Hal itu dialami oleh Yumi Liberman pada tahun 2024 ketika mengikuti Brandstorm, kompetisi yang digelar oleh perusahaan perusahaan kecantikan dan perawatan diri dari Prancis, L'Oreal. Dilansir dari laman BBC pada Jumat, 11 September 2026, Liberman bersama dua temannya harus mempresentasikan ide produk dan bisnis di hadapan para juri dan sekitar 300 penonton.
Libermen dan temannya mempresentasikan ide aplikasi perawatan rambut yang berhasil membawa mereka menjadi pemenang di Inggris, sebelum lanjut ke final global di Paris. Performa Liberman berhasil dilirik oleh petinggi L'Oreal hingga mendapat kesempatan mengikuti program pelatihan manajemen pemasaran dengan posisi full-time setelahnya.
Model rekrutmen seperti ini mulai menarik perhatian perusahaan karena kandidat bisa menunjukkan kemampuan secara langsung, bukan hanya lewat CV. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah pendaftar Brandstorm global L'Oreal naik drastis dari 240.000 orang pada 2025 menjadi 380.000 orang pada 2026.
L'Oreal juga mengatakan bahwa Brandstorm membantu mereka menemukan lebih banyak kandidat potensial, termasuk anak muda yang mungkin tidak pernah terpikir untuk melamar ke perusahaan tersebut.
Cara yang Tepat Untuk Fresh Graduate dan Pengangguran?
Kompetisi kerja terasa semakin relevan ketika pasar kerja sedang tidak terlalu ramah untuk anak muda. Tetapi masalahnya, tidak semua orang punya privilege untuk ikut “adu skill” berbulan-bulan demi satu posisi kerja.Mantan konsultan rekrutmen, Katrina Collier, khawatir sistem tersebut justru menciptakan diskriminasi ekonomi karena kandidat harus mengorbankan waktu dan tenaga tanpa jaminan akan mendapatkan pekerjaan.
“Apakah itu berarti hanya orang-orang dari latar belakang keuangan yang kuat yang bisa lolos?” kata Collier.
Kekhawatiran lain datang dari psikolog, Amanda Potter, yang menilai format kompetisi bisa lebih menguntungkan orang ekstrovert dan kompetitif. Sementara kandidat yang lebih pendiam berpotensi merasa tidak nyaman atau bahkan memilih tidak ikut sejak awal. (Wisa Irena Br Sitepu)