Suasana Institutional Summit. (Foto: Dok. Ist)
Suasana Institutional Summit. (Foto: Dok. Ist)

Aset Digital Indonesia Makin Matang, Stablecoin dan Tokenisasi Jadi Perhatian

Medcom • 26 Agustus 2026 09:00
Ringkasnya gini..
  • ICEx Group, yang terdiri dari Indonesia Crypto Exchange (ICEx), Crypto Asset Clearing International (CACI), dan International Crypto Custodian (ICC), menggelar Institutional Summit Powered by ICEx Group di Bali, 21 Agustus 2026.
  • Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Coinfest Asia 2026 sekaligus mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor keuangan dan aset digital. Forum ini melibatkan pelaku pasar, regulator, institusi keuangan, penyedia infrastruktur, hingga pemimpin teknologi.
  • Institutional Summit menjadi salah satu forum institusional dengan format khusus yang digelar dalam rangkaian Coinfest Asia. Diskusi diarahkan untuk membahas bagaimana perkembangan digital finance dapat diterjemahkan menjadi peluang konkret bagi institusi.
Denpasar: ICEx Group, yang terdiri dari Indonesia Crypto Exchange (ICEx), Crypto Asset Clearing International (CACI), dan International Crypto Custodian (ICC), menggelar Institutional Summit Powered by ICEx Group di Bali, 21 Agustus 2026.
 
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Coinfest Asia 2026 sekaligus mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor keuangan dan aset digital. Forum ini melibatkan pelaku pasar, regulator, institusi keuangan, penyedia infrastruktur, hingga pemimpin teknologi.
 
Institutional Summit menjadi salah satu forum institusional dengan format khusus yang digelar dalam rangkaian Coinfest Asia. Diskusi diarahkan untuk membahas bagaimana perkembangan digital finance dapat diterjemahkan menjadi peluang konkret bagi institusi.

Bahas Stablecoin hingga Tokenisasi Aset

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti empat sesi diskusi tertutup dengan durasi masing-masing 90 menit. Pembahasan berfokus pada sejumlah isu utama, mulai dari stablecoin, tokenisasi aset, hingga kesiapan institusi dalam mengadopsi aset digital.

Beberapa topik yang dibahas antara lain peran stablecoin dalam sistem pembayaran korporasi di Asia, kesiapan institusi mengadopsi aset yang telah ditokenisasi, potensi real-world assets (RWA) untuk berkembang dalam skala besar, serta tokenized money market funds sebagai salah satu jalur masuk institusi ke pasar aset digital.
 
Berbagai pandangan dan hasil diskusi dari empat sesi tersebut nantinya akan dirangkum dalam sebuah laporan. Laporan itu diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi para pemangku kepentingan dalam mengembangkan kerangka regulasi stablecoin dan tokenisasi di Indonesia.
 
Salah satu kesimpulan penting yang muncul dari diskusi adalah bahwa adopsi institusional tidak cukup hanya mengandalkan inovasi teknologi.
 
Institusi juga membutuhkan kejelasan regulasi, standardisasi infrastruktur, sistem penyelesaian transaksi, manajemen risiko, likuiditas, serta kesiapan operasional agar aset digital dapat diadopsi secara aman dan berkelanjutan.

Pasar Kripto Indonesia Terus Berkembang

Diskusi mengenai masa depan aset digital tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan pasar kripto Indonesia.
 
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 22,69 juta investor, dengan nilai transaksi mencapai Rp28,58 triliun pada Juni 2026.
 
Pertumbuhan tersebut juga berlangsung di tengah penguatan harga Bitcoin di pasar global. Harga aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu tercatat meningkat dari sekitar US$65.000 menjadi lebih dari US$80.000 dalam periode yang sama.

Hadirkan Regulator dan Pengambil Kebijakan

Institutional Summit turut menghadirkan sejumlah tokoh yang memiliki peran dalam membentuk arah sektor keuangan dan aset digital Indonesia.
 
Beberapa di antaranya adalah Dr. Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI; Mohamad Hekal, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI; Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi; Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK; serta Pantro Pander Silitonga, Executive Director Dewan Ekonomi Nasional.
 
Pantro juga menyampaikan keynote mengenai agenda Indonesia dalam membangun pusat keuangan internasional serta peluang yang dapat tercipta bagi ekosistem keuangan nasional.
 
CEO ICEx Group, Kai Hamza Pang, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pasar penting di Asia dalam perkembangan infrastruktur keuangan generasi baru.
 
“Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pasar penting di Asia bagi generasi baru infrastruktur keuangan. Kami melihat pasar aset keuangan digital Indonesia yang semakin besar dan matang, sementara peluang berikutnya jauh lebih luas, mulai dari stablecoin dan tokenized funds hingga real-world assets,” ujar Kai.
 
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan tersedianya infrastruktur, keselarasan regulasi, serta kepercayaan dari institusi agar peluang tersebut dapat diwujudkan secara bertanggung jawab.

Tandai Tiga Kolaborasi Strategis

Dalam rangkaian kehadirannya di Coinfest Asia 2026, ICEx Group juga menandai tiga kolaborasi strategis.
 
Kolaborasi tersebut meliputi ICC dengan Ceffu, ICC dengan BitGo, serta CACI dengan Bank Nobu. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan infrastruktur kustodian dan kliring yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan institusi.
 
Institutional Summit turut mendapat dukungan dari Solana, Bank Nobu, BitGo, Chainalysis, HashKey, Mobee, Qlola by BRI, Pegadaian, dan ForU AI.
 
Solana, HashKey Group, dan BitGo juga memberikan perspektif dalam diskusi berdasarkan pengalaman mereka di bidang real-world assets, stablecoin teregulasi, serta layanan kustodian institusional.
 
Managing Director BitGo, Abel Seow, menilai perkembangan adopsi aset digital oleh institusi membutuhkan infrastruktur yang mampu memberikan tingkat kepercayaan dan keamanan yang sesuai dengan kebutuhan institusi.
 
“Adopsi institusional membutuhkan infrastruktur yang dapat dipercaya oleh institusi. Percakapan dalam Institutional Summit menunjukkan pergeseran industri dari mengeksplorasi apa yang mungkin dilakukan menuju pemahaman mengenai apa yang dibutuhkan untuk menerapkan aset digital secara aman dan dalam skala besar,” ujar Abel.

Tokenisasi Tak Lagi Sekadar Persoalan Teknologi

Sementara itu, Rizky Indraprasto, Finance and Risk Management Director ICEx Group, menjadi moderator dalam sesi bertajuk “Tokenization in Asia: Which Assets Will Actually Scale?”
 
Rizky mengatakan pertanyaan utama dalam perkembangan tokenisasi saat ini bukan lagi sekadar apakah suatu aset dapat ditempatkan secara on-chain.
 
Menurutnya, perhatian harus diarahkan pada kemampuan aset tersebut untuk mendapatkan adopsi institusional secara nyata.
 
“Pertanyaan terpenting mengenai tokenisasi bukan lagi apakah aset dapat ditempatkan secara on-chain, tetapi apakah aset tersebut dapat mencapai adopsi institusional yang nyata,” kata Rizky.
 
Ia menambahkan, pengembangan tokenisasi harus mempertimbangkan berbagai aspek di luar teknologi, termasuk likuiditas, penyelesaian transaksi, regulasi, distribusi, serta kebutuhan institusi yang nantinya menggunakan produk tersebut.
 
Melalui Institutional Summit, ICEx Group ingin memperkuat dialog antara regulator, institusi keuangan, pelaku pasar, penyedia infrastruktur, dan pemimpin teknologi.
 
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menerjemahkan perkembangan digital finance dan aset digital menjadi peluang yang lebih konkret, sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem keuangan digital yang semakin matang di Indonesia dan kawasan Asia.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan