Kesehatan dan kebugaran kini menjadi prioritas utama konsumen di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Berdasarkan Global Wellness Economy Monitor 2025, Asia Tenggara telah menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan paling pesat di dunia dalam hal pola makan sehat, nutrisi, dan pengelolaan berat badan. Di Indonesia, survei Euromonitor pada 2025 menunjukkan bahwa meskipun 68% konsumen mengkhawatirkan kenaikan biaya, 71% secara aktif mencari bahan sehat dalam makanan, dan 32% berencana meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan kesehatan dan kebugaran.
Data survei USDEC 2026 turut memperkuat temuan tersebut. Meskipun keputusan pembelian makanan dan minuman masih banyak dipengaruhi oleh hal mendasar seperti rasa, harga yang sepadan dengan kualitas, dan kesegaran, konsumen Indonesia juga semakin memperhatikan aspek kesehatan dalam pilihan makanan sehari hari dan berupaya menerapkan pola makan yang seimbang dan sehat. Hal ini termasuk upaya untuk mengonsumsi lebih banyak protein, serat, dan makanan padat nutrisi.
Hal ini juga terlihat dari survei USDEC Consumption Tracker yang dilakukan di Indonesia pada Juni hingga Juli tahun ini. Sebanyak 51% konsumen yang disurvei sangat setuju dan 33% setuju bahwa mereka bersedia membayar lebih untuk makanan dan minuman kemasan yang menawarkan manfaat kesehatan, meskipun hal tersebut berdampak pada anggaran mereka.
Survei yang sama juga menemukan bahwa 63% konsumen sangat mungkin dan 31% cukup mungkin mempertimbangkan makanan dan minuman kemasan dengan klaim tambahan protein. Tiga alasan utama yang mendorong minat tersebut adalah membantu meningkatkan energi dan performa fisik (74%), mendapatkan pilihan yang lebih sehat dan bernutrisi dibandingkan produk biasa (69%), serta memenuhi kebutuhan protein dengan cara yang praktis (61%).
Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen bersedia membayar lebih untuk pilihan yang lebih sehat, sekaligus menunjukkan masih adanya peluang bagi produsen untuk menghadirkan produk baru yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, termasuk produk yang diperkaya protein. Namun, kunci keberhasilannya adalah menghadirkan inovasi tersebut melalui makanan yang sudah dikenal dan disukai konsumen, bukan menempatkan pola makan sehat sebagai kategori tersendiri.
Dali Ghazalay, Regional Director, Southeast Asia, USDEC mengatakan, “Dalam kondisi ekonomi saat ini, konsumen semakin cermat dalam menentukan pengeluaran mereka. Namun, kesehatan tetap menjadi salah satu prioritas utama. Inovasi makanan dan minuman yang berhasil tidak lagi cukup hanya mengandalkan sesuatu yang baru. Produk yang sukses harus mampu menjawab kebutuhan nyata konsumen sehari hari.”
Menghadirkan Nutrisi yang Lebih Baik dalam Produk yang Sudah Dikenal
Bahan susu dari Amerika Serikat, termasuk protein susu, bahan whey, susu bubuk, dan permeate, menawarkan beragam manfaat fungsional dan nutrisi yang dapat mendukung berbagai kebutuhan formulasi produk. Fleksibilitasnya juga memungkinkan bahan bahan tersebut disesuaikan dengan cita rasa lokal, format produk, dan momen konsumsi yang berbeda, sehingga produsen dapat merespons perubahan kebutuhan konsumen tanpa mengurangi daya tarik produk.Tahun ini, selain menghadirkan berbagai inspirasi produk, salah satu sorotan utama di booth USDEC adalah Protein Coffee Butter Cookie, kreasi modern dari butter cookie klasik yang memadukan rasa mentega yang kaya dengan kopi panggang dan konsentrat protein susu berkualitas tinggi dari Amerika Serikat. Cookie ini menunjukkan bagaimana bahan susu dari Amerika Serikat dapat membantu konsumen mendapatkan tambahan nutrisi melalui produk yang sudah mereka kenal dan sukai. Untuk menemani waktu minum teh, cookie ini memadukan kafein dan protein dari konsentrat protein susu serta permeate asal Amerika Serikat, dengan cita rasa kopi panggang yang kaya untuk menghadirkan camilan sore dengan tambahan protein.
“Dengan memadukan kelezatan butter cookie yang kaya rasa, tambahan protein dari susu Amerika Serikat, dan sentuhan kopi panggang, kami menciptakan camilan yang menyenangkan sekaligus menyediakan 6,5 gram protein berkualitas tinggi dalam setiap sajian yang terdiri dari empat cookie. Ini menunjukkan bahwa pilihan nutrisi yang lebih baik dapat dengan mudah menjadi bagian dari momen menikmati makanan sehari hari,” ujar Joanne Tey, Senior Manager, Food Applications and Innovation, USDEC.
Protein Coffee Butter Cookie juga mencerminkan minat konsumen terhadap produk yang lebih sehat namun tetap memberikan pengalaman menikmati makanan melalui berbagai sensasi, sejalan dengan tren “Layers of Delight” dari Innova Market Insights pada 2026². Tren ini menyoroti bagaimana momen konsumsi sehari hari dapat dibuat lebih menarik dengan tetap menyeimbangkan kepuasan dan nutrisi.
Diselenggarakan di Jakarta International Expo atau JIExpo, pameran ini menjadi wadah untuk menemukan berbagai bahan fungsional sekaligus memperkuat hubungan di industri makanan dan minuman. Berada di USA Pavilion, booth AIC06, USDEC membuka peluang kolaborasi antara produsen makanan Indonesia dan pemasok dari Amerika Serikat, termasuk eksportir produk susu Amerika Serikat yang hadir dalam pameran.
Pengunjung Fi Asia Indonesia 2026 dapat mengunjungi booth USDEC untuk mengetahui lebih lanjut mengenai keunggulan bahan susu dari Amerika Serikat, mencicipi Protein Coffee Butter Cookies, serta berdiskusi dengan para ahli teknis dan pemasok produk susu dari Amerika Serikat yang turut mendorong perkembangan industri makanan dan minuman.