Gempa NTT. Foto: Medcom.id.
Gempa NTT. Foto: Medcom.id.

Bank BUMN Turun Tangan, Seberapa Penting Peran Perbankan Jaga Ekonomi NTT Pascagempa?

Arif Wicaksono • 28 Agustus 2026 17:57

Jakarta: Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik dan korban jiwa. 

Bencana tersebut juga menguji ketahanan aktivitas ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah terdampak. Di tengah kondisi darurat, keberadaan perbankan menjadi penting untuk memastikan masyarakat tetap dapat mengakses uang, melakukan pembayaran, menerima bantuan, hingga menjalankan kembali aktivitas usaha.

Baca juga: Pascagempa NTT, Pertamina Jaga BBM, LPG, hingga Avtur Tetap Aman

Bagi masyarakat yang berada di wilayah bencana, akses terhadap layanan keuangan bukan sekadar persoalan transaksi. Ketika kantor cabang mengalami kerusakan, jaringan listrik terganggu atau akses jalan terputus, masyarakat tetap membutuhkan uang untuk membeli makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan sehari-hari. Karena itu, keberlangsungan sistem pembayaran menjadi salah satu bagian penting dalam proses pemulihan ekonomi pascagempa.

Peran tersebut mulai terlihat dari langkah sejumlah bank BUMN yang tetap berupaya menjaga operasional layanan sekaligus turun langsung memberikan bantuan kemanusiaan. BNI, misalnya, memastikan layanan perbankan tetap berjalan di wilayah terdampak, meskipun salah satu kantor cabangnya harus ditutup sementara akibat kerusakan bangunan.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan keselamatan pegawai dan nasabah menjadi prioritas. Dari 25 outlet BNI di area Ende dan Maumere, sebanyak 24 outlet tetap beroperasi. 

Sementara KCP Borong untuk sementara tidak dapat digunakan karena mengalami keretakan pada bangunan. BNI juga menyiapkan O-Branch atau layanan gerak sebagai alternatif pelayanan transaksi masyarakat di lokasi tersebut.

"Keselamatan pegawai dan nasabah menjadi prioritas. Dengan dukungan jaringan kantor, O-Branch, serta kanal elektronik dan digital, kami memastikan kebutuhan layanan perbankan masyarakat tetap dapat terlayani selama proses pemulihan," ujar Okki. 

Langkah tersebut menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, bank tidak cukup hanya mempertahankan kantor fisik, tetapi juga harus memastikan masyarakat memiliki alternatif untuk mengakses layanan keuangan.

Hal serupa dilakukan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang telah menyiapkan mitigasi agar layanan perbankan tetap dapat diakses masyarakat melalui BRImo dan jaringan BRILink Agen yang tersedia. Pada saat yang sama, BRI juga melakukan pengamanan aset serta asesmen terhadap kondisi bangunan dan fasilitas operasional di wilayah terdampak.

"BRI memastikan keselamatan nasabah dan pekerja menjadi prioritas utama," kata Corporate Secretary BRI Dhanny. 

Menurut dia, akses melalui BRImo dan BRILink menjadi bagian dari langkah mitigasi agar kebutuhan transaksi masyarakat tetap dapat dilayani di tengah kondisi pascabencana.

Selain menjaga transaksi, BRI juga memperluas perannya dalam bantuan kemanusiaan. BRI membangun tiga posko logistik di Manggarai Barat, Ngada, dan Nagekeo serta satu dapur umum di Nagekeo. Bantuan yang disalurkan antara lain makanan, obat-obatan, sembako, air minum, tenda, terpal, selimut, lampu darurat, perlengkapan mandi dan kebutuhan bayi.

Bank Mandiri juga bergerak melalui program Mandiri Peduli Gempa NTT. Bank ini menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak sekaligus berupaya memastikan layanan perbankan tetap berjalan. Regional CEO Region XI Bank Mandiri Alexander Jonathan Patty menyebut langkah tersebut sebagai bentuk kepedulian sekaligus bagian dari sinergi berbagai pihak dalam merespons kebutuhan masyarakat terdampak.

Bank Mandiri kemudian memperkuat koordinasi lintas sektor bersama pemerintah daerah di NTT, NTB, dan Bali melalui program Mandiri Peduli. Puluhan relawan Bank Mandiri juga dikerahkan untuk membantu distribusi bantuan dan logistik kepada korban gempa. Regional CEO Alexander Jonathan Patty menilai semangat gotong royong penting untuk memastikan bantuan dapat diterima masyarakat selama masa tanggap darurat.

Dari perspektif kebencanaan, pentingnya menjaga akses ekonomi tersebut tidak terlepas dari kondisi geografis Flores. BNPB mencatat terdapat wilayah yang sulit dijangkau kendaraan karena berada di kawasan perbukitan. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan pemetaan udara dilakukan antara lain untuk menentukan jalur distribusi bantuan dan titik yang memungkinkan digunakan untuk penurunan logistik melalui helikopter.

Kondisi akses tersebut membuat sistem keuangan digital dan jaringan agen perbankan memiliki nilai strategis. Ketika kantor cabang atau ATM tertentu tidak dapat digunakan, transaksi melalui aplikasi dan agen dapat menjadi alternatif bagi masyarakat, selama jaringan komunikasi dan infrastruktur pendukung masih tersedia. Dengan demikian, keberlanjutan layanan keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga roda ekonomi tetap bergerak setelah bencana.

Pemerintah Provinsi NTT sendiri terus menggerakkan bantuan dan dana tanggap darurat. Hingga 18 Agustus 2026, dana penampungan bantuan bencana yang dihimpun Pemprov NTT mencapai sekitar Rp4,36 miliar. Pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan logistik melalui BPBD serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga menekankan pentingnya dukungan bagi masyarakat terdampak, termasuk kelompok rentan. Pemprov NTT menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan makanan, minuman, tenda dan selimut, termasuk melalui mekanisme yang membuat kebutuhan warga dapat dipenuhi lebih cepat sekaligus membuat aktivitas ekonomi di tingkat kios masyarakat tetap berjalan.

Di tingkat nasional, Presiden Prabowo Subianto juga mengalokasikan bantuan kemasyarakatan sebesar Rp200 miliar untuk penanganan gempa NTT. Dana tersebut terdiri atas Rp40 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT dan masing-masing Rp20 miliar untuk delapan kabupaten terdampak di Pulau Flores. Kepala BNPB Suharyanto memastikan bantuan Rp20 miliar untuk setiap kabupaten telah diterima pemerintah daerah dan harus digunakan khusus untuk penanganan bencana.

Presiden Prabowo menilai pemerintah daerah juga perlu memiliki cadangan logistik untuk menghadapi keadaan darurat. "Para bupati, gubernur harusnya juga sudah punya lumbung-lumbung cadangan," kata Prabowo saat memimpin rapat penanganan bencana di Nagekeo. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascagempa tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat, tetapi juga penguatan ketahanan daerah menghadapi bencana berikutnya.

Pada akhirnya, peran bank dalam situasi seperti gempa NTT memiliki dua sisi yang sama penting. Pertama, bank harus memastikan masyarakat tetap bisa melakukan transaksi dan mengakses dana ketika aktivitas ekonomi terganggu. 

Kedua, bank BUMN memiliki kapasitas untuk menjadi bagian dari jaringan bantuan nasional melalui distribusi logistik, posko, relawan, hingga dukungan pemulihan masyarakat. Jika layanan keuangan dapat terus berjalan, bantuan pemerintah dan dunia usaha dapat disalurkan dengan lebih efektif dan masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk kembali menjalankan aktivitas ekonominya. Dengan kata lain, menjaga mesin perbankan tetap hidup di tengah bencana bukan hanya soal menjaga bisnis bank, tetapi juga menjaga denyut ekonomi masyarakat agar tidak ikut berhenti.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan