Gedung Bank Mandiri. Foto: Dokumen Bank Mandiri
Gedung Bank Mandiri. Foto: Dokumen Bank Mandiri

Kasus Bank Mandiri Melebar, dari Rekening Diblokir hingga Pegawai Disebut Sebut Nasabah “Kampungan”

Annisa ayu artanti • 28 Agustus 2026 18:56
Ringkasnya gini..
  • Kasus pemblokiran rekening hingga dugaan pegawai menyebut nasabah kampungan membuat trust publik terhadap Bank Mandiri disorot.
  • Rhenald Kasali mengingatkan pemblokiran satu rekening bisa memicu dampak lebih besar: hilangnya kepercayaan masyarakat.
Jakarta: Kepercayaan nasabah menjadi pertanyaan besar setelah Bank Mandiri terseret sejumlah polemik dalam beberapa hari terakhir. Mulai dari pemblokiran rekening milik koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok hingga seorang pegawai yang disebut mengeluarkan komentar “kampungan” kepada nasabah.



Persoalan pertama mencuat ketika rekening Bank Mandiri milik Botok tidak dapat digunakan menjelang rencana aksi masyarakat Pati di depan Gedung DPR RI pada Kamis, 27 Agustus 2026.



Rekening tersebut disebut digunakan untuk menampung donasi warga. Koordinator AMPB Teguh Istianto sebelumnya mengatakan saldo dalam rekening mencapai sekitar Rp80 juta ketika rekening tersebut tidak dapat digunakan.



Kasus itu kemudian mendapat perhatian publik, dari ajakan boikot hingga pertanyaan mengenai alasan pemblokiran rekening serta bagaimana bank mengambil keputusan dalam situasi tersebut.

Bank Mandiri Pastikan Rekening Botok Dibuka Kembali


Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Riduan menyampaikan penjelasan terkait polemik tersebut. Ia menegaskan Bank Mandiri tetap memegang kepercayaan nasabah dalam menjalankan kegiatan perbankan.



"Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih," kata Riduan dalam jumpa pers bersama Komisi III DPR RI dan Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri dikutip Jumat, 28 Agustus 2026.

 





 
Baca juga: KUR Bank Mandiri Tembus Rp25 Triliun, Puluhan Ribu UMKM Naik Kelas



Riduan kemudian memastikan Bank Mandiri akan menindaklanjuti arahan untuk mengaktifkan kembali rekening yang sebelumnya mengalami penundaan transaksi.



"Sebagai bank yang melayani nasabah dengan konsekuensi yang diatur di dalam peraturan, maka kami akan menindaklanjuti, Pak Direskrimum, apa yang tadi disampaikan untuk segera melakukan pengaktifan kembali rekening yang kemarin disampaikan untuk dilakukan penundaan transaksi," ucap Riduan.



Dengan demikian, polemik pemblokiran rekening tersebut berujung pada keputusan untuk membuka kembali akses rekening Botok.



Namun, persoalan Bank Mandiri tidak berhenti di sana.

Nasabah Kembali Soroti Pelayanan Bank Mandiri


Belum selesai isu pemblokiran rekening, Bank Mandiri kembali menjadi sorotan setelah seorang pegawainya disebut mengatakan “kampungan” kepada nasabah.



Kasus ini mencuat di media sosial Threads melalui utasan Syauqina Maghfirah. Ia mengaku kecewa setelah mengalami masalah pada kartu ATM sekaligus mendapatkan perlakuan yang menurutnya tidak menyenangkan dari pegawai bank.



"Olah habis kesel sama Bank Mandiri, bikin utas bukannya pegawai Bank Mandiri bantuin, malah ngatain kampungan. Thans lho @bankmandiri hari ini aku 2x kecewa, karenatm gak bisa dikases (walaupun mungkin memang kartuku yg rusak) dan pegawainya yang ngatain aku kampungan," tulisnya.



Identitas pegawai tersebut kemudian ditelusuri oleh netizen. Ia disebut bernama Larasanti Putri Mantika dengan akun Threads @rasantiputrim dan diketahui merupakan seorang Relationship Manager Bank Mandiri.



Dua persoalan yang muncul dalam waktu berdekatan ini membuat pembahasan publik bergeser dari sekadar kasus individual menjadi pertanyaan mengenai pengalaman dan kepercayaan nasabah terhadap bank.

Rhenald Kasali Ingatkan yang Hilang Bisa Bukan Cuma Satu Rekening


Akademisi sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali, turut menyoroti polemik yang menyeret Bank Mandiri. Rhenald mengatakan dirinya juga memiliki rekening di Bank Mandiri. Ia bahkan mengaku mendapat banyak pertanyaan setelah kasus pemblokiran rekening tersebut ramai diperbincangkan.



Menurut Rhenald, persoalan tersebut tidak seharusnya hanya dilihat sebagai masalah satu rekening. Ia mengingatkan bank perlu memiliki mekanisme pengawasan internal yang mampu melihat dampak lebih luas dari sebuah keputusan.



"Saya ingin mengingatkan kepada teman-teman muda di Bank Mandiri, kalian boleh cerdas, tapi kalau kalian tidak bijaksana, tidak membaca ini dengan tepat, tidak memiliki second line of defense dalam tata kelola yang kuat, maka kalian akan terumbang ambing. Alih-alih kehilangan satu rekening, memblokir satu rekening, maka kalian kehilangan sesuatu yang sangat besar," tutur Rhenald dalam media sosial yakni Instagramnya.



Rhenald juga mengingatkan aparat agar berhati-hati dalam mengambil tindakan karena keputusan terhadap satu pihak dapat menimbulkan efek yang lebih luas.



"Trust. Demikian juga saya ingin mengingatkan kepada para aparat, jangan sembarangan dalam bertindak," ujarnya.



Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari fenomena human disruptions, ketika tindakan manusia dalam satu sistem dapat memicu dampak besar dan sulit diprediksi.



"Ini era yang disebut sebagai human disruptions. Manusia terdisrupsi dan efeknya akan sangat besar. Sudah pernah terjadi sebelumnya," imbuhnya.
 

Belajar dari Kasus di Negara Lain


Untuk menjelaskan kekhawatirannya, Rhenald menyinggung sejumlah kasus di negara lain ketika pemblokiran rekening atau pembatasan aktivitas masyarakat berdampak pada tingkat kepercayaan terhadap institusi.



Di Kanada tahun 2022 contohnya, ketika pemerintah ingin menggunakan Emergency Act dengan memblokir sejumlah rekening. Akibatnya, rakyat tidak percaya pada perbankan. Lalu di Hong Kong, dia melanjutkan, ketika pemerintah ingin memblokir sejumlah rekening aktivis. Akibatnya uang nasabah pindah ke luar negeri.



Rhenald kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan Streisand Effect, yakni kondisi ketika upaya membatasi sebuah informasi justru membuat perhatian publik terhadap informasi tersebut semakin besar.



"Demikian pula di negara lain. Tidak ingat kita pada kasus Nepal. Ketika pemerintah memblokir sosial media. Apa yang terjadi? Efeknya sangat berat. Pemblokiran ini dalam era yang disebut human disruptions, disebut juga sebagai Streisand Effect. Ini berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh Barbra Streisand," katanya.



Ia menilai bank perlu memiliki lapisan pengawasan yang mampu menguji sebuah keputusan sebelum tindakan tersebut menimbulkan dampak yang lebih luas.



"Nah, hari ini rekening bank diblokir. Efeknya ternyata panjang. Kalau bank tidak mempunyai the second line of defense yang memadai, mereka tidak bertanya lagi apakah peraturannya tepat, apakah ketentuannya sah, kewenangannya sah, apakah sasarannya tepat, apakah tidak menimbulkan efek lain-lain yang juga berbahaya," jelasnya.



Pada akhirnya, Rhenald menilai hal paling penting dari persoalan tersebut adalah menjaga kepercayaan masyarakat.



"Jangan-jangan kalau kita tidak jalankan dengan baik, yang kehilangan itu adalah bukan satu rekening, tetapi trust," pungkasnya.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan