Gedung Pertamina. FOTO: Wikimedia Commons NaidNdeso
Gedung Pertamina. FOTO: Wikimedia Commons NaidNdeso

Panas Bumi hingga Bioavtur Jadi Deretan Proyek Energi Bersih Pertamina

Desi Angriani • 02 Desember 2021 14:01
Jakarta: PT Pertamina (Persero) turut andil dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Setidaknya ada delapan proyek energi bersih yang tengah dikembangkan mulai dari proyek panas bumi (geotermal) hingga bioavtur.
 
Proyek yang perdana dikembangkan Pertamina yakni panas bumi (geotermal) melalui anak usahanya, Pertamina Geothermal Energy. Pertamina mengelola 14 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang sebesar 1.877 MW yang terdiri dari 672 MW (Own Operation) dan 1.205 MW (Joint Operation).
 
Kemudian pengembangan B30 pada 2019 dan dilanjutkan dengan produk Green Diesel (D-100) dengan target rampung 2022. Pada Agustus 2021 lalu, Pertamina kembali mencetak milestone baru dalam industri aviasi nasional melalui produksi ‘Bioavtur J2.4’. Ini merupakan inovasi energi bersih berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk moda transportasi udara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, Pertamina juga melaksanakan eksekusi revamp TDHT pada proyek Standalone Biorefinery Phase 1 di Kilang Cilacap. Proyek ini ditargetkan rampung pada 10 Desember 2021 mendatang dan lanjut tahap II pada 2023.
 
Dengan selesainya proyek tersebut, Kilang Cilacap akan mampu memproduksi Biodiesel HVO (D100) dengan kapasitas 3.000 barel per hari (kbpd) dari Feed Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO). Berikutnya, Pertamina melalui Standalone Biorefinery Kilang Plaju ditargetkan selesai 2024.
 
"Keseluruhan proyek pengembangan BBN ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menghadapi transisi energi yang dampaknya berpotensi mengurangi impor minyak," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman, dalam keterangan resminya, Kamis, 2 Desember 2021.
 
Selanjutnya, pengembangan biofuel tersebut akan ditingkatkan pada Phase 2, sehingga kelak Kilang Cilacap akan mampu mengolah D100 dengan kapasitas enam kbpd dari multi-feed yaitu RBDPO, Crude Palm Oil (CPO), ataupun minyak jelantah (UCO). Pengembangan Phase 2 ditargetkan akan selesai pada 2024.
 
"Biodiesel yang 100 persen bersumber dari nabati ini merupakan bukti bahwa Pertamina sungguh-sungguh mendukung program pemerintah untuk memanfaatkan sumber energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM," imbuh Fajriyah.

Energi baru

Energi baru lainnya yang sedang dikembangkan Pertamina yakni green hydrogen dan blue hydrogen dengan pilot project dimulai di lingkungan operasi. Untuk green hydrogen, melalui PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), perusahaan menargetkan dapat diproduksi dari seluruh Wilayah Kerja Geothermal Pertamina dengan produksi sekitar 8.600 kg per hari.
 
Pilot project green hydrogen telah dimulai di WK Ulubelu. Selain itu, melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) juga sedang menyiapkan proyek mengembangan blue hydrogen dari proses elektrolisis air dengan sumber energi listrik yang tersertifikasi hijau, menggantikan proses produksi hidrogen konvensional yang mengubah gas alam.
 
Adapun pengembangan blue hydrogen akan difokuskan di Kilang Plaju dan Kilang Cilacap. Melalui proyek tersebut, Pertamina dapat mengurangi jejak karbon dalam pembuatan hydrogen. Dengan adanya blue hydrogen maka lini bisnis pengolahan Pertamina dapat berkontribusi dalam mereduksi emisi saat operasi.
 
"Karena sumber hidrogen yang digunakan lebih lebih ramah lingkungan," ungkapnya.
 
Langkah memproduksi energi baru juga dilakukan dalam pengembangan Dimethyl Ether (DME) yang bersumber dari batu bara. Melalui sinergi PT Bukit Asam dan Air Product Chemicals, Inc (APCI), Pertamina akan mulai menjalankan pilot project pengembangan DME di Tanjung Enim.
 
Untuk pembangkit listrik berbasis energi baru, Pertamina mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomass (PLTBm) dengan total kapasitas 153 MW yang ditargetkan selesai 2026.

Kawasan ekonomi khusus

Saat ini, yang telah beroperasi PLTBg di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Sumatra Utara dengan total kapasitas 2,4 MW. Selain itu, pengembangan energi baru juga ditetapkan Pertamina dengan mengembangkan proyek pembuatan baterai dan penyimpanan (storage) dalam rangka mendukung tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
 
Melalui Indonesia Battery Corporation, Pertamina bersama BUMN lainnya menargetkan produksi 140 GWh pada 2029 yang diperuntukkan untuk kendaraan roda 2 dan roda 4. Proyek energi terbarukan, Pertamina terus meningkatkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
 
Pertamina menargetkan pada 2026, kapasitas PLTS akan mencapai sekitar 910 Megawatt (MW), di antaranya untuk PLTS di Wilayah Kerja Rokan mencapai 200 MW, PLTS di 5.000 SPBU kapasitas mencapai 31 MW, PLTS Kilang Dumai dengan kapasitas 83 MW dan dilanjutkan ke kilang lain, terminal BBM/LPG dan fasilitas lainnya dari hulu ke hilir mencapai lebih dari 130 MW.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif