Keamanan siber kini tidak lagi semata-mata menjadi persoalan teknis yang hanya menjadi tanggung jawab kementerian, perusahaan teknologi, atau tim IT. Perlindungan data telah menjadi tanggung jawab seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengumpulan, penyimpanan, hingga penggunaan data.
| Baca juga: Fintech Waspadai Kejahatan Digital dari Maraknya AI |
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, mengatakan pembangunan ekosistem digital Indonesia harus berjalan seimbang antara pembangunan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, infrastruktur yang memadai tidak akan cukup apabila masyarakat dan pengelola data tidak memiliki pemahaman mengenai cara mengumpulkan, menyimpan, dan menggunakan data secara aman.
“Dalam semua hal ini, selalu ada dua komponen. Apakah kita mau infrastrukturnya? Ya, tentu saja infrastrukturnya dibangun di sini. Tetapi yang lebih penting lagi adalah manusianya,” ujar Stella.
Menurut Stella, kurangnya pemahaman manusia mengenai pengelolaan data dapat meningkatkan risiko kebocoran dan penyalahgunaan informasi. Karena itu, kesadaran mengenai cybersecurity perlu dibangun hingga tingkat individu, bukan hanya dibebankan kepada pemerintah atau lembaga tertentu.
“Cybersecurity bukan hanya dilaksanakan oleh Kominfo. Cybersecurity harus dilaksanakan oleh setiap individu yang berhubungan dengan data,” katanya kepada media.
Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti mengunggah status di WhatsApp maupun Instagram yang sebenarnya juga menghasilkan data. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan oleh berbagai pihak sehingga masyarakat perlu memahami konsekuensi dari aktivitas digital yang dilakukan sehari-hari.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya ancaman cybercrime dan cyberthreat. Serangan siber kini dapat menyasar berbagai sektor, mulai dari perusahaan, lembaga pemerintahan, industri keuangan, hingga infrastruktur digital yang memiliki fungsi strategis bagi masyarakat.
Di tengah ancaman tersebut, Indonesia juga menghadapi tantangan besar dari sisi ketersediaan talenta. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sementara jumlah yang tersedia saat ini baru sekitar 3 juta orang.
“Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sementara saat ini kita baru memiliki sekitar 3 juta. Kesenjangan ini tidak dapat diatasi oleh pemerintah sendiri,” ujar Nezar.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan cybersecurity nasional bukan hanya persoalan membeli perangkat keamanan atau membangun pusat data. Indonesia membutuhkan SDM yang mampu memahami keamanan jaringan, perlindungan data, cloud security, artificial intelligence (AI), hingga teknologi baru yang terus berkembang.
Nezar menilai pembangunan talenta menjadi salah satu kata kunci dalam membangun arsitektur cybersecurity nasional. Karena itu, diperlukan modul pendidikan dan pelatihan yang tidak hanya memberikan pemahaman teori, tetapi juga mengarah pada kebutuhan praktis di industri.
Menurutnya, pemerintah juga tengah mengembangkan berbagai program untuk mempercepat lahirnya talenta digital. Salah satunya melalui AI Talent Factory di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang berupaya menghimpun talenta terbaik dari berbagai perguruan tinggi dan memberikan mentoring melalui use case yang berkaitan dengan program strategis nasional.
Program tersebut sejauh ini telah bekerja sama secara intensif dengan sejumlah perguruan tinggi dan akan diperluas dengan melibatkan kampus lainnya. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri dinilai penting untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain persoalan SDM, Indonesia juga terus memperkuat aspek tata kelola data. Nezar menyebut pemerintah sedang mempersiapkan rancangan Satu Data Indonesia agar tata kelola data menjadi lebih baik dan tertata. Penguatan data governance tersebut diharapkan dapat mendukung upaya menjaga kedaulatan data sekaligus meningkatkan keamanan informasi nasional.
President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan industri juga memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem cybersecurity Indonesia. Menurutnya, pengalaman industri perlu dibawa ke dalam proses pengembangan talenta agar calon tenaga profesional mendapatkan pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan ancaman siber di dunia nyata.
“Selama 16 tahun, ITSEC Asia telah berada di garis depan cybersecurity. Sekarang kami membawa pengalaman tersebut ke dalam pengembangan talenta yang akan menjadi bagian dari generasi berikutnya yang menjaga masa depan digital Indonesia,” kata Patrick.
Menurut Patrick, keamanan siber merupakan risiko yang harus dihadapi saat ini, sementara AI merupakan salah satu peluang besar untuk masa depan. Karena itu, pengembangan kompetensi harus berjalan pada dua sisi, yakni kemampuan menghadapi ancaman keamanan saat ini dan kemampuan memanfaatkan teknologi baru untuk menciptakan inovasi.
Untuk menjawab persoalan kesenjangan talenta tersebut, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) memperkuat kontribusinya melalui peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy. Program ini dirancang tidak hanya sebagai tempat pembelajaran, tetapi sebagai wadah untuk mempersiapkan tenaga profesional yang mampu menghadapi kebutuhan keamanan digital di dunia nyata.
Pendekatan yang digunakan akademi tersebut menitikberatkan pada pengalaman praktis. Peserta tidak hanya mempelajari konsep cybersecurity dan artificial intelligence (AI) secara teoritis, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih menghadapi berbagai skenario yang merepresentasikan tantangan di lingkungan kerja sebenarnya.
Pada bidang cybersecurity, materi pelatihan diarahkan untuk membangun kemampuan dari dua perspektif sekaligus. Peserta dibekali pemahaman mengenai bagaimana sebuah sistem dapat dieksploitasi untuk menemukan titik lemah, sekaligus bagaimana kelemahan tersebut dapat ditutup melalui strategi pertahanan yang tepat.
Sementara itu, program AI tidak hanya berfokus pada kemampuan membangun teknologi berbasis kecerdasan buatan. Aspek keamanan, pengelolaan data, dan tata kelola AI juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Pendekatan tersebut diperlukan karena semakin luasnya penggunaan AI berpotensi menghadirkan risiko baru apabila pengembangan teknologi tidak diikuti dengan standar keamanan dan tata kelola yang memadai.
Melalui kombinasi antara pembelajaran teknis, simulasi, dan pengalaman praktis, ITSEC Cyber & AI Academy diarahkan untuk membentuk talenta yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengantisipasi risiko dan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan persoalan keamanan digital.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda