Jakarta: Keluarga Hartono selama ini dikenal sebagai salah satu konglomerasi yang sangat kuat di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, keluarga pemilik Djarum dan BCA tersebut mulai memperbesar langkahnya ke luar negeri.
Mengacu artikel The Edge Malaysia, Kamis, 10 September 2026 sedikitnya USD1,4 miliar telah digelontorkan melalui sejumlah entitas yang terkait dengan keluarga Hartono untuk investasi di luar negeri. Langkah ini menunjukkan perubahan strategi dari keluarga yang selama ini lebih banyak membangun bisnis dan asetnya di Indonesia.
Investasi tersebut dilakukan melalui sekitar sembilan entitas yang berbasis di Singapura dan London. Salah satu nama yang muncul adalah Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd.
Pada akhir 2023, Evergreen Hill menghabiskan USD669 juta untuk mengakuisisi bisnis kertas khusus di Amerika Serikat. Setahun kemudian, perusahaan tersebut kembali melakukan ekspansi dengan membayar €360 juta atau sekitar USD418 juta untuk produsen kertas rokok asal Austria.
Mengacu artikel The Edge Malaysia, Kamis, 10 September 2026 sedikitnya USD1,4 miliar telah digelontorkan melalui sejumlah entitas yang terkait dengan keluarga Hartono untuk investasi di luar negeri. Langkah ini menunjukkan perubahan strategi dari keluarga yang selama ini lebih banyak membangun bisnis dan asetnya di Indonesia.
Investasi tersebut dilakukan melalui sekitar sembilan entitas yang berbasis di Singapura dan London. Salah satu nama yang muncul adalah Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd.
Pada akhir 2023, Evergreen Hill menghabiskan USD669 juta untuk mengakuisisi bisnis kertas khusus di Amerika Serikat. Setahun kemudian, perusahaan tersebut kembali melakukan ekspansi dengan membayar €360 juta atau sekitar USD418 juta untuk produsen kertas rokok asal Austria.
Keluarga Hartono Mulai Sebar Aset ke Luar Negeri
Investasi dalam skala besar tersebut menjadi bagian dari strategi keluarga Hartono untuk memperluas sumber pendapatan dan aset ke berbagai negara.
Selain bisnis kertas, keluarga Hartono tersebut juga melakukan investasi pada perusahaan perangkat lunak jasa keuangan di Singapura dan disebut masih mempertimbangkan sejumlah transaksi lainnya.
Strategi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekspansi bisnis. Diversifikasi juga menjadi alasan penting di balik penambahan aset di luar negeri.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, pembelian terbaru didorong strategi keluarga untuk mendiversifikasi aliran pendapatan ke mata uang lain.
Dengan demikian, keluarga Hartono tidak hanya mengandalkan satu pasar maupun satu jenis bisnis untuk mempertahankan pertumbuhan kekayaan.
Selain bisnis kertas, keluarga Hartono tersebut juga melakukan investasi pada perusahaan perangkat lunak jasa keuangan di Singapura dan disebut masih mempertimbangkan sejumlah transaksi lainnya.
Strategi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekspansi bisnis. Diversifikasi juga menjadi alasan penting di balik penambahan aset di luar negeri.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, pembelian terbaru didorong strategi keluarga untuk mendiversifikasi aliran pendapatan ke mata uang lain.
Dengan demikian, keluarga Hartono tidak hanya mengandalkan satu pasar maupun satu jenis bisnis untuk mempertahankan pertumbuhan kekayaan.
Kenapa Singapura Jadi Basis Investasi?
Singapura sudah lama menjadi salah satu basis keluarga Hartono untuk mengelola sebagian aktivitas bisnis dan asetnya.
Keluarga tersebut memiliki sejumlah entitas di Singapura. Beberapa di antaranya juga terdaftar di yurisdiksi seperti British Virgin Islands dan Kepulauan Cayman.
Keberadaan basis bisnis di Singapura memberikan akses yang lebih dekat ke pasar Asia sekaligus menjadi bagian dari strategi diversifikasi keluarga.
Namun, sebagian besar aset keluarga Hartono tetap berada di Indonesia. Keluarga ini memiliki portofolio bisnis yang sangat beragam, mulai dari perbankan, industri rokok, distribusi kendaraan listrik, peternakan sapi perah, hingga bisnis restoran.
Keluarga tersebut memiliki sejumlah entitas di Singapura. Beberapa di antaranya juga terdaftar di yurisdiksi seperti British Virgin Islands dan Kepulauan Cayman.
Keberadaan basis bisnis di Singapura memberikan akses yang lebih dekat ke pasar Asia sekaligus menjadi bagian dari strategi diversifikasi keluarga.
Namun, sebagian besar aset keluarga Hartono tetap berada di Indonesia. Keluarga ini memiliki portofolio bisnis yang sangat beragam, mulai dari perbankan, industri rokok, distribusi kendaraan listrik, peternakan sapi perah, hingga bisnis restoran.
Dari Bisnis Rokok hingga Jadi Konglomerasi
Kisah sukses keluarga Hartono bermula dari bisnis rokok kretek. Ayah Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, Oei Wie Gwan, mendirikan bisnis yang kemudian dikenal sebagai PT Djarum pada 1951 di Kudus, Jawa Tengah.
Dari bisnis rokok tersebut, keluarga Hartono kemudian membangun kerajaan bisnis yang jauh lebih luas.
Djarum berkembang menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Pada 2025, perusahaan tersebut disebut memproduksi sekitar seperlima dari total rokok yang dijual di Indonesia berdasarkan data Euromonitor International.
Namun keluarga Hartono tidak berhenti di industri rokok. Seiring perubahan industri, mereka melakukan diversifikasi ke berbagai sektor, termasuk perbankan, properti, kendaraan listrik, perkebunan kelapa sawit, peternakan, hingga bisnis digital dan ritel.
Salah satu aset paling penting dalam perjalanan keluarga ini adalah Bank Central Asia (BCA).
Dari bisnis rokok tersebut, keluarga Hartono kemudian membangun kerajaan bisnis yang jauh lebih luas.
Djarum berkembang menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Pada 2025, perusahaan tersebut disebut memproduksi sekitar seperlima dari total rokok yang dijual di Indonesia berdasarkan data Euromonitor International.
Namun keluarga Hartono tidak berhenti di industri rokok. Seiring perubahan industri, mereka melakukan diversifikasi ke berbagai sektor, termasuk perbankan, properti, kendaraan listrik, perkebunan kelapa sawit, peternakan, hingga bisnis digital dan ritel.
Salah satu aset paling penting dalam perjalanan keluarga ini adalah Bank Central Asia (BCA).
BCA Jadi Salah Satu Mesin Kekayaan Hartono
Michael dan Robert Hartono bersama Farallon Capital Management membeli saham pengendali BCA pada 2002 dengan nilai sekitar USD537 juta.
Investasi tersebut kemudian berkembang sangat besar. Nilai pasar BCA saat ini mencapai sekitar USD46,2 miliar, menjadikannya salah satu bank dengan nilai terbesar di Asia Tenggara.Kesuksesan di sektor perbankan memperkuat kemampuan keluarga Hartono untuk melakukan ekspansi ke sektor lain.
Dari sinilah pola diversifikasi keluarga tersebut terlihat semakin jelas yaitu membangun bisnis utama, mengembangkan aset di sektor berbeda, lalu memperluas portofolio ke pasar internasional.
Investasi tersebut kemudian berkembang sangat besar. Nilai pasar BCA saat ini mencapai sekitar USD46,2 miliar, menjadikannya salah satu bank dengan nilai terbesar di Asia Tenggara.Kesuksesan di sektor perbankan memperkuat kemampuan keluarga Hartono untuk melakukan ekspansi ke sektor lain.
Dari sinilah pola diversifikasi keluarga tersebut terlihat semakin jelas yaitu membangun bisnis utama, mengembangkan aset di sektor berbeda, lalu memperluas portofolio ke pasar internasional.