Jakarta: Perbankan nasional menghadapi kebutuhan konektivitas yang terus berubah seiring akselerasi transformasi digital. Infrastruktur teknologi kini dituntut bukan hanya mampu menampung lalu lintas data dalam jumlah besar, tetapi juga bisa menyesuaikan kapasitas secara cepat ketika kebutuhan bisnis meningkat.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Lintasarta Executive Dialogue bertajuk Mastering Digital Infrastructure in the Intelligent Banking Era Through Bandwidth on Demand (BWoD) yang digelar Lintasarta bersama Infobank di Jakarta.
Forum ini mempertemukan pimpinan bank nasional dan multinasional yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), dan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda). Sejumlah pejabat Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut hadir untuk membahas kesiapan infrastruktur digital dalam menghadapi perubahan industri perbankan.
Salah satu tantangan yang dibahas ialah kebutuhan kapasitas jaringan yang tidak selalu sama setiap waktu. Aktivitas perbankan dapat mengalami lonjakan trafik data ketika memasuki periode month-end dan year-end closing, pemrosesan gaji, pemulihan bencana, hingga peluncuran aplikasi baru.
Lonjakan kebutuhan juga dapat terjadi di luar jadwal rutin. Kondisi tersebut membuat bank membutuhkan infrastruktur yang tidak hanya stabil, tetapi juga fleksibel untuk merespons perubahan operasional tanpa mengganggu layanan kepada nasabah.
President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan mengatakan transformasi digital perbankan membutuhkan dukungan infrastruktur yang mampu mengikuti dinamika bisnis secara cepat.
“Infrastruktur digital tidak cukup hanya berkapasitas besar, tetapi harus mampu beradaptasi secara cepat, fleksibel, dan terukur,” ujar Armand.
Menurut dia, kebutuhan kapasitas konektivitas dapat berubah mengikuti aktivitas seperti penutupan buku bulanan dan tahunan, pemrosesan gaji, disaster recovery, peluncuran aplikasi, maupun kondisi tidak terjadwal. Karena itu, konektivitas perlu berkembang dari model yang bersifat tetap (fixed) menjadi lebih adaptif.
Armand menjelaskan, terdapat empat kapabilitas penting yang perlu dimiliki infrastruktur digital perbankan. Pertama, agile untuk merespons perubahan. Kedua, scalable agar kapasitas dapat disesuaikan. Ketiga, resilient untuk menjaga keandalan layanan. Keempat, kesiapan menghadapi periode beban puncak, pemulihan bencana, dan tuntutan regulasi.
Menjawab kebutuhan tersebut, Lintasarta memperkenalkan solusi Bandwidth on Demand (BWoD). Layanan ini memungkinkan bank menyesuaikan kapasitas bandwidth secara lebih fleksibel, termasuk meningkatkan atau menurunkannya sesuai kebutuhan operasional.
Armand mengatakan, setelah proses penyiapan awal selesai, perubahan bandwidth dapat dilakukan secara mandiri melalui platform Ultima tanpa harus melalui pemesanan manual atau instalasi baru. Penyesuaian kapasitas dilakukan berdasarkan layanan yang digunakan pelanggan, dengan dukungan hingga 1.000 Mbps pada tingkat layanan tertentu.
“Kami ingin memberikan agility kepada bank untuk mengelola kapasitas connectivity sesuai kebutuhan operasionalnya,” kata Armand.
BWoD merupakan salah satu implementasi Lintasarta Intelligent Core, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan pelanggan, Super Apps Ultima, Intelligent Core Engine, dan jaringan inti (core network). Integrasi tersebut dirancang untuk mendukung proses eksekusi secara waktu nyata (real-time execution) dan pengambilan keputusan otomatis (autonomous decisioning).
Dengan pendekatan ini, pengelolaan konektivitas diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien. Bank dapat menyesuaikan kapasitas jaringan dengan kebutuhan layanan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada proses manual.
Untuk tahap awal, BWoD tersedia di 84 kota di Pulau Jawa pada 2026. Lintasarta berencana memperluas cakupan layanan secara bertahap menuju jangkauan nasional.
“Inovasi ini memperkuat komitmen kami sebagai mitra infrastruktur digital perbankan dengan connectivity yang lebih adaptif terhadap kebutuhan bisnis,” pungkas Armand.
Anggota Dewan Komisioner OJK periode 2022–2026 Sophia Isabella Wattimena menilai penguatan infrastruktur teknologi menjadi bagian penting dalam keberlanjutan transformasi digital perbankan.
“Transformasi digital perbankan perlu berjalan seiring penguatan kapabilitas infrastruktur teknologi. Keandalan, keamanan, manajemen risiko, dan kemampuan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan industri menjadi semakin penting,” tutup Sophia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan