Jakarta: Kehadiran ZARFIX dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi momentum bagi perusahaan teknologi karya anak bangsa tersebut untuk memperkenalkan ekosistem digital berbasis Artificial Intelligence (AI) dan blockchain.
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 dan menjadi forum musyawarah tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ZARFIX hadir di area bazar dan expo yang menjadi bagian dari kegiatan ekonomi selama pelaksanaan muktamar.
Di balik pengembangan ZARFIX terdapat Muhammad Ayyash Nahdi, Founder & Visionary Chairman ZARFIX. Founder muda Indonesia itu membawa visi menjadikan teknologi sebagai instrumen untuk mendorong kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan digital global.
Ayyash mengembangkan ZARFIX sebagai ekosistem teknologi yang mengintegrasikan marketplace, AI Engine, serta berbagai sistem pendukung bisnis. Ekosistem tersebut dirancang untuk memperluas akses teknologi bagi pelaku usaha, khususnya UMKM di negara-negara emerging market.
Menurut Ayyash, ZARFIX tidak dibangun sekadar sebagai marketplace. Perusahaan tersebut lahir dari keresahan terhadap masih terbatasnya integrasi teknologi dalam proses bisnis pelaku usaha, termasuk UMKM.
“Sejak awal, ZARFIX tidak kami bangun hanya untuk menjadi sebuah marketplace. Ada visi yang lebih besar, yaitu bagaimana teknologi bisa menjadi alat bagi pelaku usaha Indonesia untuk tumbuh, menjadi lebih produktif, dan mempunyai daya saing yang semakin kuat,” ujar Ayyash.
Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia perlu diikuti dengan kemampuan bangsa dalam menciptakan dan menguasai teknologi sendiri. Karena itu, ZARFIX berupaya menghubungkan teknologi, data, dan proses bisnis dalam satu ekosistem yang dapat digunakan mulai dari UMKM hingga perusahaan berskala besar.
Dalam pengembangannya, AI diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sementara teknologi blockchain dimanfaatkan untuk mendukung transparansi dalam sistem bisnis.
Ayyash juga menyoroti pentingnya kedaulatan digital Indonesia di tengah percepatan transformasi teknologi global. Menurutnya, Indonesia dengan jumlah pengguna digital dan potensi ekonomi yang besar tidak seharusnya hanya menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan negara lain.
“Indonesia tidak boleh selamanya hanya dikenal sebagai pasar yang besar bagi teknologi dunia. Kita juga harus berani menjadi pencipta. Kita punya talenta, kebutuhan pasar, dan kemampuan untuk membangun teknologi sendiri,” katanya.
Menurut Ayyash, tantangan Indonesia bukan hanya terletak pada kemampuan teknis, tetapi juga keberanian membangun produk, konsistensi mengembangkan ekosistem, serta dukungan agar inovasi lokal dapat berkembang dari skala nasional menuju pasar global.
ZARFIX menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut. Perusahaan mengembangkan integrasi AI dan blockchain sebagai bagian dari infrastruktur bisnis yang ditujukan untuk mendukung efisiensi, transparansi, skalabilitas, dan pertumbuhan usaha.
“Saya percaya Indonesia punya inovator dengan kemampuan yang tidak kalah dengan negara lain. Yang harus kita bangun adalah kepercayaan diri untuk tidak berhenti sebagai pengguna teknologi,” ujar Ayyash.
Perjalanan Ayyash dalam membangun ZARFIX juga memiliki pengalaman internasional. Ia pernah menempuh pendidikan di Istanbul, Turki, sebagai penerima beasiswa di Kapten Ahmed Erdogan International Imam Hatip School.
Pada 2025, ZARFIX terpilih melalui proses kurasi untuk berpartisipasi dalam Take Off Istanbul, Turki, yang merupakan salah satu ajang startup dan investor internasional. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya ZARFIX memperluas jejaring sekaligus membuka peluang pengembangan produk ke pasar global.
Sementara itu, kehadiran ZARFIX dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi momentum untuk mempertemukan inovasi teknologi dengan komunitas serta pelaku ekonomi masyarakat.
Bagi Ayyash, forum tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan ZARFIX, tetapi juga menunjukkan bahwa teknologi karya anak bangsa dapat hadir di tengah komunitas dan memiliki relevansi dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Ia berharap Indonesia ke depan tidak hanya dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna teknologi digital yang besar, tetapi juga sebagai negara yang mampu melahirkan inovasi dan teknologi yang digunakan secara luas di tingkat internasional.
“Suatu saat ketika dunia berbicara mengenai perkembangan teknologi, Indonesia tidak hanya dikenal karena jumlah pengguna digitalnya. Kita juga harus dikenal sebagai bangsa yang melahirkan inovasi dan teknologi yang digunakan oleh masyarakat dunia,” tutup Ayyash.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan