Namun, pertumbuhan pasar tersebut tidak hanya membutuhkan masuknya teknologi dan merek baru. Industri juga menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, memperkuat kemampuan integrasi sistem, serta memastikan produk yang beredar memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.
| Baca juga: Google Rilis Laporan AI, Wamen Ekraf: Kreator dan Teknologi Harus Jalan Bareng! |
Gambaran mengenai dinamika tersebut terlihat dari penyelenggaraan PRO AVL Indonesia 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, yang berlangsung hingga 31 Juli. Pameran tersebut diikuti 60 brand dari 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, China, Spanyol, dan Indonesia.
Kehadiran berbagai pemain internasional menunjukkan besarnya ruang yang masih tersedia di pasar Indonesia. Di sisi lain, semakin terbukanya pasar juga membuat pelaku industri lokal menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan agar mampu bersaing.
CEO Krista Exhibitions Group Daud D. Salim mengatakan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat membuat kolaborasi antar pelaku industri menjadi semakin penting.
"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kolaborasi menjadi kunci untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan," ujar Daud dalam keteranganya.
Menurut dia, hubungan antara produsen, distributor, integrator sistem, dan pelaku industri lainnya dapat membuka peluang bisnis sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Potensi pasar AVL sendiri tidak terbatas pada industri musik. Teknologi audio dan visual juga digunakan dalam konser, konferensi, perhotelan, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, ruang publik, hingga berbagai kegiatan komersial.
Perluasan penggunaan tersebut membuat kebutuhan terhadap system integrator dan tenaga profesional dengan kemampuan teknis ikut meningkat. Perangkat yang digunakan dalam sebuah proyek tidak lagi berdiri sendiri, melainkan harus dapat diintegrasikan agar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Standardisasi untuk perkembangan industri
Dalam rangkaian PRO AVL Indonesia 2026, Kementerian Perindustrian bersama Asosiasi Pengusaha Audio Video Musik Indonesia (APAVMI) membahas pemberlakuan dan pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Audio Video secara wajib.Penerapan standar menjadi semakin relevan ketika pasar Indonesia semakin terbuka terhadap produk impor. Bagi industri, standardisasi tidak hanya menyangkut kualitas dan keamanan produk, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mendorong persaingan yang lebih sehat.
Pada saat yang sama, pertumbuhan industri AVL membutuhkan ketersediaan sumber daya manusia. Teknologi yang semakin kompleks membuat kemampuan teknis, kreativitas, serta pemahaman terhadap sistem menjadi semakin penting.
Kebutuhan tersebut juga berkaitan erat dengan perkembangan industri musik. Kompetisi vokal dan drum yang digelar dalam rangkaian acara tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi AVL berjalan beriringan dengan pertumbuhan talenta dan aktivitas kreatif.
Grand Final SING OUT LOUD 2026, misalnya, akan mempertemukan 49 finalis dari lebih dari 100 peserta audisi. Kompetisi tersebut terbagi dalam kategori Pop, Musical, dan Classical.
Sementara itu, Drum Competition bersama APAVMI melibatkan sejumlah musisi dan praktisi musik, antara lain Echa Soemantri, Yoiqball, Budhy Haryono, Harry Murty, Nicko Prabowo, Yandi Andraputra, Bowie Champa, dan Bowie Djat.
Dari sisi bisnis, pertemuan antara produsen, distributor, system integrator, calon pembeli, investor, dan pemilik proyek juga menjadi bagian dari perkembangan ekosistem AVL. Interaksi tersebut dapat mempertemukan kebutuhan proyek dengan teknologi yang tersedia di pasar.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan pertumbuhan pasar tidak berhenti pada peningkatan penjualan perangkat. Pertumbuhan yang lebih berkelanjutan membutuhkan peningkatan kapasitas industri dalam negeri, pengembangan tenaga profesional, kepatuhan terhadap standar, serta kemampuan menciptakan nilai tambah dari teknologi yang masuk.
Dengan pasar hiburan dan ekonomi kreatif yang terus berkembang, industri AVL berpeluang menjadi bagian dari rantai ekonomi kreatif yang lebih besar. Besarnya peluang tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia membangun ekosistem yang tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi global, tetapi juga mampu menghasilkan pelaku usaha, tenaga profesional, dan solusi teknologi yang kompetitif.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda