Standar Industri. Foto: Unsplash.
Standar Industri. Foto: Unsplash.

Cara BUMA Ciptakan SDM Berkualitas untuk Penuhi Tuntutan Pelaku Industri

Arif Wicaksono • 30 Oktober 2026 18:46
Ringkasnya gini..
  • Kesenjangan kompetensi antara lulusan pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia industri masih menjadi tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja siap pakai di Indonesia.
  • Salah satu upaya menjawab tantangan tersebut dilakukan PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) melalui program BUMA School
Jakarta: Kesenjangan kompetensi antara lulusan pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia industri masih menjadi tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja siap pakai di Indonesia. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku industri dinilai penting untuk memastikan keterampilan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Salah satu upaya menjawab tantangan tersebut dilakukan PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) melalui program BUMA School. Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi teknis sekaligus membangun kesiapan kerja siswa SMK melalui pembelajaran yang melibatkan praktisi industri.

Pada tahun ajaran 2025/2026, BUMA School diikuti 200 siswa dari 10 SMK yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Seluruh peserta berhasil menyelesaikan program dan memperoleh sertifikasi Basic Mechanic Course.
 
Dari jumlah tersebut, sebanyak 170 siswa juga mendapatkan sertifikasi kompetensi mekanik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sementara itu, 20 siswa memperoleh kesempatan menjalani praktik kerja industri (PRAKERIN) di BUMA Rebuild Center, Balikpapan.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mempersempit kesenjangan antara pembelajaran di sekolah dan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri, khususnya pertambangan.

Direktur Utama BUMA Dian Sofia Andyasuri mengatakan, kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis. Calon tenaga kerja juga perlu memiliki kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim, serta pemahaman terhadap standar keselamatan dan profesionalisme.

"Dengan pengalaman BUMA selama lebih dari dua dekade di industri pertambangan, kami memahami bahwa kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga disiplin, kemampuan beradaptasi, bekerja sama, serta pemahaman terhadap standar kerja profesional," ujar Dian.

Melalui BUMA School, perusahaan berupaya membawa pengalaman dan standar industri lebih dekat kepada siswa sejak masih menempuh pendidikan SMK. Dengan demikian, kompetensi yang diperoleh peserta diharapkan semakin relevan dengan kebutuhan perusahaan ketika memasuki dunia kerja.

Program ini memiliki sejumlah tahapan, mulai dari seleksi peserta, pembelajaran kurikulum teknis, pengembangan soft skills, pembinaan mental dan fisik (Bintalsik), pemanfaatan Learning Management System (LMS), praktik kerja industri, hingga sertifikasi kompetensi.

Dalam pelaksanaannya, BUMA bertindak sebagai pemilik program, sedangkan PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), anak usaha sekaligus social arm BUMA International Group, berperan sebagai pelaksana program.

Keterlibatan industri secara langsung diharapkan dapat memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih aplikatif. Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga memahami budaya kerja, prosedur operasional, kedisiplinan, dan standar keselamatan yang berlaku di lingkungan industri.

Dampak program tersebut juga terlihat dari penyerapan alumninya. Hingga saat ini, lebih dari 400 alumni BUMA School telah bekerja di BUMA maupun perusahaan lainnya.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2018, program tersebut telah menjangkau 2.236 siswa, meningkatkan kapasitas 32 guru, serta melibatkan 16 SMK di tujuh provinsi. Program ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik agar transfer pengetahuan dan pengalaman industri dapat berlanjut di lingkungan sekolah.

Kepala Jurusan Program Studi Otomotif Teknik Kendaraan Ringan sekaligus Koordinator BUMA School dari SMKN 5 Sidrap, Mardin Umar, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan kepada sekolah untuk meningkatkan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut dia, keterlibatan industri memberikan nilai tambah bagi siswa maupun sekolah, terutama melalui akses pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik kerja profesional.

"BUMA School memberikan dampak yang sangat positif bagi sekolah. Melalui program tersebut, siswa memperoleh akses terhadap pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan industri, sementara sekolah mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pendidikan vokasi yang diberikan," ungkap Mardin.

Salah satu alumni BUMA School, Oktavian Dwi S, yang kini bekerja sebagai mekanik di BUMA, mengatakan pengalaman mengikuti program tersebut membantunya beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional.

Selain keterampilan teknis, pemahaman mengenai disiplin, kerja sama tim, standar keselamatan, dan prosedur kerja menjadi bekal penting dalam menjalankan pekerjaannya.

Untuk memperluas jangkauan program, BUMA kembali menjalin kerja sama dengan empat SMK melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk tahun ajaran 2026/2027. Keempat sekolah tersebut adalah SMK Negeri 1 Balikpapan, SMK Negeri 1 Singosari, SMK Swasta Warga Solo, dan SMK Swasta Tabalong.

Melalui keberlanjutan program ini, BUMA berharap kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri dapat memberikan kontribusi lebih luas terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Kami ingin BUMA School terus tumbuh dan memberikan dampak yang semakin luas, sehingga semakin banyak anak muda Indonesia yang tidak hanya lulus dengan membawa ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi, karakter, dan kesiapan untuk membangun karier mereka," tutup Dian.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan