Nelayan. Foto: MI.
Nelayan. Foto: MI.

Ketersediaan Rantai Dingin Jadi Kunci Dorong Kualitas Ikan untuk Kampung Nelayan Merah Putih

Arif Wicaksono • 11 September 2026 15:42
Jakarta: Indonesia punya laut yang luas dan potensi ikan yang melimpah. Namun, punya ikan dalam jumlah besar belum otomatis membuat nelayan sejahtera. Tanpa penanganan yang tepat sejak ikan naik dari kapal, sebagian hasil tangkapan bisa kehilangan mutu, harganya turun, bahkan terbuang.

Di sinilah rantai dingin atau cold chain menjadi penting. Sistem ini menjaga ikan tetap berada pada suhu yang sesuai sejak ditangkap, disimpan, diangkut, diolah, hingga akhirnya sampai ke konsumen. Bagi pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), rantai dingin menjadi salah satu kunci agar hasil tangkapan nelayan tidak berhenti sebagai komoditas mentah bernilai rendah.
 

Baca juga: Presiden Prabowo Targetkan Pembangunan 5.000 Desa Nelayan dalam Tiga Tahun Kedepan
 


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat potensi lestari sumber daya ikan Indonesia mencapai 12,01 juta ton per tahun yang tersebar di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Dari potensi tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun.

Potensi tersebut datang dari berbagai jenis komoditas, mulai dari ikan demersal, ikan karang, pelagis kecil, cumi-cumi, udang penaeid, lobster, rajungan, kepiting hingga pelagis besar. Tuna, tongkol, cakalang, udang, cumi-cumi, sotong dan gurita juga menjadi komoditas yang punya peluang besar untuk masuk industri pengolahan dan pasar ekspor.

Masalahnya, ikan bukan komoditas yang bisa menunggu lama. Begitu ditangkap, kualitasnya bisa cepat menurun jika tidak segera didinginkan dan ditangani dengan benar. Artinya, sebanyak apa pun potensi ikan yang dimiliki Indonesia, nilainya bisa ikut turun jika rantai pasok setelah penangkapan tidak siap.

KKP mencatat kebutuhan es untuk sektor perikanan pada 2025 mencapai sekitar 2,68 juta ton. Kebutuhan tersebut diproyeksikan terus meningkat, dengan kebutuhan es nasional hingga 2029 mencapai sekitar 16,33 juta ton. Angka ini menunjukkan bahwa es, penyimpanan beku dan transportasi berpendingin bukan sekadar fasilitas pendukung, tetapi sudah menjadi bagian penting dari ekosistem perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melihat rantai dingin sebagai bagian dari ekosistem perikanan yang harus terhubung dari hulu hingga hilir. Dalam pengembangan KNMP, ia menekankan pentingnya mengintegrasikan kawasan nelayan dengan fasilitas rantai dingin, industri pengolahan dan akses pasar.

“Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai ekosistem perikanan terintegrasi dari kawasan hulu yang melibatkan para nelayan, rantai dingin, hingga konektivitas dengan industri pengolahan dan pasar,” kata Trenggono seperti dikutip KKP.

Peluang dari penguatan sistem tersebut juga besar karena pasar ekspor Indonesia masih terbuka lebar. KKP mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD6,27 miliar, naik 5,2 persen dibandingkan 2024. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan nilai USD1,99 miliar, disusul Tiongkok USD1,22 miliar, ASEAN USD1 miliar, Jepang USD613,65 juta dan Uni Eropa USD451,72 juta.

Angka ekspor tersebut menunjukkan bahwa ikan Indonesia punya pasar global. Namun, untuk naik kelas, produk perikanan tidak cukup hanya tersedia dalam volume besar. Mutu, keamanan pangan, ketertelusuran dan keberlanjutan juga menjadi tiket penting untuk masuk dan bertahan di pasar internasional.

KKP juga mendorong Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional (STELINA). Sistem ini menghubungkan rantai pasok perikanan mulai dari praproduksi, produksi, distribusi, pengolahan hingga pemasaran. Dengan sistem tersebut, perjalanan produk perikanan dapat lebih mudah ditelusuri sekaligus mendukung pemenuhan standar pasar.

Contoh manfaat rantai dingin mulai terlihat di Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya, Konawe, Sulawesi Tenggara. Kawasan tersebut dilengkapi fasilitas seperti cold storage, pabrik es portabel dan dermaga. Hingga Agustus 2026, kawasan itu telah mengirim sekitar 8 ton ikan berkualitas ekspor ke luar kota. Infrastruktur tersebut membuat hasil tangkapan nelayan tidak hanya lebih terjaga mutunya, tetapi juga memiliki akses pasar yang lebih luas.

Namun, persoalan rantai dingin tidak hanya soal membangun gudang dan memasang mesin pendingin. Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri mengatakan teknologi tersebut harus menjadi bagian dari sistem yang benar-benar digunakan nelayan dan pelaku usaha.

Rokhmin mengungkapkan dari sekitar 15 juta ton produksi perikanan Indonesia setiap tahun, kurang dari 12 persen yang dapat ditangani dengan sistem rantai dingin. Menurutnya, keterbatasan tersebut menjadi salah satu persoalan yang membuat sebagian hasil perikanan mengalami penurunan mutu bahkan terbuang sebelum sampai ke konsumen.

“Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita,” kata Rokhmin.

Menurutnya, persoalan tersebut menciptakan efek domino. Ketika mutu ikan turun, harga di tingkat nelayan ikut tertekan. Pada saat yang sama, produk yang tidak ditangani dengan baik bisa sulit memenuhi standar kesehatan dan ekspor. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia yang memiliki produksi perikanan besar tetapi nilai ekspornya masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand dan Norwegia.

Rokhmin juga mendorong agar teknologi rantai dingin ke depan semakin efisien dan ramah lingkungan. Teknologi low carbon hingga zero carbon, menurutnya, perlu mulai masuk ke sistem perikanan nasional dengan memanfaatkan potensi energi surya Indonesia.

“Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari,” ujarnya.

Pemanfaatan energi surya dapat diterapkan secara bertahap untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kapal penangkap ikan, cold storage, refrigerator hingga cool box. Dengan begitu, ketergantungan sistem pendinginan terhadap energi fosil atau BBM bisa ditekan.

Peluang teknologi tersebut juga mulai masuk ke industri. PT DS Solutions International, perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia, memperkenalkan teknologi cold storage portabel dalam pameran RHVAC Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9–11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 & 6.

Dalam pameran yang mempertemukan pelaku usaha, engineer dan operator industri refrigerasi, HVAC serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel, yakni ArcticBlast 20FT dan ArcticStore Horizon 40FT.

ArcticBlast 20FT dirancang untuk proses rapid chilling dan blast freezing dengan sistem mesin ganda yang mampu menurunkan suhu hingga -40°C. Teknologi ini ditujukan untuk komoditas seperti seafood yang membutuhkan proses pendinginan atau pembekuan cepat agar kualitasnya tetap terjaga.

Sementara itu, ArcticStore Horizon 40FT memiliki rentang suhu -30°C hingga +30°C. Unit tersebut diklaim mampu mengurangi konsumsi energi rata-rata hingga 55 persen dibandingkan reefer konvensional. Sistemnya juga dapat dilengkapi panel surya yang secara tipikal mampu menekan konsumsi energi hingga 25 persen lebih lanjut.

Meski teknologi dari luar negeri dapat membuka peluang baru, Rokhmin mengingatkan agar Indonesia tidak berhenti sebagai pengguna. Transfer teknologi dan peningkatan komponen dalam negeri perlu menjadi bagian dari kerja sama agar manfaat ekonominya juga jatuh kepada industri nasional.

“Manfaat kerja sama dengan luar negeri itu harus segera kita raih, yaitu manfaat alih teknologi, manfaat nilai tambah harus jatuh di kita, dan manfaat tenaga kerja juga harus di kita. Jangan sampai kita hanya impor gelondongan, tidak ada komponen satu pun yang diproduksi di dalam negeri,” tegasnya.

Bagi pengembangan KNMP, tantangannya akhirnya bukan cuma bagaimana menangkap lebih banyak ikan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana menjaga ikan tetap bernilai setelah ditangkap. Rantai dingin yang terhubung dengan pelabuhan, pabrik es, transportasi, cold storage, industri pengolahan dan pasar bisa menjadi jembatan agar hasil laut tidak cepat rusak dan nelayan punya peluang mendapatkan nilai jual yang lebih baik.

Rokhmin menilai edukasi juga harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur. Nelayan, pembudidaya, pengolah, pedagang hingga konsumen perlu memahami pentingnya menjaga suhu dan kualitas produk. Karena itu, pemerintah, industri, akademisi, komunitas nelayan dan media perlu bergerak bersama.

“Kalau tidak, nelayan miskin, ekspor kita rendah, banyak ikan yang busuk, dan sektor perikanan tidak sustainable,” ujar Rokhmin.

Dengan potensi lestari 12,01 juta ton ikan per tahun dan nilai ekspor yang sudah mencapai USD6,27 miliar, Indonesia sebenarnya punya modal besar untuk mengembangkan ekonomi biru. Tantangannya sekarang adalah memastikan ikan tidak berhenti sebagai angka produksi. Lewat rantai dingin yang lebih terintegrasi, KNMP diharapkan bisa menjadi salah satu pintu untuk mengubah hasil tangkapan nelayan menjadi produk bernilai tambah, lebih kompetitif dan siap bersaing di pasar global.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan