AEO9 menyoroti pentingnya kerja sama regional, efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, serta integrasi jaringan listrik untuk menghadapi lonjakan konsumsi energi. Upaya tersebut dinilai perlu berjalan beriringan agar negara-negara ASEAN dapat memenuhi kebutuhan energi tanpa meningkatkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan impor energi secara berlebihan.
Dalam skenario dasar atau Baseline Scenario (BAS), konsumsi energi final ASEAN diperkirakan meningkat dari sekitar 485 juta ton setara minyak (million tonnes of oil equivalent/Mtoe) pada 2025 menjadi 2.047 Mtoe pada 2060. Pertumbuhan ini didorong oleh aktivitas industri, transportasi barang, kebutuhan pendinginan bangunan, urbanisasi, serta perkembangan layanan digital, termasuk data center.
Lonjakan permintaan tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan energi kawasan. Di sisi lain, posisi perdagangan bahan bakar fosil ASEAN menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketergantungan pada impor minyak dan melemahnya daya saing ekspor bahan bakar fosil lainnya.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kerentanan negara-negara ASEAN terhadap gangguan pasokan dan gejolak pasar energi global. Dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi melalui kenaikan biaya energi dan tekanan terhadap daya saing industri.
Karena itu, AEO9 membandingkan tiga skenario transisi energi, yakni Baseline Scenario (BAS), AMS Target Scenario (ATS), dan ASEAN Coordinated Transition Scenario (ACTS). Ketiga skenario ini menggambarkan kemungkinan perkembangan sistem energi berdasarkan perbedaan tingkat implementasi kebijakan, pencapaian target nasional, penerapan teknologi, investasi, dan koordinasi regional.
Dalam skenario ATS, konsumsi energi final ASEAN pada 2060 diperkirakan mencapai 1.482 Mtoe. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan BAS yang mencapai 2.047 Mtoe.
Sementara itu, skenario ACTS memperkirakan konsumsi energi final dapat ditekan menjadi 1.073 Mtoe melalui percepatan efisiensi energi, elektrifikasi, dan peralihan bahan bakar. Angka ini hampir separuh dari konsumsi energi dalam skenario dasar.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan permintaan energi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan transisi energi ASEAN. Pertumbuhan ekonomi tidak harus selalu diikuti peningkatan konsumsi energi dalam skala yang sama apabila efisiensi dan teknologi yang lebih baik diterapkan secara luas.
Direktur Eksekutif ASEAN Centre for Energy, Dato’ Ir. Ts. Razib Dawood, mengatakan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada kemampuan suatu negara memproduksi atau mengimpor energi, tetapi juga pada efisiensi penggunaannya dan tingkat integrasi sistem energi.
“AEO9 menegaskan bahwa koordinasi regional kini menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan energi tetap terjangkau, andal, dan berketahanan seiring meningkatnya permintaan,” ujarnya.
Integrasi Jaringan Listrik Jadi Kunci
Selain mengelola permintaan, AEO9 menekankan pentingnya memperkuat sistem ketenagalistrikan ASEAN. Pengembangan energi terbarukan perlu didukung jaringan listrik yang memadai, penyimpanan energi, dan sistem yang mampu menyeimbangkan pasokan serta permintaan.ASEAN menargetkan energi terbarukan menyumbang 45% dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang pada 2030. Untuk mencapai target tersebut, kawasan diperkirakan perlu menambah kapasitas sekitar 26 gigawatt (GW) per tahun, hampir empat kali lipat dari laju penambahan tahunan sebelumnya.
Tantangan muncul karena sumber energi terbarukan, pusat konsumsi energi, dan potensi fleksibilitas sistem tersebar tidak merata di antara negara-negara anggota ASEAN. Integrasi jaringan listrik menjadi penting agar sumber daya energi dapat dimanfaatkan secara lebih efisien lintas batas negara.
Melalui penguatan ASEAN Power Grid dan perdagangan listrik lintas batas, negara-negara anggota berpeluang memanfaatkan perbedaan sumber pembangkitan dan pola permintaan energi. Integrasi ini juga dapat membantu meningkatkan keandalan pasokan listrik serta mendukung pemanfaatan energi terbarukan.
Namun, upaya tersebut membutuhkan perencanaan bersama, keselarasan standar teknis, dan aturan pasar yang jelas. Kerja sama dalam pembiayaan dan pembagian biaya infrastruktur lintas batas juga diperlukan agar manfaat integrasi dapat dirasakan oleh negara-negara yang terlibat.
Transisi Energi Butuh Investasi Besar
AEO9 memperkirakan skenario ACTS membutuhkan investasi kumulatif sekitar USD14,1 triliun hingga 2060, atau rata-rata USD405 miliar per tahun. Kebutuhan tersebut mencakup pengembangan energi terbarukan, pembangunan dan penguatan jaringan listrik, serta modernisasi teknologi di sektor industri, transportasi, bangunan komersial, dan rumah tangga.Besarnya kebutuhan pendanaan menunjukkan bahwa transisi energi ASEAN tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan pembangkit listrik bersih. Perubahan juga diperlukan pada sisi pengguna akhir melalui elektrifikasi, peningkatan efisiensi, dan penggantian teknologi yang lebih hemat energi.
Untuk merealisasikan investasi tersebut, ASEAN membutuhkan proyek-proyek yang siap didanai, perencanaan energi yang terintegrasi, akses jaringan yang transparan, serta pembagian risiko yang proporsional. Kepastian regulasi dan mekanisme pembiayaan yang layak juga penting untuk menarik partisipasi investor.
AEO9 turut menempatkan target energi ASEAN pada 2030 sebagai tonggak percepatan implementasi, bukan akhir dari proses transisi. Infrastruktur energi, fasilitas industri, bangunan, dan kendaraan memiliki masa operasional panjang sehingga keputusan investasi saat ini akan memengaruhi kebutuhan energi, daya saing, dan emisi kawasan dalam beberapa dekade mendatang.
Laporan tersebut mendorong negara-negara ASEAN membangun arah kebijakan energi jangka panjang yang konsisten melalui setiap siklus ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC), dengan tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara.
Razib menegaskan keberhasilan transisi energi akan sangat ditentukan oleh pelaksanaan kebijakan di lapangan. Menurut dia, kawasan membutuhkan proyek yang layak dibiayai, jaringan listrik yang lebih kuat, dan aturan pasar yang memberikan kepastian kepada investor.
AEO9 dikembangkan oleh ACE bersama para ahli nasional dari negara-negara anggota ASEAN dan Regional Energy Policy and Planning Sub-Sector Network. Laporan ini menggabungkan analisis permintaan dan pasokan energi regional dengan pemodelan sektor ketenagalistrikan hingga 2060.
Penyusunan laporan tersebut didukung sejumlah mitra internasional, termasuk Pemerintah Inggris melalui ASEAN-UK Green Transition Fund, Pemerintah Australia melalui ASEAN-Australia Energy Cooperation Programme, serta Pemerintah Norwegia melalui ASEAN Climate Change and Energy Project Fase II.
Kontribusi juga diberikan oleh Columbia Center on Sustainable Investment di Columbia University, Bank Dunia melalui program Accelerating Sustainable Energy Transition, dan Stockholm Environment Institute untuk keahlian teknis pemodelan.
Melalui AEO9, ACE memberikan gambaran mengenai pilihan kebijakan yang dapat ditempuh ASEAN untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi. Implementasi rekomendasi laporan tersebut diharapkan membantu kawasan memperkuat ketahanan energi, meningkatkan efisiensi, dan mempercepat integrasi sistem energi di tengah perubahan ekonomi dan teknologi.