, dan Hongaria telah menetapkan status kewaspadaan tertinggi guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem terhadap masyarakat.
WHO mengingatkan bahwa paparan suhu yang sangat tinggi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari serangan panas (heatstroke), penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, hingga meningkatkan risiko kematian akibat komplikasi medis lainnya.
Organisasi tersebut juga mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menjaga kecukupan cairan selama gelombang panas berlangsung.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda