Prabowo ingin pertumbuhan tersebut tidak berhenti di angka itu. Dalam pidatonya pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026, ia mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menggandakan volume perdagangan pada periode awal peninjauan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).
"Saya ingin Indonesia dan Rusia menetapkan tujuan yang jelas dan berani bagi kita bersama, yaitu melipatgandakan volume perdagangan kita selama periode awal pembentukan dan peninjauan perjanjian perdagangan bebas," usul Presiden Prabowo dikutip pada Kamis, 3 September 2026.
Target tersebut mendapat momentum dari perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (EAEU) yang diperkirakan mulai diterapkan pada 2027. Perjanjian itu diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Rusia dan negara anggota EAEU lainnya.
Indonesia-Rusia Punya Komoditas yang Saling Melengkapi
Presiden Prabowo melihat hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia memiliki peluang besar karena kekuatan kedua negara relatif saling melengkapi.Rusia memiliki sejumlah komoditas dan sumber daya yang dibutuhkan Indonesia, seperti gandum, pupuk, energi, serta teknologi dan rekayasa. Sementara Indonesia memiliki komoditas seperti kelapa sawit, kopi, perikanan, karet, tekstil, furnitur, dan barang konsumsi, serta akses ke pasar ASEAN.
Karena itu, pemerintah ingin peningkatan perdagangan tidak hanya mengandalkan komoditas yang selama ini diperdagangkan, tetapi diperluas ke berbagai sektor strategis.
Prabowo Dorong Sistem Keuangan Alternatif
Perluasan perdagangan juga membutuhkan sistem transaksi yang dapat mendukung kelancaran hubungan ekonomi kedua negara. Presiden Prabowo mendorong penggunaan sistem keuangan alternatif untuk memastikan transaksi perdagangan Indonesia dan Rusia tetap berjalan lancar.Langkah tersebut menjadi relevan di tengah fragmentasi sistem perdagangan dan keuangan global. Dalam pidatonya di EEF, Prabowo juga menyoroti pentingnya membangun jembatan kerja sama antarnegara di tengah kondisi global yang semakin terfragmentasi.