Jakarta: Tingkat keterikatan karyawan atau employee engagement di Indonesia masih tergolong tinggi. Laporan Marsh Employee Engagement 2026 mencatat skor keterikatan karyawan di Indonesia mencapai 85%, melampaui rata-rata Asia Tenggara sebesar 73% dan global sebesar 69%.
Meski demikian, capaian tersebut sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 86%. Kondisi ini menunjukkan perusahaan masih memiliki pekerjaan rumah untuk mempertahankan motivasi, loyalitas, dan keterlibatan karyawan di tengah dinamika dunia kerja.
Presiden Direktur sekaligus Workforce and Rewards Leader Marsh Indonesia, Isdar Andre Marwan, mengatakan kuatnya hubungan emosional antara karyawan dan perusahaan menjadi salah satu faktor yang menonjol dalam hasil survei tersebut.
Menurut dia, rasa bangga dan kepemilikan terhadap perusahaan turut mempengaruhi keterlibatan karyawan dalam menjalankan pekerjaan, membangun kolaborasi, hingga mempertahankan komitmen terhadap organisasi.
Namun, perusahaan perlu memastikan hubungan tersebut diimbangi dengan kejelasan arah bisnis serta dukungan yang memadai agar karyawan dapat berkembang.
Dalam laporan tersebut, keyakinan karyawan terhadap masa depan perusahaan menjadi faktor utama yang mendorong tingginya employee engagement di Indonesia. Faktor berikutnya adalah tersedianya kesempatan untuk mencapai target dan aspirasi karier dalam jangka panjang.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya peran manajemen dalam membangun kepercayaan karyawan. Komunikasi mengenai arah dan prospek perusahaan dinilai dapat membantu pekerja memahami peluang pengembangan karier mereka di dalam organisasi.
Selain itu, komunikasi antara atasan dan bawahan dalam menghadapi perubahan perusahaan juga menunjukkan hasil positif.
Sebanyak 93% karyawan di Indonesia menyatakan atasan mereka mampu menjelaskan dampak perubahan perusahaan terhadap pekerjaan masing-masing. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Tenggara yang sebesar 81%.
Meski komunikasi perubahan dinilai berjalan baik, Marsh melihat masih ada ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan keterlibatan karyawan, khususnya dengan memberikan keleluasaan lebih besar dalam menentukan metode dan pola kerja.
Isdar menilai perusahaan perlu menjaga tingginya keterikatan karyawan melalui pendekatan kepemimpinan yang memberikan ruang bagi pekerja untuk berkontribusi dan menentukan cara mereka menyelesaikan pekerjaan.
Dukungan terhadap kesehatan dan kesejahteraan karyawan juga menjadi aspek penting. Survei mencatat 83% karyawan Indonesia merasa perusahaan telah menyediakan fasilitas dan sumber daya untuk membantu mengelola stres serta menjaga kesejahteraan atau wellbeing. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Tenggara yang mencapai 71%.
Marsh menilai investasi perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dukungan yang konsisten, termasuk akses terhadap fasilitas dan sumber daya yang memadai, dapat membantu mempertahankan keterlibatan pekerja.
Laporan Employee Engagement Indonesia 2026 menggunakan data normatif Marsh 2026 yang dihimpun berdasarkan rata-rata bergulir selama tiga tahun, yakni dari hasil survei perusahaan sepanjang 2023 hingga 2025.
Untuk Indonesia, data tersebut mencakup 188.631 respons karyawan dari 110 perusahaan. Sementara itu, cakupan Asia Tenggara melibatkan 1.398.222 respons dari 402 perusahaan.
Adapun data global mencakup sekitar 13,1 juta respons karyawan dari lebih dari 1.600 perusahaan di berbagai negara. Perbandingan capaian tahunan dalam laporan ini menggunakan data normatif Marsh 2025.