Jakarta: Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater kini semakin dekat dengan keseharian masyarakat, termasuk generasi muda. Mulai dari membeli kebutuhan mendesak, membayar transaksi harian, hingga mengatur pengeluaran bulanan, paylater menawarkan fleksibilitas dalam mengelola arus kas.
Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diimbangi dengan pemahaman soal risiko. Sebab, pengalaman menggunakan paylater bukan hanya soal seberapa cepat transaksi bisa dilakukan, tetapi juga bagaimana penyedia layanan mengelola risiko dan melindungi penggunanya.
Bagi perusahaan pembiayaan digital, manajemen risiko menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Tata kelola yang dilakukan secara prudent dapat berpengaruh langsung terhadap pengalaman pengguna, mulai dari proses penagihan yang tertib, perlindungan data pribadi, penetapan limit pembiayaan yang sesuai kemampuan, hingga informasi bunga dan biaya yang transparan.
Baca juga: Akses Pinjaman Digital Meluas, Ini Pentingnya Jaga Arus Kas |
Salah satu perusahaan yang menerapkan pendekatan tersebut adalah PT Indodana Multi Finance atau Indodana Finance. Sebagai perusahaan pembiayaan yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indodana Finance menerapkan Governance, Risk, and Compliance (GRC) terintegrasi berbasis teknologi melalui pendekatan Intelligent GRC.
Pendekatan tersebut membuat pengelolaan risiko tidak hanya dilakukan ketika muncul masalah. Data dan teknologi digunakan untuk membantu perusahaan memantau risiko sekaligus mengambil keputusan secara lebih cepat dan terukur.
Dengan pemanfaatan data dan risk intelligence, fungsi pengawasan juga diarahkan menjadi bagian dari strategi bisnis. Tujuannya, pertumbuhan perusahaan tetap berjalan dengan memperhatikan kualitas portofolio pembiayaan dan keamanan pengguna.
Direktur PT Indodana Multi Finance Iwan Dewanto mengatakan tata kelola yang kuat menjadi salah satu fondasi untuk membangun kepercayaan dalam industri pembiayaan.
“Penerapan GRC yang kuat merupakan pondasi utama dalam membangun kepercayaan jangka panjang bagi masyarakat, mitra bisnis, dan regulator. Melalui pendekatan Intelligent GRC, kami mengubah fungsi pengawasan menjadi mitra strategis yang memberikan risk intelligence secara tepat untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Iwan Dewanto.
Menurut perusahaan, penerapan tata kelola dan manajemen risiko tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan laba serta kualitas Non-Performing Financing (NPF) yang tetap terjaga.
Bagi pengguna paylater, hal ini menjadi pengingat bahwa memilih layanan pembiayaan digital sebaiknya tidak hanya melihat promo, kemudahan transaksi, atau besarnya limit yang ditawarkan.
Tumbuh Bukan Cuma Soal Transaksi
Perkembangan layanan keuangan digital juga perlu dibarengi dengan edukasi agar masyarakat semakin memahami cara menggunakan produk keuangan secara bertanggung jawab.
Bagi generasi muda yang terbiasa dengan transaksi digital, memahami bunga, biaya, tenor, limit, serta kemampuan membayar kembali menjadi bagian penting sebelum menggunakan layanan paylater.
Di sisi penyedia layanan, pertumbuhan bisnis juga perlu diikuti dengan tata kelola yang baik. Integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan pemanfaatan data dalam pengelolaan risiko dapat membantu perusahaan menjaga kualitas pembiayaan sekaligus memperluas inklusi keuangan.
Dengan begitu, fleksibilitas yang ditawarkan paylater tidak berubah menjadi beban finansial bagi pengguna. Pada saat yang sama, perusahaan dapat menjaga kualitas layanan dan keberlanjutan bisnis.
Indodana Finance menyatakan akan terus meningkatkan tata kelola melalui pemanfaatan teknologi, data, dan risk intelligence, sekaligus memperkuat penerapan prinsip ESG dalam menjalankan bisnis.
“Indodana Finance berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola melalui pemanfaatan teknologi, data, dan risk intelligence, sekaligus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam menjalankan bisnis Perusahaan yang sehat,” tegas Iwan.