Ilustrasi gerbong kereta cepat Jakarta-Bandung yang digarap PT KCIC - - Foto: dok AFP
Ilustrasi gerbong kereta cepat Jakarta-Bandung yang digarap PT KCIC - - Foto: dok AFP

Belum Beroperasi, KCJB Sudah Setor Rp5,34 Triliun untuk Negara

Eko Nordiansyah • 11 Februari 2022 11:33
Jakarta: PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyetor Rp5,34 triliun ke negara pada tahun lalu meski Kereta Cepat Jakarta-Bandung masih dalam tahap pembangunan.
 
Kontribusi terhadap penerimaan negara itu terdiri dari Rp3,73 triliun berupa setoran kewajiban pajak, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berupa pembayaran penggantian PBB rumija Rp16,9 miliar, pembayaran sewa BMN untuk stasiun Halim sampai 50 tahun ke depan sebesar Rp1,16 triliun, pembayaran sewa rumija tol trase KCJB Rp 436,8 miliar.
 
Kontribusi lainnya dari KCJB hingga saat ini adalah adanya pertumbuhan ekonomi negara seperti yang tertuang dalam pre-assessment 2018-2019 yang dilakukan oleh Sucofindo sebagai Assessor. Pertumbuhan ekonomi tersebut bersumber dari aktivitas local purchase yang mencapai 69,70 persen dari seluruh total belanja pengadaan yang dilakukan dalam proyek KCJB. 
 
"Proyek KCJB juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi warga terdampak lewat realisasi pengadaan lahan sebesar Rp15 triliun yang dibayarkan langsung pada warga dengan harga yang sesuai undang-undang terkait. Belum lagi, serapan tenaga lokal untuk proyek KCJB yang mencapai 13.477 orang," kata Presiden Direktur PT KCIC Dwiyana Slamet dalam keterangan resminya, Jumat, 11 Februari 2022.
 
Suntikan modal dari PMN
 
Mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diberikan pemerintah, ia menjelaskan, hal itu merupakan solusi yang diberikan negara berupa suntikan modal pada BUMN sponsor KCJB. Dwiyana mengungkapkan, proyek KCJB ini 75 persen dibiayai lewat pinjaman dari CDB dan 25 persen dari ekuitas, yaitu melalui PSBI 60 persen, dan BUMN Tiongkok 40 persen. 
 
"Akibat adanya pandemi covid-19, empat BUMN sponsor Indonesia sampai dengan April 2021 belum bisa melakukan setoran modal secara penuh sehingga pemerintah memutuskan untuk menyuntikan PMN kepada PT KAI yang kini menggantikan WIKA sebagai leading sponsor. Pada 31 Desember 2021, PT KAI telah melakukan setoran modal kepada KCIC lewat PT PSBI selaku konsorsium BUMN Indonesia untuk proyek KCJB," ujar dia.
 
Adapun suntikan PMN kepada PT KAI tersebut saat ini digunakan untuk berbagai kebutuhan yang bersifat urgent dalam upaya percepatan pelaksanaan proyek seperti pembayaran sewa BMN Rumija Tol dan penggantian PBB Jasa Marga, biaya penyambungan UJL PLN, investasi untuk implementasi GSM-R, pembayaran progres pekerjaan kepada  kontraktor dan konsultasi supervisi, asuransi, pajak, dan material offshore penting.
 
Meskipun proyek KCJB ini melibatkan APBN melalui PMN, ia menambahkan, skema bisnis KCJB tidak berubah dari B2B menjadi B2G. Dwiyana mengatakan kalau PMN yang disuntikkan untuk KCJB adalah suntikan modal untuk PT KAI sebagai BUMN Sponsor KCJB, yang diberikan ke PSBI, baru kemudian diteruskan kepada KCIC.
 
Sementara mengenai cost overrun, Dwiyana menyebut total cost overrun yang terjadi pada project KCJB masih dalam tahap review oleh BPKP. Hasil dari review BPKP akan disetorkan kepada Komite Kereta Cepat yang diketuai oleh Menko Maritim dan Investasi dan beranggotakan Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, dan Menteri BUMN sehingga nantinya akan menjadi hitungan final dari cost overrun tersebut.
 
"Berapa total cost overrun tersebut belum dapat kami sampaikan karena sampai saat ini masih dalam tahap review oleh BPKP. Kami masih terus berproses menemukan biaya yang akan diefisiensikan. Untuk menutupi cost overrun, hingga saat ini pembiayaan diambil dari ekuiti seperti yang tertera pada kesepakatan kedua pihak. Meski begitu, kami juga terus melakukan simulasi terkait pendanaan untuk diusulkan kepada shareholder," pungkasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif