Pelemahan juga terjadi pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 turun 7,39 poin atau 1,44 persen ke posisi 506,25.
Pergerakan ini membuat investor kembali mencermati sejumlah level teknikal penting, terutama area support 4.960.
Jika level tersebut gagal dipertahankan, IHSG berisiko melanjutkan koreksi untuk mengisi celah harga atau gap filling menuju 4.829.
IHSG Menguat 2,25% pada Perdagangan Sebelumnya
Seperti diketahui, IHSG menguat 2,25 persen ke level 5.030,26 pada perdagangan Kamis, 5 November 2026.
Penguatan didorong sentimen positif global, terutama kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS yang meningkatkan ekspektasi deeskalasi konflik AS-Iran.
Harga minyak Brent turut terkoreksi 8,7 persen ke USD94,62 per barel. Dari domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 mencapai 5,47 persen YoY, di atas ekspektasi pasar sebesar 5,18 persen.
Tim Riset BRI Sekuritas menyatakan, fokus sentimen berikutnya pada 6 November tertuju pada cadangan devisa Indonesia Oktober (sebelumnya USD146,3 miliar) dan indeks harga properti kuartal III-2026 (sebelumnya tumbuh 1,32 persen YoY).
Dari AS, pasar mencermati Non-Farm Payrolls Oktober dengan konsensus 65 ribu tenaga kerja dan tingkat pengangguran yang diperkirakan stabil di 4,2 persen.
Data tenaga kerja AS berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta aliran dana asing ke pasar emerging markets.
Secara teknikal, IHSG berhasil kembali ke atas level psikologis 5.000 dan berpeluang melanjutkan technical rebound untuk menguji resistance 5.072–5.127.
Apabila mampu breakout 5.127 disertai peningkatan volume, peluang penguatan menuju 5.305 semakin terbuka.
Namun, volume transaksi sekitar Rp9,85 triliun masih di bawah rata-rata 20 hari Rp15,49 triliun dan MACD masih berada di area negatif. Support terdekat berada di 4.960; jika gagal dipertahankan, risiko gap filling menuju 4.829 perlu diwaspadai.