Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Dok: BEI.
Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Dok: BEI.

Akhir September 2017, Kapitalisasi Saham Syariah Capai Rp3.473 Triliun

Ade Hapsari Lestarini • 30 Oktober 2017 14:01
medcom.id, Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai kapitalisasi saham syariah per akhir September 2017 menanjak menjadi Rp3.473 triliun.

Adapun pada 2012, kapitalisasi pasar saham syariah tercatat baru mencapai Rp2.451 triliun. Tak cuma itu, dalam jangka waktu lima tahun, nilai kapitalisasi pasar saham syariah juga meningkat 42 persen.

"Transaksi saham di BEI juga didominasi oleh saham syariah," ungkap Direktur Utama BEI Tito Sulistio, dalam siaran persnya, Senin 30 Oktober 2017.

Selain itu, per September 2017, dari 556 saham yang ditransaksikan di BEI, sebanyak 343 saham di antaranya merupakan saham-saham berbasis syariah.

Tito menambahkan, perkembangan jumlah investor saham syariah, yakni investor yang membuka rekening efek syariah, juga meningkat signifikan.

Per September 2017, jumlah investor saham syariah tercatat 19.265 orang atau naik 57 persen dibandingkan 2016 yang berjumlah 12.283 orang. Sehingga, jumlah pangsa pasar investor syariah juga tumbuh 3,2 persen pada September 2017 dibandingkan 2016 yang sebesar 2,3 persen.

Menyambangi Dubai Financial Market

Terkait peningkatan tersebut, BEI melakukan kunjungan ke Dubai Financial Market (DFM), Uni Emirat Arab. Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas perdagangan satu-satunya pasar modal di dunia yang berprinsip syariah.

Tito mengatakan aktivitas transaksi efek di DFM telah dijalankan dengan prinsip syariah secara sempurna. Selain mekanisme transaksi dilakukan secara syariah, sistem hari kerja di DFM juga dilakukan secara syariah antara Minggu sampai dengan Kamis.

Kunjungan BEI ke DFM ini juga menjajaki pertukaran pengetahuan. Hal ini dilakukan agar pasar modal syariah di dalam negeri dapat semakin berkembang dan diharapkan ke depannya dapat menjadi penghubung dengan pasar modal syariah dunia.

Pasar modal syariah Indonesia memiliki pasar yang sangat besar.

Dengan populasi penduduk Indonesia yang mencapai 261,115 juta jiwa, sebanyak 87 persen di antaranya atau 227,12 juta jiwa beragama Islam dan 65 persen di antaranya masih dalam usia produktif. Sedangkan populasi negara-negara utama penerbit sukuk terbesar dunia tidak sebesar Indonesia.

"Sebagai contoh Turki yang hanya memiliki populasi 79,512 juta jiwa, Inggris sebanyak 65,637 juta jiwa, Arab Saudi 32,27 jiwa, Malaysia 31,19 jiwa dan Uni Emirat Arab yang hanya 9,27 juta jiwa. Populasi penduduk muslim Indonesia lebih besar dari populasi negara penerbit sukuk terbesar dunia," jelas Tito.

Ke depannya pasar modal syariah Indonesia masih akan terus berkembang. Potensi tersebut ditunjukkan dengan pergerakan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang mengalami kenaikan mencapai 28,1 persen pada periode Juni 2016 hingga Juni 2017.

Sedangkan beberapa indeks syariah utama terbesar dunia pertumbuhannya masih di bawah ISSI, seperti indeks Dow Jones Islamic Market yang hanya mencatatkan kenaikan 16,4 persen, FTSE Global Shariah 15,8 persen dan MSCI World Islamic yang hanya tumbuh 13,1 persen.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan