Jakarta: Transformasi barang mewah menjadi instrumen investasi berlikuiditas riil kian terlihat. Secara global, tren ini tercermin dari lelang Sotheby’s di Paris (2025) ketika tas Hermès Birkin peninggalan aktris Jane Birkin terjual seharga Rp163 miliar. Di Indonesia, tren konversi aset fesyen mewah menjadi dana tunai juga mencatat peningkatan seiring fluktuasi perputaran ekonomi saat ini.
Pemilik koleksi bernilai tinggi kerap memposisikan aset mereka sebagai sumber dana saat membutuhkan likuiditas. Namun, proses pencairan melalui sistem konsinyasi konvensional kerap memakan waktu hingga berbulan-bulan. Selain itu, faktor keamanan dalam membawa barang bernilai puluhan juta rupiah di tengah mobilitas perkotaan menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat urban.
Kondisi tersebut mendorong peralihan preferensi konsumen menuju layanan transaksi jual putus secara langsung, yang menawarkan pencairan dana instan.
Product Specialist ALLU, Taku Matsumoto, menuturkan bahwa fasilitas transaksi langsung kini menjadi salah satu metode likuiditas utama di pasaran. ALLU telah memiliki lebih dari 170 toko di seluruh dunia yang tersebar di 17 negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Hong Kong, Singapura, Thailand, dan Korea Selatan.
“Fluktuasi ekonomi mendorong munculnya layanan transaksi jual putus secara langsung sebagai alternatif pencairan dana yang berbeda dengan sistem konsinyasi,” jelas Taku dalam keterangan tertulis, Rabu, 22 Juli 2026.
| Baca juga: Bukan Sekadar Fesyen, 7 Tas Mewah Ini Cocok Jadi Investasi Jangka Panjang |
Untuk menentukan nilai wajar (fair value) di pasar global, proses pencairan menuntut standar akurasi ketat. Melalui bendera Valuence Holdings Inc. dan bermitra dengan PT Mastro Luxe Indonesia, ALLU mengadopsi skema transaksi langsung dengan melibatkan tenaga penaksir bersertifikasi internasional asal Jepang.
Proses pengecekan dan pencairan dana diproses dalam waktu 30 hingga 60 menit. Kriteria penerimaan aset meliputi tas, jam tangan, dan perhiasan bermerek Eropa, termasuk barang tanpa kotak, tanpa bukti pembelian, maupun kondisi fisik dengan lecet pemakaian. Layanan ini tercatat telah beroperasi di 17 titik gerai di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, Semarang, Makassar, dan Medan.
Sebagai adaptasi terhadap kendala waktu masyarakat urban, perusahaan juga mengoperasikan layanan personal service secara privat. Fasilitas ini memungkinkan proses verifikasi orisinalitas dilakukan di lokasi yang ditentukan pelanggan untuk mengakomodasi privasi.
Selain dari sisi finansial, aktivitas transaksi barang purnajual di sektor fesyen mewah turut berkontribusi pada kelestarian lingkungan. Perpanjangan usia pakai suatu barang berdampak langsung pada pengurangan jejak karbon di industri ritel.
“Siklus pemakaian produk fesyen yang lebih panjang menekan volume limbah industri pakaian global. Hal ini sekaligus memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa merawat dan memindahtangankan koleksi fesyen berkontribusi langsung pada penerapan ekonomi sirkular,” tutur Taku.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda