Ilustrasi harga BBM. Foto: Medcom.id
Ilustrasi harga BBM. Foto: Medcom.id

Harga Pertamax Berpeluang Lebih Murah Bulan Depan

Annisa ayu artanti • 25 Juni 2026 14:38
Ringkasnya gini..
  • Harga minyak dunia turun setelah distribusi melalui Selat Hormuz kembali normal.
  • Kondisi oversupply membuat harga minyak bergerak di bawah USD70 per barel.
  • Pengamat menilai BBM nonsubsidi berpotensi turun jika tren harga minyak berlanjut.
Jakarta: Kabar baik bagi pengguna BBM nonsubsidi. Tren penurunan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir membuka peluang turunnya harga bahan bakar nonsubsidi pada periode berikutnya.
 
Pelemahan harga minyak mentah global terjadi setelah jalur distribusi energi dunia kembali normal, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia. 
 
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai kondisi pasar saat ini menunjukkan adanya kelebihan pasokan minyak yang cukup besar dibandingkan permintaan.

Distribusi Minyak Kembali Normal, Harga Langsung Terkoreksi

Menurut Ibrahim, sekitar 20 persen transportasi minyak mentah dunia yang melewati Selat Hormuz kini telah kembali berjalan normal. Kondisi tersebut memberikan dampak langsung terhadap harga minyak dunia.

"Transportasi minyak mentah dunia melalui selat hormus sebesar 20 persen saat ini sudah kembali normal. Sehingga bersamaan dengan dibukanya selat hormus, kemudian transportasi ini berjalan dengan lancar, membuat harga minyak mentah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Apalagi kita melihat bahwa saat ini terjadi oversupply," kata Ibrahim, Kamis, 25 Juni 2026.
 
Baca juga: Pertamina Tegaskan Harga Pertamax Mengacu Mekanisme Pasar dan Formula Pemerintah

Ia menjelaskan pasokan minyak global saat ini terus meningkat, sementara permintaan justru mengalami perlambatan.

Oversupply Jadi Pemicu Utama Harga Minyak Turun

Sebelum ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat mengganggu jalur distribusi energi, pasar minyak sebenarnya sudah mengalami kondisi kelebihan pasokan.
 
Ibrahim menilai faktor tersebut menjadi penyebab utama harga minyak kembali melemah setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
 
"Apa yang membuat harga minyak terjun bebas? Kita lihat bahwa sebelum terjadi penutupan selat hormus, permintaan minyak pun juga sedikit. Terjadi oversupply. Negara-negara anggota OPEC terus mengurangi produksinya," tuturnya.
 
Namun saat jalur pelayaran sempat terganggu, harga minyak melonjak akibat kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
 
"Tetapi kita lihat setelah selat hormus ditutup, akibat komplit geopolitik membuat harga minyak melambung tinggi. Tetapi setelah dibuka ini membuat harga minyak di bawah USD70. Bahkan saat ini ditransasikan di USD69, ada kemungkinan besar di minggu depan akan ke USD65," ungkapnya.

Apakah harga Pertamax akan turun?

Penurunan harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor penting dalam penentuan harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Ketika harga minyak dunia turun, ruang untuk melakukan penyesuaian harga BBM menjadi semakin terbuka.
 
Menurut Ibrahim, jika tren harga minyak terus bergerak di bawah asumsi yang digunakan dalam APBN, maka penurunan harga BBM nonsubsidi seharusnya menjadi opsi yang dipertimbangkan.
 
"Nah, dari USD65 per barrel kemudian di pasaran harga minyak bervariasi, dijual di USD10 sampai USD30 per barrel, kemungkinan besar ini masih akan terus berlanjut di bulan Juli. Dan pemerintah wajib, bukan lagi tidak, wajib menurunkan PBM nonsubsidi, terutama adalah Pertamax, Pertamak Green, Pertamak Turbo, dan lain-lainnya. Karena harga sudah melampaui, sudah di bawah harga yang sesuai dengan APBN di USD70 per barrel," jelasnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan