Ilustrasi industri hotel di jakarta. Foto: Istimewa.
Ilustrasi industri hotel di jakarta. Foto: Istimewa.

Nilai Investasi Hotel Asia Pasifik Melonjak 54%, Tertinggi dalam Tujuh Tahun

Arif Wicaksono • 22 Agustus 2026 22:24
Ringkasnya gini..
  • Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar, nilai transaksi hotel sepanjang semester I 2026 justru melonjak 54% secara tahunan menjadi USD6,8 miliar.
  • Ada tiga negara yang menjadi motor utama pertumbuhan investasi sepanjang semester I 2026, yakni Jepang, Tiongkok, dan Australia.

Jakarta: Investasi hotel di kawasan Asia Pasifik kembali mencatat momentum positif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar, nilai transaksi hotel sepanjang semester I 2026 justru melonjak 54% secara tahunan menjadi USD6,8 miliar.

Berdasarkan data dan analisis JLL (NYSE: JLL), capaian tersebut menjadi kinerja semester I terkuat dalam tujuh tahun terakhir. Investor terlihat masih melihat sektor perhotelan sebagai aset yang menarik, meski kini mereka semakin selektif dalam menentukan properti yang akan dibeli.

Baca juga: Investasi Mulai Ngegas, Jadi Penopang Baru Ekonomi Indonesia di Kuartal II 2026

“Di luar ekspektasi, minat investasi di sektor hotel terus menunjukkan tren positif, menegaskan daya tarik aset perhotelan di Asia Pasifik. Fundamental pasar yang solid dan aktivitas transaksi yang kuat di kawasan ini turut mendorong investor untuk lebih selektif, dengan mengutamakan kepastian dalam berinvestasi dan mengkaji peluang sebelum mengalokasikan modal,” ujar CEO JLL Hotels & Hospitality Group Asia Pasifik Nihat Ercan dalam keterangannya.

Jepang, Tiongkok, dan Australia Jadi Motor Utama

Performa pasar hotel di Asia Pasifik memang tidak seragam. Namun, ada tiga negara yang menjadi motor utama pertumbuhan investasi sepanjang semester I 2026, yakni Jepang, Tiongkok, dan Australia.

Jepang menjadi pasar terbesar dengan nilai transaksi mencapai USD1,9 miliar, naik 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejumlah transaksi portofolio menjadi pendorong utama, termasuk akuisisi JPN Kanagawa Hotel Portfolio oleh AB Capital, pembelian JPN Pelican Hotel Portfolio oleh Tosei, serta akuisisi Sapporo Real Estate oleh KKR & PAG.

Di Tiongkok, nilai transaksi mencapai USD1,5 miliar, atau melonjak 224% secara tahunan.

Aktivitas pasar sekunder menjadi salah satu pendorong utama pada kuartal II 2026. Lelang juga ikut meningkatkan transaksi, khususnya untuk properti yang mengalami tekanan finansial atau memiliki nilai di bawah harga pasar. Salah satu contohnya adalah penjualan sembilan aset oleh R&F Group.

Sementara itu, Australia mencatat transaksi sebesar USD901 juta, naik 38% secara tahunan.

Investor swasta, family office, serta pemilik sekaligus operator menjadi kelompok yang aktif memburu aset kelas menengah di kawasan metropolitan maupun regional. Di sisi lain, investor ekuitas swasta dan pengelola dana lebih banyak menyasar properti di kawasan pusat bisnis atau CBD serta aset premium.

Indonesia Ikut Dilirik Investor

Tren positif di Asia Pasifik juga menjadi sinyal menarik bagi pasar Indonesia.

Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan, JLL baru-baru ini memfasilitasi konsultasi terkait investasi bersejarah untuk Waldorf Astoria Jakarta, yang dijadwalkan dibuka pada 2027 sebagai bagian dari Autograph Tower di Thamrin Nine.

“Kinerja pasar investasi hotel di Asia Pasifik yang solid juga menjadi sinyal yang relevan bagi Indonesia. JLL baru-baru ini telah berhasil memfasilitasi konsultasi terkait investasi bersejarah untuk Waldorf Astoria Jakarta, yang dijadwalkan dibuka pada 2027 sebagai bagian dari Autograph Tower di Thamrin Nine,” ujar Farazia.

Menurutnya, transaksi tersebut menunjukkan bagaimana jaringan investor dan keahlian sektor perhotelan dapat mendorong transaksi lintas negara.

“Hal ini juga mencerminkan kuatnya hubungan ekonomi Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan kawasan Gulf Cooperation Council (GCC). Hubungan bilateral yang kuat jadi landasan kepercayaan serta kolaborasi bagi investor,” katanya.

Farazia melihat peluang investasi lintas negara di Indonesia masih terbuka lebar, termasuk untuk transaksi berskala besar di sektor perhotelan dan properti.

Developer Masih Jadi Pembeli Terbesar

Dari sisi investor, developer menjadi kelompok yang paling aktif melakukan pembelian hotel pada semester I 2026, dengan kontribusi 22% dari total volume transaksi.

Posisi berikutnya ditempati pengelola dana dengan kontribusi 19%, sementara individu dengan kekayaan tinggi dan family office menyumbang 5%.

Meski modal domestik masih menjadi sumber utama transaksi hotel di Asia Pasifik, investor lintas negara juga cukup aktif. Jepang, Australia dan Selandia Baru, serta Korea Selatan menjadi beberapa pasar yang mencatat aktivitas investasi lintas negara cukup kuat.

Dalam transaksi lintas negara tersebut, pengelola dana menjadi kelompok investor yang paling aktif.

Hotel Lama Mulai Dilirik untuk Jadi Hunian

Ada satu tren lain yang menarik perhatian di pasar hotel Asia Pasifik: hotel dengan kinerja rendah mulai dilirik untuk dialihfungsikan menjadi hunian.

Tren ini paling terlihat di Hong Kong. Sepanjang semester I 2026, terdapat empat hotel yang ditransaksikan dengan nilai total USD340 juta. Sebagian besar aset tersebut rencananya akan dikonversi menjadi hunian mahasiswa atau co-living.

Fenomena serupa juga terjadi di Singapura. Coliwoo mengakuisisi Park Avenue Changi senilai USD79 juta untuk kemudian dikonversi menjadi properti co-living.

Menurut JLL, tren tersebut menunjukkan perubahan strategi investor dalam melihat aset hotel. Hotel tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menginap, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk ke sektor hunian melalui strategi opportunistic dan value-add.

Namun, alih fungsi ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa fundamental bisnis hotel sedang melemah. Strategi tersebut lebih banyak menyasar aset yang sudah berusia tua atau memiliki performa rendah.

Investor Masih Optimistis hingga Akhir 2026

Kinerja operasional hotel yang positif, arus modal dari berbagai kelompok investor, serta peluang reposisi aset menjadi sejumlah faktor yang mendukung prospek investasi hotel di Asia Pasifik.

JLL bahkan memperkirakan volume investasi hotel di kawasan tersebut dapat tumbuh 15–20% secara tahunan pada 2026 dibandingkan 2025.

“Dengan momentum yang lebih kuat dari perkiraan pada semester I 2026, volume investasi hotel di Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh 15–20% secara tahunan dibandingkan 2025,” ujar Head of Investment Sales, Asia, JLL Hotels & Hospitality Group Julien Nauori.

Optimisme tersebut juga ditopang oleh kinerja operasional hotel. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Revenue per Available Room (RevPAR) dalam denominasi dolar AS meningkat rata-rata lebih dari 6% di seluruh Asia Pasifik.

Pertumbuhan paling kuat tercatat di Australia dan Oseania serta Asia Tenggara, terutama karena kenaikan Average Daily Rate (ADR).

Dari sisi pariwisata, jumlah kedatangan wisatawan internasional ke Asia dan Pasifik juga tumbuh 3% secara tahunan pada kuartal I 2026. Oseania mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9%, disusul Asia Timur sebesar 5%.

Meski demikian, jumlah kedatangan wisatawan internasional di kawasan tersebut masih 11% di bawah level sebelum pandemi, atau baru mencapai 89% dari capaian kuartal I 2019.

Dengan kombinasi kinerja operasional yang positif, meningkatnya aktivitas transaksi, dan semakin beragamnya strategi investasi, pasar hotel Asia Pasifik diperkirakan masih memiliki ruang untuk tumbuh hingga akhir 2026.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan