Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo mengatakan penurunan tersebut tidak lepas dari tekanan pada hasil investasi.
“Penurunan ini kita lihat adalah dalam konteks tekanan pada hasil investasi,” kata Albertus dalam konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Periode Semester I 2026, pada Senin, 31 Agustus 2026.
Meski total pendapatan turun, kondisi industri ternyata tidak sepenuhnya negatif. Sejumlah indikator utama justru masih mencatat pertumbuhan, terutama bisnis baru dan jumlah masyarakat yang memiliki perlindungan asuransi.
Pendapatan Turun, Hasil Investasi Jadi Beban
Penurunan pendapatan industri salah satunya dipengaruhi oleh hasil investasi yang mengalami tekanan cukup besar. Pada semester I-2025 hasil investasi masih positif Rp16,19 triliun, angka tersebut berbalik menjadi negatif Rp2,47 triliun pada semester I 2026.Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Meylindawati Tjoa, mengatakan kondisi tersebut mencerminkan pengaruh naik-turunnya pasar keuangan dalam jangka pendek.
“Namun perlu ditekankan bahwa investasi industri asuransi jiwa berorientasi jangka panjang, sehingga kinerja dalam kurun waktu tertentu saja tidak dapat disimpulkan dari siklus pasar secara keseluruhan,” ujarnya.
Di sisi lain, pendapatan premi secara unweighted justru mencapai Rp94,75 triliun atau tumbuh 8,2 persen. Sementara secara weighted, pendapatan premi tercatat Rp58,06 triliun atau turun tipis 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
| Baca Juga: Begini Cara Maksimalkan Potensi Agen Asuransi Jiwa |
Bisnis Baru Tumbuh, Tertanggung Makin Banyak
Di tengah tekanan tersebut, bisnis baru menjadi salah satu sinyal positif bagi industri asuransi jiwa. Premi bisnis baru secara unweighted mencapai Rp57,75 triliun atau tumbuh 20,5 persen, sedangkan secara weighted mencapai Rp21,06 triliun atau naik 11,5 persen.Pertumbuhan juga terlihat pada produk tradisional dan unit link. Premi bisnis baru produk tradisional naik 14,2 persen menjadi Rp37,97 triliun, sedangkan premi bisnis baru unit link melonjak 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun.
“Pertumbuhan bisnis baru ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap perlindungan baru tetap tumbuh dan masyarakat masih mencari solusi asuransi yang sesuai dengan kondisi serta tujuan finansialnya,” kata Albertus.
Jumlah masyarakat yang terlindungi asuransi juga meningkat cukup signifikan. AAJI mencatat total tertanggung mencapai 153,58 juta orang atau tumbuh 24,8 persen, sementara jumlah polis naik 7,7 persen menjadi 22,44 juta polis.
Premi Lanjutan dan Investasi Masih Jadi Tantangan
Meski bisnis baru tumbuh, industri masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan nasabah yang sudah ada. Premi lanjutan tercatat Rp37,01 triliun atau turun 6,7 persen pada semester I 2026.“Pertumbuhan bisnis baru menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap asuransi jiwa tetap terjaga baik. Di sisi lain premi lanjutan tentunya perlu terus menjadi perhatian karena mencerminkan keberlanjutan perlindungan yang sudah dimiliki oleh nasabah,” ujar Albertus.
Tekanan juga masih terlihat dari sisi investasi meskipun aset dan total investasi industri tetap tumbuh. Total aset mencapai sekitar Rp645,08 triliun atau naik 2,3 persen, sedangkan total investasi mencapai Rp564,42 triliun atau tumbuh 2,4 persen.
Dalam portofolio investasi, Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen terbesar dengan nilai Rp251,64 triliun atau sekitar 44 persen dari total investasi. Selain itu, sekitar 18 persen investasi ditempatkan pada saham, 12 persen pada reksadana, dan 10 persen pada suku korporasi. (Wisa Irena Br Sitepu)