Kilang Minyak Bangladesh. Foto: Istimewa.
Kilang Minyak Bangladesh. Foto: Istimewa.

Bangladesh Naikkan Harga BBM hingga 17,4 Persen, Imbas Konflik Timur Tengah

Arif Wicaksono • 22 September 2026 14:28
Ringkasnya gini..
  • : Pemerintah Bangladesh menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga 17,4 persen mulai Senin, 21 September 2026. Kebijakan ini diambil ketika biaya energi dan pengiriman barang terus melonjak akibat gejolak di Timur Tengah.
  • Kenaikan harga BBM diperkirakan langsung terasa di sektor transportasi dan industri. Pasalnya, banyak sektor ekonomi Bangladesh masih bergantung pada bahan bakar impor, sehingga kenaikan biaya energi berpotensi ikut mendorong biaya produksi dan harga barang.
Jakarta: Pemerintah Bangladesh menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga 17,4 persen mulai Senin, 21 September 2026. Kebijakan ini diambil ketika biaya energi dan pengiriman barang terus melonjak akibat gejolak di Timur Tengah.

Kenaikan harga BBM diperkirakan langsung terasa di sektor transportasi dan industri. Pasalnya, banyak sektor ekonomi Bangladesh masih bergantung pada bahan bakar impor, sehingga kenaikan biaya energi berpotensi ikut mendorong biaya produksi dan harga barang.

Kondisi ini menjadi tantangan tambahan bagi industri ekspor Bangladesh, termasuk sektor garmen yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian negara tersebut. Pelaku usaha kini harus menghadapi biaya energi yang semakin tinggi di tengah margin keuntungan yang sudah terbatas.

"Agar bisnis tetap berjalan, kita harus tetap kompetitif. Pemenangnya adalah pembeli yang mampu menghadirkan produk di rak toko dengan cara tercepat dan termurah. Biaya gas, listrik, serta bahan bakar semuanya menjadi faktor penentu dalam perhitungan tersebut," ujar Mohiuddin Rubel, Direktur Pelaksana Tambahan Denim Expert Ltd, perusahaan pemasok berbagai merek, termasuk H&M.

Kementerian Energi Bangladesh menyebut harga bahan bakar internasional telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Maret 2026. Di saat yang sama, biaya pengiriman barang ikut melonjak karena ketidakstabilan kawasan Timur Tengah.

Dalam penyesuaian terbaru, harga solar naik 17,4 persen menjadi 135 taka atau sekitar US$1,11 per liter, dari sebelumnya 115 taka. Harga bensin oktan 95 naik menjadi 165 taka per liter dari 145 taka.

Sementara itu, harga bensin biasa meningkat menjadi 160 taka per liter dari sebelumnya 140 taka. Harga minyak tanah juga naik menjadi 155 taka per liter, dibandingkan 135 taka sebelumnya.

Kenaikan kali ini bukan yang pertama. Pemerintah Bangladesh sebelumnya telah menyesuaikan harga BBM pada April dan Juni untuk mengimbangi kenaikan biaya impor akibat tingginya harga minyak dunia.

Tekanan terhadap keuangan negara juga cukup besar. Bangladesh Petroleum Corporation (BPC), perusahaan minyak milik negara, mencatat kerugian hingga 228,76 miliar taka atau sekitar US$1,9 miliar sepanjang Maret-Agustus 2026.

Pemerintah memperkirakan kenaikan harga BBM terbaru dapat memangkas kerugian tahunan sekitar 100 miliar taka. Kebijakan ini juga diharapkan membantu menghemat cadangan devisa sekaligus mengurangi penyelundupan BBM ke negara-negara tetangga yang menjual bahan bakar dengan harga lebih tinggi.

Beban Subsidi Gas Alam 

Selain BBM, pemerintah Bangladesh juga menghadapi beban subsidi gas alam cair atau LNG. Pemerintah mengatakan dukungan terhadap pasokan listrik dan gas tetap diberikan meski biaya impor energi terus meningkat akibat krisis energi regional.

Namun, dari sisi industri, kenaikan harga BBM menjadi kabar yang cukup berat. Para eksportir khawatir biaya produksi dan transportasi yang lebih tinggi akan semakin menekan daya saing produk Bangladesh di pasar global.

"Kenaikan harga bahan bakar akan berdampak buruk bagi semua pihak, mulai dari masyarakat umum hingga dunia usaha dan industri. Hal ini akan memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi dan transportasi, menyebabkan hilangnya lapangan kerja, serta memaksa sejumlah perusahaan untuk melakukan pengurangan skala usaha," ujar Anwar-ul Alam Chowdhury, Presiden Bangladesh Chamber of Industries.

Chowdhury, yang juga merupakan ketua perusahaan eksportir garmen Evince Group, menilai kenaikan tersebut akan menambah tekanan terhadap perusahaan manufaktur yang sudah menghadapi krisis energi dan margin keuntungan yang tipis.

Dengan harga energi yang semakin mahal, pelaku usaha Bangladesh kini menghadapi dilema: menanggung kenaikan biaya sendiri atau meneruskannya kepada konsumen melalui kenaikan harga. Di tengah persaingan ekspor global yang ketat, pilihan tersebut sama-sama memiliki konsekuensi bagi dunia usaha.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan