Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat hampir 2.400 orang ditangkap dalam kerusuhan tersebut. Insiden itu juga menyebabkan hampir 1.000 personel kepolisian mengalami luka-luka, termasuk tujuh orang yang dilaporkan mengalami cedera serius.
Dalam pidatonya pada kemarin, dikutip dari Channel News Asia, Macron menyatakan kemarahannya atas kerusakan yang terjadi di berbagai wilayah. Sejumlah balai kota dibakar, sementara ratusan tempat usaha menjadi sasaran perusakan dan penjarahan.
Baca Juga :
Macron Minta Hentikan Perang Saat Idulfitri
Ia menegaskan pemerintah perlu membedakan warga yang menyampaikan aspirasi secara sah dengan kelompok yang memanfaatkan demonstrasi untuk melakukan tindak kriminal.
Macron juga membuka kemungkinan pemerintah daerah melarang demonstrasi tertentu dalam beberapa hari ke depan apabila situasi dinilai memerlukan langkah tersebut. Meski demikian, ia belum mengumumkan kebijakan pembatasan yang lebih luas.
Presiden Prancis itu memperingatkan bahwa pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap kelompok yang dianggap memicu kekerasan. Ia menuding kelompok ultra-kiri dan sejumlah pelaku kriminal berada di balik kerusuhan yang menyebar ke berbagai kota.
Bentrokan Berlanjut di Paris
Ketegangan belum mereda pada Minggu. Wartawan AFP melaporkan polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan ratusan orang yang berkumpul di sebuah alun-alun di Paris. Pertemuan tersebut berlangsung setelah seruan melalui media sosial, meskipun menurut pihak berwenang kegiatan itu tidak mendapat izin.
Sejumlah orang melemparkan botol dan batu ke arah petugas. Polisi kemudian menangkap 42 orang, sementara sedikitnya lima toko di sekitar Place de la République dilaporkan dijarah.
Kerusakan juga terjadi di sejumlah kawasan lain di ibu kota. Beberapa toko mengalami pecah kaca dan pemerintah kota meminta sejumlah tempat usaha menghentikan operasionalnya.
Di Lyon, kota di bagian tenggara Prancis, polisi berhadapan dengan sekelompok pemuda yang berupaya menjarah sebuah toko pakaian mewah. Sebuah kantor pariwisata di pusat kota itu juga terbakar saat rangkaian demonstrasi dan bentrokan berlangsung.
Sementara itu, di Limoges, kebakaran menghanguskan balai kota yang merupakan bangunan bersejarah dari abad ke-19. Prefek setempat, Maurice Barate, mengatakan kepada saluran berita LCI bahwa kebakaran tersebut diduga sengaja dipicu oleh sekelompok orang.
Kerusuhan turut menimbulkan korban luka serius. Di Saint-Etienne, seorang remaja berusia 17 tahun mengalami cedera pada tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa. Di Mulhouse, seorang remaja perempuan berusia 17 tahun dilaporkan kehilangan penglihatan pada salah satu matanya, menurut keterangan jaksa.
Tekanan Politik terhadap Macron
Kerusuhan ini menambah tekanan politik terhadap Macron menjelang pemilihan presiden mendatang. Macron tidak dapat kembali mencalonkan diri karena batas masa jabatan, sementara Marine Le Pen dari partai sayap kanan National Rally disebut unggul dalam sejumlah jajak pendapat.
Le Pen menilai situasi tersebut mencerminkan pemerintahan Macron yang kehilangan arah dan kehabisan energi dalam menangani persoalan negara.
Dari kubu kiri, pemimpin France Unbowed, Jean-Luc Mélenchon, juga memperingatkan bahwa situasi berpotensi berkembang menjadi peristiwa yang semakin sulit dikendalikan.
Menanggapi kritik tersebut, Macron menegaskan bahwa Prancis membutuhkan proses pemilihan presiden yang berlangsung melalui perdebatan politik, bukan kekerasan di jalanan.
Ia juga meminta Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengevaluasi penanganan situasi, khususnya terkait pengumpulan informasi intelijen dan kemampuan aparat mengantisipasi potensi kerusuhan. Macron mengatakan dirinya mengharapkan penjelasan yang jelas mengenai langkah perbaikan yang akan dilakukan.
Sejumlah politikus oposisi bahkan mendesak agar Nuñez dicopot dari jabatannya.
Macron berjanji pemerintah akan berkoordinasi dengan para wali kota untuk melindungi warga, fasilitas publik, dan tempat usaha. Pemerintah juga akan memberikan dukungan kepada pelaku usaha yang terdampak serta menjamin keterbukaan mengenai tindakan aparat selama menghadapi demonstrasi.
Protes Dipicu Biaya Hidup
Aksi pada Sabtu melibatkan berbagai kelompok, termasuk serikat pekerja, pelajar, serta pendukung gerakan Rompi Kuning yang sebelumnya mengguncang pemerintahan Macron. Demonstrasi tersebut mencerminkan kemarahan masyarakat terhadap tingginya biaya hidup dan kekhawatiran mengenai prospek ekonomi generasi muda.Gerakan Rompi Kuning sendiri dikenal sebagai gerakan protes yang muncul pada masa awal kepresidenan Macron dan menyoroti persoalan biaya hidup serta kebijakan pemerintah.
Kerusuhan yang terjadi kali ini kembali memunculkan perdebatan mengenai kemampuan pemerintah menjaga ketertiban sekaligus merespons tuntutan sosial masyarakat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi situasi tersebut melalui unggahan di media sosial. Ia mengaitkan kerusuhan di Prancis dengan imigrasi dan menuding masuknya orang-orang dari latar belakang berbeda telah berkontribusi terhadap memburuknya keadaan.
Pernyataan Trump menambah dimensi politik dalam sorotan internasional terhadap kerusuhan tersebut, di tengah perdebatan di Prancis mengenai biaya hidup, keamanan, dan kebijakan pemerintah.
Di lapangan, dampak kekerasan masih membekas. Mehmet Ozeden, warga Paris berusia 78 tahun, menggambarkan situasi yang disaksikannya sebagai sesuatu yang menyerupai perang. Ia menyampaikan komentar tersebut kepada AFP di tengah barikade jalan yang terbakar setelah demonstrasi pada Sabtu.
Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk meredakan ketegangan, memulihkan keamanan, serta menjawab kritik atas penanganan demonstrasi. Besarnya jumlah penangkapan, kerusakan fasilitas publik, dan jatuhnya korban luka membuat respons pemerintah menjadi perhatian utama dalam beberapa hari mendatang.