Bagi Pupuk Indonesia, kemudahan petani memperoleh pupuk menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Transformasi perusahaan pun diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung di tingkat petani.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan ketersediaan pupuk, akses penebusan, dan harga yang terjangkau menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk terus mendukung petani.
"Berbagai revitalisasi dan transformasi yang kami lakukan tidak berhenti pada peningkatan efisiensi perusahaan, tetapi harus memberikan manfaat nyata di lapangan bagi petani, termasuk melalui harga pupuk yang semakin terjangkau dan akses yang semakin mudah,” tegas dia.
Salah satu perubahan yang dirasakan petani adalah penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi hingga 20 persen yang mulai berlaku sejak Oktober 2025.
Kebijakan tersebut tidak terlepas dari revitalisasi sejumlah fasilitas produksi Pupuk Indonesia. Peningkatan efisiensi di sisi produksi kemudian diteruskan melalui harga pupuk subsidi yang lebih rendah bagi petani.
Bagi petani, penurunan harga pupuk dapat mengurangi beban biaya produksi sekaligus memberikan ruang untuk mengalokasikan anggaran ke kebutuhan usaha tani lainnya.
Toni Afandi dari Kelompok Tani Asahan, Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang, Jawa Barat, mengatakan penurunan harga pupuk subsidi memberikan dampak terhadap pengeluaran petani.
"Sehingga bisa mengurangi cost yang lainnya, artinya yang dari kelebihan selisih harga pupuk itu bisa kita gunakan ke alokasi lain, kita manfaatkan buat yang lainnya seperti untuk pestisida. Kita lihat dari petani-petani lain, dengan adanya penurunan harga jadi lebih semangat lagi untuk meningkatkan usaha tani kita,” jelas dia.
Hal serupa disampaikan Ma'ruf Arianto, Ketua Gapoktan Desa Trayu, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Menurutnya, harga pupuk subsidi yang lebih rendah membantu petani mengurangi biaya pemupukan.
“Alhamdulillah dengan turunnya harga pupuk subsidi, semua petani itu dapat angin segar dan sangat mengurangi cost untuk pemupukan. Alhamdulillah dari dulu sampai sekarang, baru kali ini pupuk bisa turun, petani lebih ringan lebih sejahtera, lebih semangat lagi buat pemupukan.”
Penebusan Pupuk Makin Praktis
Selain harga, Pupuk Indonesia juga melakukan pembenahan pada proses penebusan pupuk subsidi. Digitalisasi menjadi salah satu cara yang digunakan untuk membuat proses tersebut lebih sederhana sekaligus membantu perusahaan memantau distribusi pupuk.Sistem seperti i-Pubers dan Command Center memungkinkan pemantauan penebusan serta kondisi stok secara real-time hingga tingkat kios. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyesuaikan pengelolaan stok dengan kebutuhan di masing-masing daerah.
Hingga 23 September 2026, realisasi penebusan pupuk subsidi tercatat mencapai 6,77 juta ton atau sekitar 69 persen dari total alokasi pupuk subsidi tahun ini.
Doni, petani dari Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Blora, Jawa Tengah, mengatakan proses penebusan melalui i-Pubers kini lebih praktis.
“Penebusan pupuk dengan i-Pubers sekarang kan lebih mudah, lebih terjangkau, cukup bawa KTP, lebih cepat sekarang dibandingkan dulu. Petani lebih tenang, nyaman, pokoknya lebih enak lah, enggak khawatir. Misalnya kalau kurang, kena banjir, minta (beli) lagi ke kios, langsung dapet. Jadi kan petani seneng, selain mudah didapatkan, sekarang harga pupuk juga terjangkau, bukan lagi jempol satu tapi jempol dua.”
Kemudahan penebusan tersebut juga dibarengi dengan upaya menjaga ketersediaan pupuk di berbagai daerah.
Pupuk Indonesia memanfaatkan jaringan logistik yang mencakup pelabuhan, armada kapal, dan gudang untuk mengatur distribusi. Infrastruktur tersebut memungkinkan perusahaan melakukan rekonfigurasi maupun realokasi stok antardaerah berdasarkan kebutuhan.
Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga pasokan di tingkat petani, terutama ketika kebutuhan pupuk meningkat di suatu wilayah.
Di Kalimantan Barat, misalnya, Suhardi dari Desa Senakin, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, mengatakan pupuk subsidi dapat diperoleh ketika dibutuhkan petani.
“Ketersediaan pupuk subsidi sangat tepat di desa kami. Setelah kami menanam padi dua minggu, pupuknya sudah tersedia, dan pas dua minggu kami memerlukannya, kami bisa memupuk padi kami yang sudah kami tanam. Penebusannya juga lebih mudah sekali, kami bisa menggunakan KTP. Kami bersyukur karena harganya pun terjangkau bagi ekonomi kami di desa.”
Tak Hanya Soal Pupuk
Dukungan Pupuk Indonesia kepada petani juga diperluas melalui pengembangan ekosistem pertanian. Perusahaan menjalankan sejumlah program seperti Agrosolution, Rembuk Tani, dan TAJUMASE yang mencakup pendampingan serta akses terhadap berbagai kebutuhan petani, termasuk pembiayaan.Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Pupuk Indonesia mengembangkan Precision Farming dan Mobil Uji Tanah untuk membantu petani memperoleh rekomendasi pemupukan berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Dengan pendekatan tersebut, dukungan kepada petani tidak hanya berhenti pada penyediaan pupuk. Pupuk Indonesia berupaya mengintegrasikan akses terhadap pupuk, pendampingan, teknologi, hingga dukungan usaha tani untuk membantu meningkatkan produktivitas.
Rahmad mengatakan Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen perusahaan dalam mendukung petani.
“Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali menegaskan bahwa petani adalah bagian penting dari perjalanan Pupuk Indonesia. Kami akan terus memperkuat ketersediaan, distribusi, dan kemudahan akses pupuk, karena ketika petani mendapatkan dukungan yang tepat, mereka dapat semakin optimal menjalankan perannya sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional,” tutup Rahmad.