Namun di balik pencapaian itu muncul persoalan baru, yaitu jaringan listrik yang belum sepenuhnya mampu menampung energi bersih yang dihasilkan.
Pembangkit dari sumber non fosil seperti surya, angin, hidro dan nuklir sempat memenuhi lebih dari separuh kebutuhan listrik puncak India untuk kedua kalinya pada Juli 2026.
“Hal ini menunjukkan bahwa energi terbarukan bukan lagi sumber marginal yang berada di pinggiran sistem tenaga listrik,” kata CEO ReNew Power, salah satu perusahaan energi bersih terbesar di India, Sumant Sinha, dilansir dari laman BBC pada Sabtu, 26 September 2026,
Sepuluh tahun lalu, kapasitas energi terbarukan India masih berada di kisaran 4 GW. Kini, angka tersebut melonjak drastis mencapai 300,50 GW per 31 Juli 2026, yang terdiri dari surya 164,59 GW, angin 58,14 GW, hidro 57,24 GW, bioenergi 11,75 GW dan nuklir 8,78 GW.
Pencapaian itu berarti kapasitas nonfosil sudah menyumbang lebih dari 54 persen dari total kapasitas listrik India yang sekitar 552 GW dan telah melampaui 60 persen dari target 500 GW pada 2030.
Baca Juga :
Dukung Program PLTS 100 GWp, PLN-Pemprov Bali Kolaborasi Percepat Pengembangan Infrastruktur Energi Bersih
Energi Bersih Tumbuh Cepat, tapi Terkendala Jaringan dan Dana
Pertumbuhan energi yang tidak diimbangi dengan pertambahan kapasitas jaringan transmisi menyebabkan produksi energi terbarukan harus dikurangi. Analisis Ember mencatat bahwa pada kuartal pertama 2026, sekitar 300 GWh energi terbarukan terpaksa dikurangi produksinya akibat kendala transmisi.
Situasi tersebut terjadi karena pembangunan transmisi membutuhkan waktu lebih panjang akibat persoalan pembebasan lahan, hak lintasan, perizinan dan koordinasi berbagai lembaga. Permasalahan tersebut mengakibatkan sebagian besar energi bersih yang dihasilkan terbuang sia-sia.
Salah satu solusi yang dapat membantu India memanfaatkan listrik terbarukan ketika produksi adalah penyimpanan energi, terutama baterai atau storage.
Namun masalahnya adalah, pembangunan storage juga membutuhkan investasi besar, sementara India masih menghadapi tantangan pembiayaan energi bersih dan pembangunan transmisi. (Wisa Irena Br Sitepu)