Jakarta: Ekosistem e-sports ternyata tidak hanya milik mereka yang bertarung di panggung megah berlampu sorot dengan gemuruh ribuan penonton. Di luar arena kompetisi utama, ada ruang rezeki baru bagi para pengulas kreatif. Keberhasilan Andika Yulian Saputra (21), atau yang akrab disapa Kabol, menjadi bukti nyata bahwa ruang ulasan digital memiliki potensi ekonomi yang tak kalah hebat.
Mahasiswa program sarjana Universitas PGRI Madiun ini berhasil mencatatkan capaian spektakuler: mengantongi omzet hingga Rp 24 juta hanya dalam siaran satu malam di platform TikTok melalui akunnya, @kaabol7. Momentum berharga tersebut ia dapatkan saat memandu ulasan babak pertama Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall. Tak hanya nominal rupiah yang melejit, jumlah pengikut akunnya pun melonjak drastis dari 2 ribu menjadi 13 ribu orang dalam semalam.
Menariknya, Kabol bukanlah atlet profesional yang bertanding di atas panggung. Ia murni mengambil peran sebagai pengulas independen yang membuka ruang diskusi interaktif bersama penonton seusai pertandingan. Seluruh aktivitas siaran tersebut ia kerjakan dari kamar rumahnya di Madiun dengan peralatan yang sangat bersahaja: dua unit ponsel dan satu kipas angin. Tanpa menayangkan ulang siaran resmi demi menghormati hak cipta, Kabol murni mengandalkan kedalaman analisis dan daya tarik komunikasinya.
"Menyiarkan ulang itu bukan hak saya. Jadi saya nonton dulu, selesai pertandingan baru saya live," tutur Kabol saat dihubungi.
Dalam mengelola kanal digitalnya, Kabol menerapkan strategi dua pintu yang terencana. Live streaming malam hari ia manfaatkan khusus untuk merawat hubungan dengan audien setia, sedangkan potongan klip video pendek diunggah pada siang hari sebagai umpan untuk menggaet pemirsa baru.
"Live itu untuk yang sudah kenal saya. Klipnya yang mencari penonton baru," jelas Kabol.
Pengamat ekonomi kreatif Ratna Puspitasari menilai fenomena kreator non-pemain seperti Kabol menunjukkan betapa luasnya rantai nilai ekonomi e-sports yang belum tergarap maksimal di daerah. Menurut Ratna, kunci keberhasilan kreator daerah bukanlah keberuntungan sesaat, melainkan kedisiplinan dan konsistensi jadwal siaran.
"Orang menyangka kreator daerah tumbuh karena satu video viral. Data perilaku menunjukkan sebaliknya," terang Ratna. "Yang menahan audiens adalah keterulangan. Jam tayang yang tetap membangun kebiasaan, dan kebiasaan jauh lebih tahan lama daripada algoritma."
Ratna menambahkan, fenomena ini tumbuh di tengah pesatnya industri gim nasional yang mencatatkan nilai perputaran Rp 25 triliun pada 2022. Namun, Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional dinilai masih fokus pada pengembang dan belum menjangkau lapisan kreator arus bawah di daerah.
"Perpres itu menyasar pengembang gim. Itu benar dan memang perlu," jelas Ratna. "Tapi ada lapisan kreator di bawahnya, jumlahnya jauh lebih besar dan tersebar di kota-kota kecil, yang sama sekali tidak tersentuh kebijakan apa pun."
Meski mampu mengumpulkan puluhan juta rupiah dari apresiasi penonton dalam waktu singkat, Kabol memilih untuk tetap menginjak bumi. Ia sangat menyadari bahwa pendapatan siaran digital sangat terikat pada kalender turnamen yang bersifat musiman.
"Bulan ini lumayan karena ada turnamen besar. Bulan depan belum tentu ada. Saya belum berani bilang ini pekerjaan, ini masih penghasilan tambahan," ujar Kabol realistis.
"Sikap dewasa Kabol sejalan dengan pandangan dosennya di Universitas PGRI Madiun, Bagus Prasetyo, yang selalu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara rezeki digital dan akademis.
"Ini bukan pengganti ijazah, dan ijazah juga bukan jaminan. Keduanya adalah aset. Mahasiswa yang memiliki dua-duanya berada di posisi paling aman," tegas Bagus.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan