Debu Vulkaniks Gunung Anak Krakatau sudah sampai Jakarta. Foto: Istimewa.
Debu Vulkaniks Gunung Anak Krakatau sudah sampai Jakarta. Foto: Istimewa.

Harga Masker di Pasar Pramuka Melonjak hingga Tiga Kali Lipat akibat Abu Vulkanik

Arif Wicaksono • 07 September 2026 17:46

Jakarta: Kekhawatiran terhadap dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebagian warga Jakarta mulai memburu masker untuk melindungi saluran pernapasan. Namun, upaya mengantisipasi paparan abu vulkanik tersebut harus dibarengi dengan kenaikan harga masker di pasaran.

Kondisi itu terlihat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Senin, 7 September 2026. Sejumlah warga mendatangi pusat penjualan alat kesehatan tersebut untuk mencari masker, meski harga yang ditawarkan pedagang disebut mengalami kenaikan cukup signifikannn.
 


Baca juga: BMKG Targetkan Debu Vulkanik Anak Krakatau Berkurang dalam 1-2 Hari

Salah satu pembeli, Ifan, mengaku harga masker medis yang biasanya berada di kisaran Rp10 ribu-Rp15 ribu per kotak kini bisa mencapai Rp40 ribu. Kenaikan tersebut membuat harga masker melonjak hampir tiga kali lipat dari kondisi normal.

"Biasanya untuk merek Onemed ini sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Tapi sekarang harganya melonjak sampai Rp40 ribu per kotak. Naik hampir tiga kali lipat," ujar Ifan kepada Metrotvnews.com di Pasar Pramuka, Senin, 7 September 2026.

Menurut Ifan, kenaikan harga bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia juga memperoleh informasi mengenai stok masker yang mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat.

Bahkan, kata dia, terdapat kabar masker dijual dengan harga jauh lebih tinggi di lokasi lain karena adanya kekhawatiran kelangkaan. Kondisi tersebut membuat Ifan memilih membeli masker yang masih tersedia meski harganya sudah meningkat.

"Saya dengar di tempat lain ada yang sampai ratusan ribu karena katanya mulai langka. Jadi kalau memang masih ada, lebih baik beli sekarang untuk persediaan," ujarnya.

Warga Waspadai Dampak Abu Vulkanik

Kekhawatiran terhadap kondisi udara menjadi alasan utama warga mencari perlindungan. Abu vulkanik tidak dianggap sama dengan debu biasa karena partikel hasil erupsi dapat mengganggu sistem pernapasan apabila terhirup.

Ifan mengaku lebih memilih melakukan pencegahan sejak awal karena belum mengetahui seberapa besar paparan material vulkanik di udara Jakarta.

"Kalau debu biasa sih relatif biasa saja, tapi ini kan abu vulkanik. Yang kita takutkan ada serpihan kaca atau kandungan chemical-nya. Daripada nanti harus mengobati, ya lebih baik jaga-jaga dari sekarang," tuturnya.

Ia berharap kondisi udara di Jakarta segera kembali normal seiring meredanya dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Di sisi lain, Ifan meminta agar kondisi meningkatnya kebutuhan masker tidak dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara berlebihan. Menurutnya, perlindungan terhadap kesehatan seharusnya tetap dapat dijangkau masyarakat, terutama ketika terjadi kondisi darurat akibat bencana.

"Kita berharap jangan sampai ada yang memanfaatkan situasi ini untuk memainkan harga. Masyarakat kan membeli karena memang butuh untuk melindungi diri," pungkasnya.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan