Jakarta: Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi kesempatan bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) untuk mempertegas komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional. Salah satu fokusnya adalah mengoptimalkan panas bumi sebagai sumber energi lokal yang bersih, stabil, dan dapat diandalkan untuk memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan energi Indonesia.
Langkah tersebut semakin relevan di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian energi global. Indonesia sendiri memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), tetapi pemanfaatannya saat ini masih kurang dari 12 persen. Dari potensi tersebut, PGE memiliki sekitar 3 GW di wilayah kerja panas bumi (WKP) Perseroan, dengan kapasitas terpasang yang dioperasikan secara mandiri mencapai 727 megawatt (MW).
| Baca juga: Kelistrikan Nasional Andal, PLN Sukses Layani Upacara HUT Ke-81 RI di Istana Merdeka dan di Berbagai Daerah |
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, kedaulatan energi tidak sebatas memastikan kebutuhan listrik terpenuhi. Lebih dari itu, kedaulatan energi berarti memastikan Indonesia mampu mengandalkan sumber energi dalam negeri yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ujar Ahmad Yani.
Menurutnya, panas bumi memiliki keunggulan karena merupakan energi lokal yang dapat beroperasi selama 24 jam, tidak bergantung pada bahan bakar impor, serta tidak terpengaruh secara langsung oleh perubahan cuaca. Karena itu, panas bumi bukan hanya menjadi bagian dari agenda transisi energi bersih, tetapi juga memiliki peran strategis dalam perjalanan Indonesia menuju kedaulatan energi.
Komitmen tersebut terlihat dari kinerja operasional PGE yang telah dibangun selama lebih dari empat dekade. Sepanjang semester I-2026, produksi listrik PGE mencapai 2.745 gigawatt-hour (GWh), tumbuh 13,62 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY).
Perseroan juga mencatat availability factor sebesar 99,71 persen dan capacity factor sebesar 90,42 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa panas bumi mampu menjadi sumber listrik yang konsisten dan stabil untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
Namun, kontribusi panas bumi tidak berhenti pada produksi listrik. PGE juga mengembangkan berbagai pemanfaatan langsung yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
Di Ulubelu, Lampung, misalnya, PGE mengembangkan inovasi Melon Geothermal yang menggabungkan pemanfaatan panas bumi dengan transfer pengetahuan kepada petani lokal. Sementara di Lahendong, PGE bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada mengembangkan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi.
Inovasi tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan hasil panen, ketahanan tanaman, sekaligus menekan biaya pupuk bagi petani. Artinya, panas bumi tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga bisa ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Pendekatan serupa dilakukan di Karaha melalui program Eco Eduwisata Kampung Kopi. Program tersebut menghasilkan Pupuk COMBINE yang memanfaatkan brine panas bumi dan bahan organik lokal.
Sementara itu, di Kamojang, PGE bersama petani sejak 2018 mengembangkan Geothermal Dry House. Fasilitas ini memanfaatkan uap buangan dari steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif untuk mempercepat proses pengeringan kopi secara efisien dan ramah lingkungan.
Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan panas bumi dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Energi yang berasal dari dalam bumi tidak hanya menjadi sumber listrik bersih, tetapi juga dapat menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan produktivitas masyarakat.
Menuju 100 Tahun Perjalanan Panas Bumi Indonesia
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga terasa spesial bagi industri panas bumi nasional. Pasalnya, Indonesia akan memasuki satu abad perjalanan pengembangan dan pemanfaatan panas bumi.
Bagi PGE, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah ditempuh sekaligus menyiapkan langkah berikutnya. Selain menjaga keandalan pembangkit yang sudah beroperasi, PGE terus mengembangkan kapasitas terpasang agar semakin banyak energi bersih dan andal dapat tersedia bagi masyarakat.
Sejumlah proyek strategis yang tengah dikembangkan antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit di Sulawesi Utara, serta proyek Gunung Tiga di Lampung.
“Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, kami melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia,” kata Ahmad Yani.
Ia menegaskan PGE akan terus menjaga keandalan operasi, mempercepat pengembangan proyek, dan memperluas manfaat panas bumi. Dengan begitu, energi yang berasal dari bumi Indonesia dapat terus menjadi bagian dari kekuatan ekonomi dan pembangunan nasional.
“Inilah kontribusi kami untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” pungkas Ahmad Yani.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda