Anggapan tersebut ternyata mulai terbantahkan. Riset Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) yang dipaparkan dalam ASEAN SEI-KATSU SHA FORUM 2026 pada Kamis, 3 September 2026 menemukan bahwa generasi 40+ justru memasuki fase yang berbeda dalam melihat teknologi, bahkan disebut sebagai Prime Generation dengan kekuatan di aspek finansial, wellness, dan teknologi.
HILL ASEAN menemukan bahwa Prime Generation semakin terbuka mempelajari berbagai platform digital, mulai dari editing video hingga AI, bahkan tidak ragu bertanya kepada anak atau generasi yang lebih muda ketika menemukan teknologi yang belum mereka pahami.
“Dari sekadar editing video, kemudian AI yang di coba-coba,” ujar Strategic Planning Manager Hakuhodo International Indonesia, Stephanie Anastasia.
Pola ini kemudian disebut sebagai open learning model, ketika pengetahuan tidak lagi berjalan satu arah, tetapi bisa datang dari siapa saja dan lintas generasi.
Dari Digital Adaptor Jadi “Digital Experimenter”
Strategic Planning Manager Hakuhodo International Indonesia, Sanu Pratomo, menyebutkan keterbukaan tersebut membuat hubungan generasi 40+ dengan teknologi berkembang lebih jauh. Mereka tidak sekadar memakai platform digital karena kebutuhan, tetapi mulai mencoba berbagai fungsi dan kemungkinan baru yang ditawarkan teknologi.“Jadi mereka bisa dibilang digital experimenter, bukan lagi digital adaptor,” ujar Sanu.
Kebiasaan ini juga terlihat dari aktivitas belanja digital, dengan lebih dari 73 persen Prime Generation dalam riset tersebut disebut pernah melakukan pembelian melalui live shopping, yang membuat mereka semakin familiar dengan ekosistem digital.
Sanu juga menjelaskan bahwa bagi Prime Generation, AI juga mulai dipandang sebagai alat yang bisa membantu mereka menjalani kehidupan dengan lebih maksimal.
“Bagi prime generation mereka melihat AI ini sebagai sesuatu yang sangat bisa membantu kehidupan mereka supaya lebih maksimal,” jelasnya.
| Baca Juga:
New York Ambil Langkah Berani: Larang Siswa SD-SMP Pakai AI |
Teknologi Jadi Modal Membangun “Second Life”
Fenomena tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa AI dan teknologi digital bukan hanya membantu generasi 40+ mengikuti perkembangan zaman. Teknologi juga memberi mereka ruang untuk membangun fase kehidupan baru berdasarkan pengalaman yang sudah dikumpulkan selama puluhan tahun.“Prime generation is building their second life. A life built on everything they've learned before,” ujar Strategic Planning Manager Hakuhodo International Indonesia, Siti Azizah.
Fase ini memungkinkan mereka mengeksplorasi lebih banyak minat, karya, peran, bahkan sumber penghasilan, atau seperti yang digambarkan dalam forum, memiliki “multiple interest, multiple karya, multiple stream of income, multiple role in life.” (Wisa Irena Br SItepu)