Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan pengembangan tanaman hias ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber devisa. (Foto: Dok. Kementan)
Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan pengembangan tanaman hias ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber devisa. (Foto: Dok. Kementan)

Tingkatkan Ekspor, Kementan Pacu Inovasi Teknologi Tanaman Hias

Ekonomi berita kementan tanaman hias
Gervin Nathaniel Purba • 14 November 2020 11:09
Cianjur: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) memacu inovasi teknologi tanaman hias guna mendongkrok kualitas dan volume ekspor, sekaligus menambah devisa negara.
 
Selain itu, berbagai varietas unggul tanaman hias yang dihasilkan melalui penelitian juga akan memberi dampak luas serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
 
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan pihaknya terus melakukan terobosan, salah satunya dengan ekspose inovasi tanaman hias yang memiliki potensi tinggi dapat tumbuh di alam Indonesia, baik dataran tinggi maupun rendah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, Indonesia memiliki berbagai varietas khas tanaman hias yang sangat diminati hampir di seluruh negara, seperti Jepang, Asia, Saudi Arabia, Arab, Inggris, Eropa, dan Amerika.
 
"Pengembangan ekspor sementara kita tata makin kuat dan makin produktif. Seperti bunga krisan, kita sudah menghasilkan devisa besar. Kementan juga meakukan inovasi bunga krisan yang tadinya hanya bisa ditanam di dataran tinggi, kini sudah bisa ditanam di dataran rendah," ujar Syahrul, di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Balitbangtan, Cipanas, dikutip keterangan tertulis, Sabtu, 14 November 2020.
 
Syahrul mengatakan pengembangan tanaman hias ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber devisa. Di antara tanaman hortikultura yang dikembangkan secara komersial di Indonesia, tanaman florikultura memiliki potensi ekspor yang sangat tinggi. Pada saat ini preferensi pasar internasional mulai berubah ke arah tanaman hias tropis.
 
"Hal ini memberi peluang bagi para pengusaha di dalam negeri, mengingat potensi pengembangan tanaman hias tropis di Indonesia sangat tinggi karena Indonesia memiliki kekayaan genetik florikultura yang terbesar di dunia," ujarnya.
 
Pengembangan industri florikultura memerlukan dukungan inovasi secara berkelanjutan berupa varietas unggul baru dan teknologi pendukungnya. Kata Syahrul, ketersediaan inovasi unggul merupakan faktor kunci dalam pengembangan subsektor florikultura.
 
Ke, depan Kementan akan melakukan sebuah langkah yang lebih besar dalam menghadirkan berbagai aktivitas komoditi pertanian yang makin terarah, makin maju dengan berbagai hasil riset, kemudian makin modern. Langkah ini tentunya merupakan bagian-bagian dari upaya-upaya untuk memandirikan masyarakat sehingga bisa bertumbuh dengan baik di seluruh Indonesia.
 
"Litbangtan menjadi penting untuk saya. Negara yang tertinggal itu karena Litbangnya yang tertinggal. Kenapa Jepang bisa lebih baik, kenapa Taiwan risetnya lebih baik, karena memiliki penelitian lebih berkualitas. Negara memfasilitasi, sehingga riset itu semakin berkembang dan itu menjadi ukuran," kata Syahrul.
 
Selain itu, di tengah Pandemi covid-19, pertumbuhan ekspor komoditas pertanian dan pertanian menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi untuk perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, sektor pertanian memiliki kekuatan yang sangat besar dan sektor yang paling siap untuk menunjang pertumbuhan ekonomi makro.
 
"Jika mau buat pesawat atau mau buat mobil atau kalau mau buat televisi masih panjang (lama), sehingga yang paling siap itu adalah pertanian saat ini. Karena itu, riset menjadi sesuatu yang utama memajukan pertanian yang berdaya saing," katanya.
 
Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menambahkan, pihaknya sudah menghasilkan sekitar 268 varietas unggul baru tanaman hias. Terdiri dari krisan, anggrek, lili, anthurium, mawar, gladiol, gerbera, tapeinochilus, zingiber, alpinia, anyelir, sedap malam, dan impatiens.
 
"Bahkan, pada 2010, Balithi berhasil meraih rekor MURI sebagai institusi pelepas varietas terbanyak dalam kurun satu tahun sebanyak 25 varietas," kata Fadjry.
 
Fadjry menjelaskan, inovasi teknologi lainnya adalah teknologi perbanyak benih tanaman hias secara in vitro, massalisasi benih anggrek melalui teknologi embriogenesis somatik berbasis bioreaktor, teknologi night break, pemupukan, dan pengendalian hama/penyakit secara terpadu.
 
Produk unggulan gliokompos dan bio nutri saat ini telah dipatenkan dan dilisensikan, bahkan varietas puspita nusantara telah diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Jeddah, dan Kuwait.
 
"Produk unggulan Balithi ini mampu memberikan economic benefit dan social impact yang cukup besar. Varietas unggul krisan Balithi, misalnya, mampu menggantikan sekitar 35 persen dari total varietas yang beredar di pasar dalam negeri. Disamping itu, Balithi melalui UPBS sudah mengedarkan benih sumber krisan sebanyak tujuh jutaan benih, yakni 30 persen dari jumlah benih yang beredar," ucapnya.

 
(ROS)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif