Ilustrasi produk benang pintal poliester (Polyester Spun Yarn/PSY) Indonesia. Foto : AFP.
Ilustrasi produk benang pintal poliester (Polyester Spun Yarn/PSY) Indonesia. Foto : AFP.

India Batal Kenakan BMAD, Ekspor Produk Benang Pintal Poliester RI Berpotensi Menguat

Husen Miftahudin • 21 Januari 2022 11:17
Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyampaikan, produk benang pintal poliester (Polyester Spun Yarn/PSY) Indonesia akhirnya mendapat pembatalan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) dari India. Dengan demikian, ekspor produk ini ke India berpotensi mengalami kenaikan.
 
Pembatalan BMAD produk PSY ini berdasarkan keputusan Kementerian Keuangan India melalui Tax Revenue Unit (TRU). Keputusan tertuang dalam Office Memorandum No. 190354/182/2021-TRU yang diterbitkan Pemerintah India pada 8 Januari 2022.
 
Dengan putusan tersebut, maka rekomendasi akhir dari Directorate General Trade Remedies (DGTR) India yang terbit pada 19 Agustus 2021 dinyatakan batal dan eksportir Indonesia tidak dikenakan BMAD sebesar USD61 per metrik ton hingga USD191 per metrik ton.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"PSY merupakan salah satu produk tekstil dengan nilai ekspor yang cukup besar ke India. Pembatalan ini tentunya menjadi kabar gembira bagi eksportir Indonesia dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan nilai ekspor produk unggulan ini ke India, terutama di masa pemulihan pascapandemi," ucap Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dalam siaran persnya, Jumat, 21 Januari 2022.
 
Lutfi mengungkapkan bahwa produk PSY sudah memiliki pasar yang cukup besar di India. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor PSY Indonesia ke India mencapai nilai tertinggi pada 2019 yaitu USD51 juta. Nilai ekspor ini sempat turun menjadi USD23 juta pada tahun berikutnya.
 
Sedangkan, pada periode Januari-Juni 2021 nilai ekspornya tercatat sebesar USD26,1 juta, atau naik 321,23 persen dari periode yang sama pada sebelumnya yakni sebesar USD6,19 juta.
 
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana menyatakan bahwa keberhasilan ini patut untuk disyukuri.
 
"Khusus untuk produk tekstil asal Indonesia, ini merupakan kali ketiga sejak 2021 pemerintah India batal menerapkan BMAD. Momentum keberhasilan ini tentunya diharapkan akan terus berlanjut untuk kasus lainnya," tuturnya.
 
Kasus ini bermula pada 21 Mei 2020 saat otoritas DGTR India menginisiasi penyelidikan anti dumping untuk PSY dengan kode HS 5509.21.00 asal dari Tiongkok, Indonesia, Nepal dan Vietnam. PSY merupakan bahan baku pembuatan kain yang digunakan untuk bahan pakaian, gorden, jok mobil, dan produk lainnya.
 
"Kesuksesan ini merupakan hasil kerja sama dari semua pihak yang terlibat yaitu pemerintah, asosiasi, dan eksportir tertuduh. Setelah adanya pembatalan ini, diharapkan eksportir/produsen produk PSY Indonesia akan mampu menggenjot ekspor ke India," pungkas Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Natan Kambuno.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif