Konsep jualannya pun fleksibel. Kamu bisa mulai dari berjualan sambil berjalan kaki, menggunakan sepeda, gerobak dorong, hingga motor yang dimodifikasi menjadi tempat berjualan.
Merangkum laman Sahabat Pegadaian, Kamis, 17 September 2026, kelebihan jualan kopi keliling diantaranya adalah fleksibilitas lokasi jualan yang bisa berpindah mengikuti keramaian. Area perkantoran, kampus, taman, hingga tempat berkumpulnya komunitas bisa menjadi target pasar.
Dengan skala sederhana, modal usaha kopi keliling diperkirakan mulai Rp1 juta-Rp2,5 juta. Jika menggunakan gerobak atau motor modifikasi dengan perlengkapan lebih lengkap, modalnya bisa mencapai Rp8 juta.
Lantas, berapa modal yang perlu disiapkan dan seberapa besar potensi omzetnya?
Potensi Usaha Kopi Keliling
Kopi memiliki pasar yang cukup luas. Pekerja, mahasiswa, hingga komunitas dapat menjadi calon pelanggan, terutama jika kamu memilih lokasi jualan yang ramai.Model bisnis kopi keliling juga memungkinkan pelaku usaha menyesuaikan skala bisnis dengan modal yang tersedia.
Jika baru ingin mencoba, kamu tidak harus langsung membeli gerobak atau memodifikasi motor. Peralatan sederhana dengan konsep berjalan kaki atau menggunakan sepeda sudah bisa menjadi titik awal.
Harga jual juga dapat disesuaikan dengan target konsumen dan menu yang ditawarkan. Dalam contoh usaha ini, harga kopi berada di kisaran Rp5 ribu-Rp15 ribu per gelas.
Namun, harga jual bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Lokasi berjualan, jumlah gelas yang terjual, biaya bahan baku, dan pengeluaran operasional akan menentukan keuntungan sebenarnya.
Modal Usaha Kopi Keliling Berapa?
Besarnya modal awal sangat bergantung pada konsep jualan yang dipilih. Untuk skala kecil dengan konsep berjalan kaki atau menggunakan sepeda, modal yang dibutuhkan diperkirakan sekitar Rp1 juta-Rp2,5 juta.Jika menggunakan gerobak dorong sederhana, kebutuhan modal bisa berada di kisaran Rp3 juta-Rp5 juta. Sementara itu, konsep menggunakan motor modifikasi atau stand portable dengan peralatan yang lebih lengkap membutuhkan modal sekitar Rp5 juta-Rp8 juta.
Angka tersebut merupakan estimasi dan dapat berubah berdasarkan merek peralatan, kualitas barang, lokasi pembelian, hingga menu yang ditawarkan.
Rincian Modal Usaha Kopi Keliling
Agar lebih mudah menghitung kebutuhan dana, modal dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yakni peralatan, bahan baku, dan biaya operasional.1. Peralatan Dasar
Beberapa perlengkapan yang perlu disiapkan antara lain termos air panas dengan perkiraan harga Rp150 ribu-Rp300 ribu.Kompor portable dan gas kecil membutuhkan sekitar Rp300 ribu-Rp500 ribu. Kemudian, gelas plastik, tutup, dan sedotan diperkirakan membutuhkan Rp200 ribu-Rp300 ribu. Ada pula perlengkapan seperti sendok, wadah gula, dan toples kopi yang membutuhkan sekitar Rp100 ribu-Rp200 ribu.
Jika ingin menggunakan sarana jualan yang lebih praktis, kamu bisa menambahkan gerobak dorong atau melakukan modifikasi motor.Biaya gerobak atau modifikasi motor diperkirakan sekitar Rp2 juta-Rp5 juta.
Dengan demikian, kebutuhan peralatan secara keseluruhan dapat berada di kisaran Rp750 ribu-Rp6 juta, tergantung konsep usaha yang dipilih.
2. Bahan Baku Harian
Bahan baku menjadi salah satu komponen biaya yang perlu dihitung sejak awal. Untuk gambaran produksi sekitar 100 gelas, bubuk kopi 1 kilogram membutuhkan sekitar Rp60 ribu-Rp100 ribu.Gula pasir sekitar Rp15 ribu-Rp20 ribu per kilogram. Sementara itu, susu kental manis membutuhkan sekitar Rp10 ribu-Rp12 ribu per kaleng. Kebutuhan lainnya adalah air mineral galon sekitar Rp20 ribu dan es batu sekitar Rp10 ribu jika kamu menjual kopi dingin.
Secara keseluruhan, kebutuhan bahan baku harian diperkirakan sekitar Rp100 ribu-Rp200 ribu untuk produksi kurang lebih 100 gelas. Jumlah tersebut bisa berbeda karena bergantung pada resep, ukuran gelas, dan jenis menu yang dijual.
3. Biaya Operasional
Jangan lupa memasukkan biaya operasional ke dalam perhitungan bisnis. Gas isi ulang, misalnya, membutuhkan sekitar Rp20 ribu-Rp25 ribu, tergantung ukuran dan harga di daerah masing-masing.Jika menggunakan motor untuk berjualan, biaya transportasi diperkirakan sekitar Rp200 ribu-Rp400 ribu per bulan.Sementara kebutuhan pendukung seperti plastik dan tisu dapat menghabiskan sekitar Rp50 ribu-Rp100 ribu per bulan.
Hitung-hitungan Omzet Kopi Keliling
Setelah mengetahui kebutuhan modal, langkah berikutnya adalah menghitung potensi omzet. Sebagai contoh, kopi dijual dengan harga Rp7 ribu per gelas. Jika mampu menjual 100 gelas dalam sehari, omzet kotor yang diperoleh mencapai sekitar Rp700 ribu per hari.Namun, omzet bukan berarti keuntungan bersih. Dari angka tersebut masih harus dikurangi biaya bahan baku dan operasional. Dalam contoh perhitungan tersebut, keuntungan bersih diperkirakan berada di kisaran Rp300 ribu-Rp400 ribu per hari setelah dikurangi biaya-biaya terkait.
Angka ini tentu bukan jaminan keuntungan karena hasil sebenarnya bergantung pada jumlah penjualan, harga bahan baku, harga jual, lokasi, serta biaya operasional.
Potensi Omzet Rp6 Juta-Rp12 Juta Sebulan
Untuk skenario yang lebih sederhana, misalnya harga kopi berada di kisaran Rp5 ribu-Rp8 ribu per gelas dan penjualan mencapai 40-50 gelas per hari, omzet harian diperkirakan sekitar Rp200 ribu-Rp400 ribu.Jika penjualan berlangsung konsisten selama satu bulan, omzet kotor dapat mencapai sekitar Rp6 juta-Rp12 juta. Sekali lagi, angka tersebut merupakan omzet kotor sehingga belum dikurangi biaya bahan baku, transportasi, gas, kemasan, dan pengeluaran lainnya.
Karena itu, pencatatan keuangan menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha kopi keliling. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran setiap hari, pelaku usaha dapat mengetahui berapa keuntungan sebenarnya, mengevaluasi menu yang paling laku, sekaligus menentukan kapan bisnis siap dikembangkan.